Prokariot memperoleh gen dari sel yang bukan induknya lewat tiga jalan. Transformasi: sebuah sel menyerap DNA telanjang dari sekelilingnya (yang dilepaskan sel yang mati) lalu merekombinasikannya ke dalam kromosomnya; sebagian spesies berkompeten secara alami, dan inilah jalan pneumokokus bertukar gen kapsul. Konjugasi: seorang pemberi yang mengusung plasmid konjugatif (faktor F E. coli) membangun sebuah pilus, menarik seorang penerima mendekat, lalu melewatkan satu untai tunggal plasmidnya melalui sebuah liang sembari mereplikasinya dengan lingkaran bergulir; kalau plasmidnya telah bersatu ke dalam kromosomnya (galur Hfr), gen kromosomnya dipindahkan berurutan di belakangnya, dan waktu masuknya masing-masing memetakan kromosomnya. Transduksi: sebuah bakteriofag secara keliru mengemas sekeping DNA inangnya lalu menyuntikkannya ke dalam sel berikutnya yang dijangkitinya. Bersama-sama jalan ini memindahkan gen kekebalan antarspesies di dalam rumah sakit dalam hitungan tahun, dan telah memindahkan gen metabolik menyeberangi seluruh pohon bakteri sepanjang waktu geologi, sehingga silsilah sebuah prokariot adalah sebuah jaring sama banyaknya dengan sebuah pohon (Bab 24).
Contoh
Contoh 3.8 (Kekebalan yang berpindah)
Sebuah gen kekebalan lazimnya muncul sekali saja, lewat mutasi atau dari bakteri tanah yang membuat antibiotiknya, lalu mengembara: dari sebuah kromosom ke sebuah transposon, dari transposon ke sebuah plasmid konjugatif, dari plasmid menyeberangi spesies lewat konjugasi dan menyeberangi galur lewat transduksi, lalu kembali ke sebuah kromosom lewat transformasi. Plasmid yang mengusung lima atau enam kekebalan sekaligus (yang dirakit di dalam integron, yang menangkap kaset gen) ditemukan di Jepang pada 1950-an, beberapa tahun sesudah obatnya mulai dipakai; gen karbapenemase NDM-1, yang pertama kali terlihat pada 2008, mencapai setiap benua dalam tiga tahun di atas sebuah plasmid. Evolusi kekebalan sebagian besar bukanlah evolusi gen baru melainkan perpindahan gen lama.