Sebuah penjajaran dua urutan menuliskan keduanya bersusun, dengan celah (–) yang disisipkan sehingga tiap lajurnya memasangkan satu residu dengan satu residu atau satu residu dengan sebuah celah, dan tak ada lajur yang memasangkan dua celah. Skornya adalah jumlah atas lajurnya berupa skor substitusi bagi tiap pasangan residu ditambah sebuah denda celah bagi tiap celah: denda linear tiap kedudukan celah, atau, secara lebih masuk akal, denda afin bagi deretan celah, dengan ongkos pembukaan lebih besar daripada ongkos perpanjangan , karena satu sisipan berisi beberapa residu merupakan satu peristiwa evolusi tunggal. Sebuah penjajaran global meliputi kedua urutannya dari ujung ke ujung; sebuah penjajaran lokal mencari pasangan subuntai berskor tertinggi lalu mengabaikan sisanya, dan itulah yang diinginkan ketika sebuah domain bersama duduk di dalam dua protein yang selebihnya tak berkerabat.
Contoh
Contoh 5.3 (Sebuah tabel empat kali tiga)
Jajarkan GAT dengan GCAT, dengan skor bagi kecocokan, bagi ketakcocokan, dan . Batasnya sepanjang atas dan sepanjang sisinya. Mengisi baris demi baris: , , , ; , , , ; , , , . Optimumnya , dan penelusuran baliknya — diagonal dari (T,T), diagonal dari (A,A), lalu ke kiri dari (G,C) ke (G,G), lalu diagonal — memberi
tiga kecocokan dan satu celah: .
Contoh 5.10 (Membaca sebuah nilai-E)
Sebuah kueri berisi residu terhadap pangkalan data berisi residu memiliki . Sebuah kecocokan berskor bit memiliki : pada dasarnya pasti homolog. Kecocokan dengan memiliki : sebelas skor semacam itu diharapkan muncul secara kebetulan, dan kecocokannya tak bermakna. Penjajaran yang sama, dengan skor bit yang sama, bila ditelusurkan pada pangkalan data sepuluh kali lebih besar, memiliki sepuluh kali lebih besar — kebermaknaan adalah sifat penelusurannya, bukan sifat pasangannya. Ambang yang lazim dipakai adalah bagi homolog yang meyakinkan; – pantas ditengok lagi dengan metode profil.