Embrio Drosophila berkembang selama tiga belas pembelahan inti pertamanya sebagai sebuah blastoderma sinsitium, yakni sebuah sel tunggal yang intinya berbagi satu sitoplasma, sehingga proteinnya membaur dengan bebas dari tempat ia dibuat. Empat landaian yang diletakkan sel induknya menetapkan sumbunya: mRNA bicoid ditambatkan pada kutub depannya dan proteinnya membaur ke belakang untuk membentuk sebuah landaian eksponensial dari kepala ke ekornya; mRNA nanos pada kutub belakangnya membuat landaian cerminnya; mRNA hunchback dan caudal seragam, tetapi protein Bicoid menekan penerjemahan caudal dan Nanos menekan hunchback, sehingga proteinnya membentuk landaian pula. Produk pengaruh induk ini, yang fenotipe mutannya bergantung pada genotipe induknya dan bukan embrionya, menyalakan gen senjang (hunchback, Krüppel, knirps, giant) dalam pita yang lebar, dengan masing-masing menanggapi sebuah jangkauan kepekatan Bicoid lalu menekan tetangganya; protein senjangnya, dalam gabungan, menyalakan gen aturan pasangan (even-skipped, fushi tarazu, hairy) dalam tujuh jalur masing-masing, berselang-seling; dan protein aturan pasangannya menyalakan gen kekutuban segmen (engrailed, wingless, hedgehog) dalam empat belas jalur, satu tiap segmennya, yang memancangkan depan dan belakang tiap segmennya lalu dipertahankan, sesudah selnya terbentuk, lewat pengisyaratan di antaranya. Tiga jam, empat tingkat, dari sebuah landaian tunggal menjadi empat belas segmen — dan nama mutannya mencatat penyaringannya: hunchback tidak punya toraks, Krüppel (“lumpuh”) bagian tengahnya, fushi tarazu (“segmennya tidak cukup”) tiap segmen berselang, hedgehog punya sehamparan bulu kejur.
Biologi · Glosarium