Biology · Buku 5 · Bachelor Year 3

Biologi Universitas — Tahun 3

Biologi Universitas — Tahun 3 · Bachelor Year 3

5Bioinformatika dan Analisis Urutan

Seorang ahli biologi yang baru saja mengurutkan sebuah gen dari cacing laut dalam menempelkan 300300 asam aminonya ke sebuah formulir daring dan, tiga detik kemudian, mengetahui bahwa proteinnya adalah sepupu jauh sebuah kinase manusia, dengan 31%31\,\% keidentikan sepanjang 280280 residu dan peluang 104010^{-40} bahwa kemiripan itu kebetulan. Di balik ketiga detik itu terdapat algoritma pemrograman dinamis dari tahun 1970, teori statistika penjajaran acak, matriks substitusi yang disaring dari ribuan famili protein, dan sebuah pangkalan data berisi sekitar seratus miliar residu. Bab ini membahas penalaran di dalam kotak itu: bagaimana dua urutan dijajarkan sehingga penjajarannya terbukti yang terbaik, bagaimana skornya dibuat bermakna, bagaimana kecocokan dibedakan dari kebetulan, dan bagaimana pola ditemukan di dalam genom yang belum pernah dilihat siapa pun. Matematikanya sederhana — sebuah rekurensi, sebuah logaritma, sebuah sebaran Poisson — dan layak diketahui, karena setiap kesimpulan yang ditarik dari perbandingan urutan bertumpu padanya.

5.1 Menjajarkan dua urutan

Definisi 5.1 (Penjajaran dan skor)

Sebuah penjajaran dua urutan menuliskan keduanya bersusun, dengan celah (–) yang disisipkan sehingga tiap lajurnya memasangkan satu residu dengan satu residu atau satu residu dengan sebuah celah, dan tak ada lajur yang memasangkan dua celah. Skornya adalah jumlah atas lajurnya berupa skor substitusi s(a,b)s(a,b) bagi tiap pasangan residu ditambah sebuah denda celah bagi tiap celah: denda linear d-d tiap kedudukan celah, atau, secara lebih masuk akal, denda afin d(k1)e-d - (k-1)e bagi deretan kk celah, dengan ongkos pembukaan dd lebih besar daripada ongkos perpanjangan ee, karena satu sisipan berisi beberapa residu merupakan satu peristiwa evolusi tunggal. Sebuah penjajaran global meliputi kedua urutannya dari ujung ke ujung; sebuah penjajaran lokal mencari pasangan subuntai berskor tertinggi lalu mengabaikan sisanya, dan itulah yang diinginkan ketika sebuah domain bersama duduk di dalam dua protein yang selebihnya tak berkerabat.

Teorema 5.2 (Needleman–Wunsch)

Misalkan x=x1xmx = x_{1}\dots x_{m} dan y=y1yny = y_{1}\dots y_{n}, dengan denda celah linear dd. Definisikan F(i,j)F(i,j) sebagai skor terbaik penjajaran global kedua awalan x1xix_{1}\dots x_{i} dan y1yjy_{1}\dots y_{j}. Maka F(i,0)=idF(i,0) = -id, F(0,j)=jdF(0,j) = -jd, dan untuk i,j1i,j \ge 1

F(i,j)=max{F(i1,j1)+s(xi,yj),  F(i1,j)d,  F(i,j1)d}.F(i,j) = \max\bigl\{\,F(i-1,j-1) + s(x_{i},y_{j}),\; F(i-1,j) - d,\; F(i,j-1) - d\,\bigr\}.

F(m,n)F(m,n) adalah skor global optimumnya, penjajaran optimumnya dipulihkan dengan menelusuri balik dari (m,n)(m,n) pilihan yang menghasilkan tiap maksimumnya, dan seluruh perhitungannya memakan mnmn langkah. Varian Smith–Waterman bagi penjajaran lokal menambahkan 00 sebagai pilihan keempat di dalam maksimumnya, menetapkan batasnya menjadi 00, lalu membaca jawabannya pada entri terbesar tabelnya.

Bukti. Tinjaulah lajur terakhir penjajaran mana pun atas kedua awalan itu. Lajur itu salah satu dari tiga hal: xix_{i} di atas yjy_{j}, xix_{i} di atas sebuah celah, atau sebuah celah di atas yjy_{j}. Membuangnya meninggalkan penjajaran (x1xi1,y1yj1)(x_{1}\dots x_{i-1}, y_{1}\dots y_{j-1}), atau (x1xi1,y1yj)(x_{1}\dots x_{i-1}, y_{1}\dots y_{j}), atau (x1xi,y1yj1)(x_{1}\dots x_{i}, y_{1}\dots y_{j-1}), yang skornya paling banyak sebesar FF pasangan itu; dan sebaliknya tiap penjajaran optimum tersebut dapat diperpanjang dengan lajur terakhir yang bersesuaian. Jadi skor terbaik yang berakhir pada tiap macam lajur adalah FF pasangan yang lebih pendek ditambah skor lajurnya, dan optimumnya adalah yang terbesar di antara ketiganya. Batasnya terpaksa demikian (hanya celah yang mungkin berhadapan dengan awalan kosong). Induksi atas i+ji + j mengisi tabelnya; cacah selnya (m+1)(n+1)(m+1)(n+1). Bagi penjajaran lokal, pilihan tambahan 00 berarti “mulailah penjajaran baru di sini”, yang menjadikan F(i,j)F(i,j) skor terbaik penjajaran yang berakhir di (i,j)(i,j), dan penjajaran lokal terbaik berakhir di suatu tempat.

Contoh 5.3 (Sebuah tabel empat kali tiga)

Jajarkan GAT dengan GCAT, dengan skor +1+1 bagi kecocokan, 1-1 bagi ketakcocokan, dan d=1d = 1. Batasnya 0,1,2,3,40, -1, -2, -3, -4 sepanjang atas dan 0,1,2,30, -1, -2, -3 sepanjang sisinya. Mengisi baris demi baris: F(G,G)=1F(\text{G},\text{G}) = 1, F(G,C)=0F(\text{G},\text{C}) = 0, F(G,A)=1F(\text{G},\text{A}) = -1, F(G,T)=2F(\text{G},\text{T}) = -2; F(A,G)=0F(\text{A},\text{G}) = 0, F(A,C)=0F(\text{A},\text{C}) = 0, F(A,A)=1F(\text{A},\text{A}) = 1, F(A,T)=0F(\text{A},\text{T}) = 0; F(T,G)=1F(\text{T},\text{G}) = -1, F(T,C)=1F(\text{T},\text{C}) = -1, F(T,A)=0F(\text{T},\text{A}) = 0, F(T,T)=2F(\text{T},\text{T}) = 2. Optimumnya 22, dan penelusuran baliknya — diagonal dari (T,T), diagonal dari (A,A), lalu ke kiri dari (G,C) ke (G,G), lalu diagonal — memberi

G-ATGCAT\begin{array}{c} \texttt{G-AT}\\ \texttt{GCAT} \end{array}

tiga kecocokan dan satu celah: 31=23 - 1 = 2.

Tabel Needleman–Wunsch bagi GAT terhadap GCAT (kecocokan +1, ketakcocokan -1, celah -1). Tiap selnya adalah skor terbaik bagi kedua awalan yang berakhir di situ; lintasan merah yang ditelusuri balik dari sudutnya adalah penjajaran optimumnya.
Tabel Needleman–Wunsch bagi GAT terhadap GCAT (kecocokan +1+1, ketakcocokan 1-1, celah 1-1). Tiap selnya adalah skor terbaik bagi kedua awalan yang berakhir di situ; lintasan merah yang ditelusuri balik dari sudutnya adalah penjajaran optimumnya.

Metode 5.4 (Menjajarkan dua urutan)

(1) Pilihlah skornya: sebuah matriks substitusi yang cocok dengan penyimpangan yang diharapkan (BLOSUM62 bagi protein yang jaraknya tak diketahui; kecocokan/ketakcocokan bagi DNA), dan denda celah afin (lazimnya buka 11-11, perpanjang 1-1 dengan BLOSUM62). (2) Putuskanlah global atau lokal: global bagi dua urutan yang diyakini homolog sepanjang seluruhnya, lokal bagi selainnya. (3) Isilah tabelnya dengan rekurensinya, sambil menyimpan bagi tiap sel sebuah penunjuk ke pilihan yang memberi maksimumnya. (4) Telusurilah balik dari (m,n)(m,n) (global) atau dari sel maksimumnya sampai sebuah nol (lokal), sambil menuliskan penjajarannya dari kanan ke kiri. (5) Nilailah hasilnya bukan dari skor mentahnya melainkan dari kebermaknaan statistiknya (di bawah), dan lihatlah hasilnya: celah yang panjang, deretan berkerumitan rendah, dan penjajaran yang terkurung di dalam sebuah ulangan adalah tanda bahaya.

5.2 Pemberian skor: berapa nilai sebuah kecocokan

Definisi 5.5 (Matriks substitusi)

Sebuah matriks substitusi memberi s(a,b)s(a,b) bagi tiap pasangan asam amino sebagai skor log-ods:

s(a,b)=1λlogqabpapb,s(a,b) = \frac{1}{\lambda}\,\log\frac{q_{ab}}{p_{a}\,p_{b}},

dengan qabq_{ab} frekuensi ditemukannya aa dan bb terjajar di dalam penjajaran protein berkerabat yang tepercaya, papbp_{a} p_{b} frekuensi terpasangkannya keduanya secara kebetulan, dan λ\lambda sebuah skala yang dipilih agar entrinya menjadi bilangan bulat yang praktis. Skor positif berarti pasangannya lebih sering muncul pada homolog daripada secara kebetulan; skor keidentikannya terbesar bagi asam amino yang langka (triptofan +11+11, sisteina +9+9 pada BLOSUM62) dan terkecil bagi yang lazim (leusina +4+4, alanina +4+4), dan substitusi konservatif (isoleusina–valina +3+3) berskor positif sedangkan yang radikal (triptofan–glisina 2-2) berskor negatif. Matriks PAM (Dayhoff, 1978) diturunkan dari protein yang berkerabat dekat lalu diekstrapolasi ke jarak yang lebih jauh dengan perkalian matriks; matriks BLOSUM (Henikoff dan Henikoff, 1992) dicacah langsung di dalam blok urutan terjajar yang dikelompokkan pada keidentikan tertentu — BLOSUM62 dari blok pada 62%62\,\% — dan menjadi bakunya karena matriks itu diukur, bukan diekstrapolasi, pada jarak tempat ia dipakai.

Proposisi 5.6 (Mengapa log-ods)

Agar sebuah skema pemberian skor dapat dipakai pada penjajaran lokal, harapan skor sebuah lajur yang terpasangkan secara acak, a,bpapbs(a,b)\sum_{a,b} p_{a} p_{b}\, s(a,b), harus negatif, dan sebagian skornya harus positif; kalau tidak, penjajaran acak akan tumbuh tanpa batas dan segmen berskor tertinggi akan menjadi seluruh urutannya. Dengan syarat itu, skema semacam apa pun setara dengan skema log-ods bagi suatu frekuensi sasaran qabq_{ab}penjajaran yang akan ditemukannya sebagai optimum adalah penjajaran yang pasangan residunya tersebar seperti qabq_{ab}. Memilih matriksnya karena itu berarti memilih penyimpangan yang hendak dideteksi: matriks bagi kerabat dekat (BLOSUM80, PAM30) berpositif lebih tajam dan bernegatif lebih keras, matriks bagi kerabat jauh (BLOSUM45, PAM250) lebih rata.

Bukti. Diterima tanpa bukti pada tingkat ini.

Contoh 5.7 (Keidentikan, kemiripan, dan zona remang)

Dua urutan protein acak yang dijajarkan secara optimum dengan celah mencapai sekitar 15 sampai 20%15\text{ sampai }20\,\% keidentikan secara kebetulan. Di atas 35%35\,\% keidentikan sepanjang seratus residu, dua protein hampir pasti homolog; antara 20%20\,\% dan 35%35\,\% terletak zona remang, tempat keidentikan sendirian tak dapat memutuskan dan statistika di bawah harus memutuskannya. Homolog dapat jatuh jauh di bawah zona itu: subunit hemoglobin dan mioglobin berbagi 25%25\,\% keidentikan, lisozim dan α\alpha-laktalbumin 40%40\,\%, dan banyak pasangan protein berlipatan sama berbagi kurang dari 15%15\,\%, yang hanya terdeteksi dengan membandingkan profil atau struktur.

5.3 Menelusuri pangkalan data

Definisi 5.8 (BLAST)

Menjajarkan sebuah kueri berisi 300300 residu terhadap pangkalan data berisi 101110^{11} residu dengan pemrograman dinamis penuh akan memakan 3×10133\times 10^{13} pembaruan sel tiap penelusuran. BLAST (Altschul dan rekan, 1990) menukar sedikit kepekaan demi kecepatan seribu kali lipat lewat tiga langkah: (1) daftarkanlah kata kuerinya (tiga residu bagi protein, sebelas basa bagi DNA) beserta tetangganya yang berskor tinggi; (2) pindailah pangkalan datanya untuk mencari kecocokan kata yang persis — benih; (3) perpanjanglah tiap benih ke kedua arah tanpa celah sampai skornya turun sejumlah tertentu di bawah skor terbaiknya, sambil menyimpan pasangan segmen berskor tinggi (HSP), lalu sambungkanlah HSP yang berdekatan dengan pemrograman dinamis bercelah di dalam sebuah pita sempit. Homolog yang sungguhan hampir selalu memuat sedikitnya satu kata tiga residu yang persis sama; kemiripan kebetulan jarang memuatnya, dan tak pernah diperpanjang.

Heuristik BLAST. Kata pendek yang persis sama dan dimiliki kueri maupun entri pangkalan data (merah) adalah benih; masing-masing diperpanjang sepanjang diagonalnya selama skornya terus naik, dan hanya perpanjangan yang tetap tinggi yang menjadi pasangan segmen berskor tinggi.
Heuristik BLAST. Kata pendek yang persis sama dan dimiliki kueri maupun entri pangkalan data (merah) adalah benih; masing-masing diperpanjang sepanjang diagonalnya selama skornya terus naik, dan hanya perpanjangan yang tetap tinggi yang menjadi pasangan segmen berskor tinggi.

Teorema 5.9 (Statistika sebuah kecocokan kebetulan)

Bagi sebuah kueri sepanjang mm yang ditelusurkan pada pangkalan data sepanjang nn seluruhnya, dengan skema pemberian skor yang harapan skornya negatif, cacah penjajaran lokal tanpa celah yang berskor sedikitnya SS dan timbul secara kebetulan tersebar Poisson dengan rata-rata

E=KmneλS,E = K\,m\,n\,e^{-\lambda S},

dengan λ\lambda dan KK hanya bergantung pada skema pemberian skor dan frekuensi residunya (λ\lambda adalah skala matriks log-odsnya). EE adalah nilai harapan skor SS. Dengan menuliskan skornya dalam bit, S=(λSlnK)/ln2S' = (\lambda S - \ln K)/\ln 2, rumusnya menjadi E=mn2SE = m n\, 2^{-S'}, dan peluang bahwa sedikitnya satu penjajaran kebetulan mencapai SS adalah P=1eEP = 1 - e^{-E}, yang sama dengan EE ketika EE kecil.

Bukti sebagian. Ekor eksponensialnya adalah teorema Karlin–Altschul dan diterima tanpa bukti: skor segmen maksimal sebuah jalan acak berhanyutan negatif memiliki sebaran yang ekornya meluruh sebagai eλSe^{-\lambda S}, dengan λ\lambda akar positif a,bpapbeλs(a,b)=1\sum_{a,b} p_{a} p_{b} e^{\lambda s(a,b)} = 1 — yang justru persamaan yang membuat matriks log-odsnya taat asas. Dengan ekor itu, sisanya tinggal menghitung. Segmen berskor tinggi dapat mulai pada salah satu dari mnmn pasangan kedudukan, segmen itu langka, dan hampir saling bebas; cacah segmen yang melampaui SS karena itu bersebaran Poisson dengan rata-rata sebanding dengan mnmn dan dengan peluang ekornya, E=KmneλSE = Kmn\,e^{-\lambda S}. Peluang tak satu pun adalah eEe^{-E}. Penggantian skor bitnya sekadar aljabar: eλSK=2(λSlnK)/ln2e^{-\lambda S} K = 2^{-(\lambda S - \ln K)/\ln 2}. Bagi penjajaran bercelah, bentuk yang sama berlaku dengan λ\lambda dan KK ditaksir lewat simulasi.

Contoh 5.10 (Membaca sebuah nilai-E)

Sebuah kueri berisi 250250 residu terhadap pangkalan data berisi 5×10105\times 10^{10} residu memiliki mn=1.25×1013243.5mn = 1.25\times 10^{13} \approx 2^{43.5}. Sebuah kecocokan berskor bit 6060 memiliki E=243.560=216.5105E = 2^{43.5 - 60} = 2^{-16.5} \approx 10^{-5}: pada dasarnya pasti homolog. Kecocokan dengan S=40S' = 40 memiliki E=23.511E = 2^{3.5} \approx 11: sebelas skor semacam itu diharapkan muncul secara kebetulan, dan kecocokannya tak bermakna. Penjajaran yang sama, dengan skor bit yang sama, bila ditelusurkan pada pangkalan data sepuluh kali lebih besar, memiliki EE sepuluh kali lebih besar — kebermaknaan adalah sifat penelusurannya, bukan sifat pasangannya. Ambang yang lazim dipakai adalah E<103E < 10^{-3} bagi homolog yang meyakinkan; E0.01E \approx 0.0111 pantas ditengok lagi dengan metode profil.

E = mn\,2-S': tiap bit tambahan memparuhkan harapan cacah kecocokan kebetulan, dan pangkalan data sepuluh kali lebih besar memakan biaya 3.3 bit kebermaknaan bagi penjajaran yang sama.
E=mn2SE = mn\,2^{-S'}: tiap bit tambahan memparuhkan harapan cacah kecocokan kebetulan, dan pangkalan data sepuluh kali lebih besar memakan biaya 3.33.3 bit kebermaknaan bagi penjajaran yang sama.

5.4 Profil, keadaan tersembunyi, dan motif

Definisi 5.11 (Penjajaran berganda dan profil)

Sebuah penjajaran urutan berganda menata sebuah famili urutan menjadi lajur residu yang homolog. Pemrograman dinamis yang eksak atas kk urutan berbiaya nkn^{k} dan mustahil di atas tiga urutan; program yang praktis menjajarkan secara berangsur, mula-mula pasangan terdekat menurut pohon pemandu, lalu urutan dan kelompok dijajarkan pada penjajaran yang sedang tumbuh, dengan beberapa putaran penghalusan. Penjajaran yang rampung diringkaskan sebagai sebuah profil: bagi tiap lajur, frekuensi tiap residu dan frekuensi celahnya. Sebuah model Markov tersembunyi berprofil memformalkan hal itu sebagai rantai keadaan cocok, satu keadaan tiap lajur yang lestari, yang masing-masing memancarkan residu dengan peluangnya sendiri, dengan keadaan sisip dan keadaan hapus yang membolehkan residu tambahan atau residu yang hilang pada tiap kedudukan; model sebuah famili (sebuah entri Pfam) memberi skor pada urutan baru lewat peluang lintasan terbaiknya melalui keadaannya, dan menemukan homolog jauh di bawah zona remang perbandingan berpasangan, karena sebuah lajur yang hanya mentoleransi residu hidrofob mengatakannya, sedangkan satu urutan tunggal tidak.

Sebuah model Markov tersembunyi berprofil bagi famili berlajur empat. Tiap keadaan cocok M memancarkan sebuah residu dengan frekuensi lajurnya sendiri; keadaan sisip I (dengan gelung sendiri) membolehkan residu tambahan, keadaan hapus D melewati satu lajur. Memberi skor sebuah urutan berarti mencari lintasannya yang paling mungkin.
Sebuah model Markov tersembunyi berprofil bagi famili berlajur empat. Tiap keadaan cocok M memancarkan sebuah residu dengan frekuensi lajurnya sendiri; keadaan sisip I (dengan gelung sendiri) membolehkan residu tambahan, keadaan hapus D melewati satu lajur. Memberi skor sebuah urutan berarti mencari lintasannya yang paling mungkin.

Definisi 5.12 (Motif dan kandungan informasi)

Sebuah motif adalah pola pendek — sebuah tapak faktor transkripsi, sebuah isyarat sambung, sebuah tapak fosforilasi — yang diwakili sebuah matriks bobot posisi berisi frekuensi fi(b)f_{i}(b) tiap basa atau residu bb pada tiap kedudukan ii. Kandungan informasi kedudukan ii adalah Ri=2HiR_{i} = 2 - H_{i} bit bagi DNA, dengan Hi=bfi(b)log2fi(b)H_{i} = -\sum_{b} f_{i}(b)\log_{2} f_{i}(b) entropinya: 22 bit bagi basa yang tetap, 00 bagi kedudukan yang keempat basanya sama mungkin. Totalnya R=iRiR = \sum_{i} R_{i} digambarkan sebagai logo urutan, tiap kedudukan berupa tumpukan huruf yang tinggi totalnya RiR_{i} dan hurufnya diukur menurut frekuensinya.

Proposisi 5.13 (Berapa informasi yang dibutuhkan sebuah tapak)

Sebuah tapak yang harus ditemukan γ\gamma kali di dalam genom berisi GG kedudukan, dan tak di tempat lain, menuntut kira-kira Rperlu=log2(G/γ)R_{\text{perlu}} = \log_{2}(G/\gamma) bit kandungan informasi: motifnya harus menciutkan GG kedudukan calon menjadi γ\gamma kedudukan yang sungguhan, dan tiap bit memparuhkan calonnya. Motif teramati milik pengatur bakteri yang telah dikaji baik cocok dengan ramalan ini — tapak E. coli bagi sebuah penekan yang mengikat beberapa lusin tempat di dalam genom 4.6Mb4.6\,\mathrm{Mb} mengusung 16 sampai 1816\text{ sampai }18 bit; motif faktor transkripsi eukariot, pada 8 sampai 128\text{ sampai }12 bit di dalam genom 3×1093\times 10^{9}, tak dapat menentukan sasarannya sendirian, dan itulah sebabnya faktor itu bekerja dalam gabungan dan di dalam kromatin terbuka Bab 1.

Bukti. Sebuah kedudukan acak cocok dengan motif berkandungan informasi RR dengan peluang kira-kira 2R2^{-R} (tiap bit kekhasan memparuhkan peluangnya), sehingga harapan cacah kecocokan kebetulan pada GG kedudukan adalah G2RG\,2^{-R}. Agar tapak yang sungguhan menonjol, cacah itu harus berorde γ\gamma atau kurang: G2RγG\,2^{-R} \le \gamma, yakni Rlog2(G/γ)R \ge \log_{2}(G/\gamma).

Contoh 5.14 (Harapan cacah kecocokan kebetulan)

Sebuah tapak restriksi berbasa tetap enam memiliki R=12R = 12 bit dan cocok dengan kedudukan acak dengan peluang 46=2124^{-6} = 2^{-12}: kira-kira 11001100 kali di dalam genom E. coli 4.6Mb4.6\,\mathrm{Mb} yang dibaca pada kedua untainya (tapaknya palindromik, jadi sekali tiap kedudukan), dan 7×1057\times 10^{5} kali di dalam genom manusia. Sebuah faktor eukariot yang motifnya mengusung 1010 bit cocok dengan 3×109×21033\times 10^{9}\times 2^{-10} \approx 3 juta kedudukan di dalam genom manusia, beberapa ribu kali lebih banyak daripada gen yang diaturnya. Sebuah motif sendirian adalah peramal yang lemah di dalam genom yang besar; keadaan kromatinnya, motif tetangganya, dan kelestarian tapaknya antarspesies itulah yang membuat sebuah ramalan.

Sebuah logo urutan bagi motif promotor mirip kotak TATA. Tinggi tiap tumpukannya adalah kandungan informasi kedudukan itu, 2 - H_i bit; keempat kedudukan pertamanya nyaris tetap dan mengusung sebagian besar dari kira-kira 12 bit motifnya.
Sebuah logo urutan bagi motif promotor mirip kotak TATA. Tinggi tiap tumpukannya adalah kandungan informasi kedudukan itu, 2Hi2 - H_{i} bit; keempat kedudukan pertamanya nyaris tetap dan mengusung sebagian besar dari kira-kira 1212 bit motifnya.

5.5 Dari urutan ke fungsi

Metode 5.15 (Menganotasi protein yang tak dikenal)

Diberikan sebuah urutan penyandi yang baru: (1) translasikanlah pada kerangka yang benar lalu periksalah adanya peptida isyarat, segmen lintas membran, dan daerah berkerumitan rendah; (2) telusurilah pangkalan data protein dengan BLAST lalu bacalah kecocokan dengan E<103E < 10^{-3}, sambil mencatat apakah penjajarannya meliputi seluruh proteinnya (sebuah ortolog yang sungguhan) atau hanya sebuah segmen (sebuah domain bersama); (3) telusurilah pangkalan data domain dengan HMM profil, yang menemukan famili yang terlewat BLAST lalu memilah proteinnya menjadi domain; (4) simpulkanlah ortologi, bukan sekadar kemiripan, dengan memeriksa apakah kecocokan terbaik pada genom yang lain berbalik memiliki kuerinya sebagai kecocokan terbaik miliknya (kecocokan terbaik timbal balik) atau dengan menempatkan proteinnya pada sebuah pohon gen (Bab 25); (5) pindahkanlah fungsi ortolognya dengan hati-hati — residu katalitik yang lestari mendukung kimia yang lestari, residu yang hilang melemahkannya — lalu ramalkanlah strukturnya; (6) perlakukanlah tiap ramalan sebagai hipotesis bagi meja kerja.

Proposisi 5.16 (Struktur dari urutan)

Lipatan sebuah protein ditentukan oleh urutannya (Bab 7), dan menghitungnya dari urutannya selama lima puluh tahun menjadi masalah utama bidang ini yang belum terpecahkan. Tiga pendekatan berhasil berturut-turut. Pemodelan homologi membangun struktur sebuah protein di atas struktur homolog yang telah terpecahkan, dengan andal di atas 30%30\,\% keidentikan. Analisis koevolusi memanfaatkan kenyataan bahwa dua residu yang bersentuhan di dalam lipatannya cenderung bermutasi bersama di sepanjang penjajaran berganda yang dalam, sehingga pasangan lajur yang terkopel secara statistik menjadi sentuhan yang diramalkan, dan sentuhan yang cukup banyak menentukan sebuah lipatan. Metode pembelajaran dalam yang dilatih pada seratus ribu struktur yang telah terpecahkan dan pada penjajaran semacam itu kini meramalkan sebagian besar struktur protein globular dengan kesaksamaan nyaris setara percobaan (penilaian CASP tahun 2020), dan pangkalan data menyimpan struktur ramalan bagi hampir setiap urutan protein yang dikenal. Yang kurang baik diramalkannya adalah apa yang tak tertangkap satu struktur tunggal: daerah tak teratur, konformasi alternatif, pengaruh sebuah mutasi titik, dan kompleks.

Kiri: sebuah struktur protein ramalan, yang diwarnai menurut keyakinan modelnya dari tinggi (biru) sampai rendah (jingga) pada sebuah lengkung tak teratur. Kanan: sebuah kantor bioinformatika — peramban genom dan pohon di layarnya, dan tanpa satu pun meja basah. Kiri: sebuah struktur protein ramalan, yang diwarnai menurut keyakinan modelnya dari tinggi (biru) sampai rendah (jingga) pada sebuah lengkung tak teratur. Kanan: sebuah kantor bioinformatika — peramban genom dan pohon di layarnya, dan tanpa satu pun meja basah.
Kiri: sebuah struktur protein ramalan, yang diwarnai menurut keyakinan modelnya dari tinggi (biru) sampai rendah (jingga) pada sebuah lengkung tak teratur. Kanan: sebuah kantor bioinformatika — peramban genom dan pohon di layarnya, dan tanpa satu pun meja basah.

Catatan 5.17 (Batas penyimpulan)

Sebagian besar anotasi fungsi di dalam pangkalan data tak pernah diuji; semuanya dipindahkan dari sebuah homolog, yang sendirinya dianotasi lewat pemindahan. Galatnya merambat dan berlipat ganda, dan anotasi yang keliru pada protein yang banyak kaitannya dapat menulari satu famili utuh. Penawarnya adalah penawar di atas: bedakanlah ortologi dari homologi, bacalah penjajarannya, carilah residu katalitiknya, dan ingatlah bahwa “protein hipotetis” adalah label jujur yang masih pantas disandang sepertiga gen di dalam sebagian besar genom.

5.6 Latihan

Latihan 5.1

Definisikanlah penjajaran global dan penjajaran lokal lalu berikanlah satu keadaan biologis yang menuntut masing-masing.

Solusi

Solusi Latihan 5.1.

Global: kedua urutannya dijajarkan dari ujung ke ujung, tiap residu berada di dalam sebuah lajur — bagi dua protein yang diyakini homolog sepanjang seluruhnya, misalnya ortolog sebuah enzim rumah tangga. Lokal: pasangan subuntai berskor terbaik, sisanya diabaikan — bagi pencarian domain bersama (sebuah domain SH2 pada dua protein pengisyarat yang selebihnya tak berkerabat), atau sebuah gen di dalam urutan genom yang panjang.

Latihan 5.2

Isilah tabel Needleman–Wunsch bagi AGC terhadap AAC dengan kecocokan +1+1, ketakcocokan 1-1, celah 1-1, lalu berikan penjajaran dan skor optimumnya.

Solusi

Solusi Latihan 5.2.

Batasnya 0,1,2,30,-1,-2,-3 pada kedua arah. Baris A: 1,0,11, 0, -1. Baris G: 0,0,10, 0, -1. Baris C: 1,1,1-1, -1, 1. Optimumnya F(3,3)=1F(3,3) = 1: AGC di atas AAC tanpa celah (cocok, tak cocok, cocok: 11+1=11 - 1 + 1 = 1).

Latihan 5.3

Pada BLOSUM62, triptofan–triptofan berskor +11+11 dan leusina–leusina +4+4. Jelaskanlah dari rumus log-ods mengapa keidentikan residu yang lebih langka bernilai lebih tinggi.

Solusi

Solusi Latihan 5.3.

s(a,a)=λ1log(qaa/pa2)s(a,a) = \lambda^{-1}\log\bigl(q_{aa}/p_{a}^{2}\bigr). Triptofan itu langka (pW0.013p_{W} \approx 0.013), sehingga peluang dua triptofan terjajar secara acak, pW2p_{W}^{2}, sangat kecil, dan pasangan triptofan yang lestari menjadi tanda homologi yang jauh lebih kuat daripada pasangan leusina yang lestari (pL0.1p_{L} \approx 0.1); nisbah log-odsnya pun sebanding lebih besar.

Latihan 5.4

Apa itu nilai-E? Sebuah penelusuran memberi kecocokan dengan E=3E = 3. Apa arti angka itu, dan apakah kecocokannya sebuah homolog?

Solusi

Solusi Latihan 5.4.

Nilai-E adalah cacah penjajaran berskor sedikitnya setinggi itu yang akan diharapkan muncul secara kebetulan pada penelusuran kueri ini terhadap pangkalan data seukuran ini. E=3E = 3 berarti tiga skor semacam itu diharapkan muncul secara kebetulan: kecocokannya bukan bukti homologi (boleh jadi ia memang homolog, tetapi penelusurannya tak dapat memutuskan).

Latihan 5.5 ★★

Sebuah kueri berisi 400400 residu ditelusurkan pada 2×10112\times 10^{11} residu. Hitunglah nilai-E kecocokan dengan skor bit 4545, 5555, dan 6565. Skor bit berapa yang memberi E=103E = 10^{-3}? Bagaimana jawabannya berubah bila kuerinya sepanjang 4040 residu?

Solusi

Solusi Latihan 5.5.

mn=400×2×1011=8×1013=246.2mn = 400\times 2\times 10^{11} = 8\times 10^{13} = 2^{46.2}. E(45)=21.22.3E(45) = 2^{1.2} \approx 2.3; E(55)=28.82×103E(55) = 2^{-8.8} \approx 2\times 10^{-3}; E(65)=218.82×106E(65) = 2^{-18.8} \approx 2\times 10^{-6}. E=103E = 10^{-3} menuntut S=46.2+10.0=56S' = 46.2 + 10.0 = 56 bit. Kueri berisi 4040 residu memiliki mnmn sepuluh kali lebih kecil, 242.92^{42.9}: 5353 bit memadai — tetapi kueri pendek jarang mencapai bahkan angka itu.

Latihan 5.6 ★★

Hitunglah kandungan informasi sebuah motif yang keempat kedudukannya berfrekuensi basa (A, C, G, T) sebesar (1,0,0,0)(1,0,0,0), (0.5,0,0.5,0)(0.5,0,0.5,0), (0.25,0.25,0.25,0.25)(0.25,0.25,0.25,0.25), dan (0.7,0.1,0.1,0.1)(0.7,0.1,0.1,0.1). Berapa kecocokan kebetulan yang dimilikinya di dalam genom 4.6Mb4.6\,\mathrm{Mb}?

Solusi

Solusi Latihan 5.6.

Kandungan informasinya: 22, 11, 00, dan 2H2 - H dengan H=(0.7log20.7+3×0.1log20.1)=0.36+1.00=1.36H = -(0.7\log_{2} 0.7 + 3\times 0.1\log_{2} 0.1) = 0.36 + 1.00 = 1.36, jadi 0.640.64. Totalnya R=3.64R = 3.64 bit. Kecocokan kebetulannya: 9.2×1069.2\times 10^{6} kedudukan pada dua untai ×23.647×105\times 2^{-3.64} \approx 7\times 10^{5}motifnya nyaris tak berguna sendirian.

Latihan 5.7 ★★

Jelaskanlah mengapa denda celah afin lebih masuk akal daripada denda linear, dan mengapa denda pembukaan celah yang sangat tinggi maupun yang sangat rendah sama-sama memberi penjajaran yang buruk.

Solusi

Solusi Latihan 5.7.

Sebuah sisipan berisi beberapa residu merupakan satu peristiwa mutasi, sehingga ongkosnya tak semestinya tumbuh lurus dengan panjangnya: ongkos pembukaan ditambah ongkos perpanjangan yang kecil memodelkan hal itu. Denda pembukaan yang terlalu tinggi memaksa ketakcocokan di tempat sebuah celah semestinya berada lalu salah menjajarkan segala sesuatu sesudah sebuah sisipan yang sungguhan; denda yang terlalu rendah menaburkan celah di mana-mana, memasangkan residu secara kebetulan dan menggelembungkan keidentikannya.

Latihan 5.8 ★★

Sebuah penelusuran BLAST atas sebuah protein manusia pada pangkalan data lalat memberi kecocokan terbaik dengan E=1030E = 10^{-30} yang meliputi residu 50–180 kuerinya yang berisi 600600 residu. Apakah protein lalat itu ortolog protein manusia tersebut? Uji lanjutan apa yang akan Anda kerjakan?

Solusi

Solusi Latihan 5.8.

Belum tentu: penjajarannya meliputi segmen berisi 130130 residu, yang merupakan ciri khas domain bersama, bukan ciri ortolog yang terjajar sepanjang seluruhnya. Ujinya: telusurkanlah protein lalatnya kembali pada proteom manusia (apakah kuerinya menjadi kecocokan terbaiknya, sepanjang seluruhnya?), kenalilah domainnya dengan HMM profil, lalu bangunlah sebuah pohon gen famili itu pada beberapa spesies.

Latihan 5.9 ★★

Mengapa metode profil mendeteksi homolog yang terlewat penjajaran berpasangan? Berikanlah sebuah contoh pola lajur yang tertangkap profil tetapi tak tertangkap satu urutan tunggal.

Solusi

Solusi Latihan 5.9.

Sebuah profil mencatat, lajur demi lajur, apa yang ditoleransi familinya: sebuah kedudukan yang selalu hidrofob tetapi tak pernah residu yang sama, sebuah residu katalitik yang tetap, sebuah kedudukan yang selalu berupa celah pada separuh familinya. Penjajaran berpasangan memberi skor tiap residu terhadap satu residu lain saja dan tak dapat mengetahui bahwa sebuah valina pada kedudukan 40 “sama baiknya dengan” isoleusina yang ada di situ pada kuerinya. Profilnya juga membobot lajur yang lestari, sehingga kemiripan lemah yang terpusat di tempat familinya lestari menjadi bermakna.

Latihan 5.10 ★★★

Tunjukkanlah bahwa di bawah skema pemberian skor yang harapan skornya positif, penjajaran lokal Smith–Waterman dua urutan acak yang panjang memiliki skor yang tumbuh lurus dengan panjangnya, lalu jelaskan mengapa hal itu membuat teori nilai-E gagal. Apa yang tersirat dari hal itu bagi penjajaran DNA dengan kecocokan +1+1 dan ketakcocokan 1-1 pada kandungan GC 60%60\,\%?

Solusi

Solusi Latihan 5.10.

Dengan harapan skor μ>0\mu > 0 tiap lajur, skor kumulatif sepanjang diagonal dua urutan acak merupakan jalan acak berhanyutan positif: sesudah nn lajur skornya kira-kira μn\mu n, sehingga penjajaran lokal terbaiknya pada dasarnya seluruhnya dan skornya tumbuh sebagai μn\mu n, bukan sebagai logn\log n. Teori Karlin–Altschul, yang menuntut hanyutan negatif agar skor tinggi menjadi penyimpangan yang langka, tak berlaku dan tak ada λ\lambda yang ada. Bagi DNA pada 60%60\,\% GC, peluang sebuah kecocokan adalah 2(0.32)+2(0.22)=0.262(0.3^{2}) + 2(0.2^{2}) = 0.26, sehingga harapan skornya 0.260.74=0.480.26 - 0.74 = -0.48: masih negatif, dan statistikanya berlaku; tetapi skema semacam kecocokan +1+1, ketakcocokan 0.3-0.3 akan berharapan +0.04+0.04 dan akan melaporkan seluruh genomnya sebagai satu penjajaran.

Latihan 5.11 ★★★

Tabel Needleman–Wunsch menuntut mnmn sel ingatan; bagi dua kromosom 100Mb100\,\mathrm{Mb} jumlahnya 101610^{16}. Uraikanlah dua gagasan yang dipakai penjajar genom untuk menghindarinya (benih dan perangkaian; pemitaan), dan apa yang dikorbankan masing-masing.

Solusi

Solusi Latihan 5.11.

Benih dan perangkaian: carilah kecocokan kk-mer yang persis atau hampir persis antara kedua urutannya dengan tabel hash, simpanlah yang berbaris pada diagonal yang taat asas, rangkaikanlah, lalu jalankanlah pemrograman dinamis hanya pada celah di antara benih yang terangkai; cara itu mengorbankan penjajaran di daerah yang tanpa benih (bentangan yang sangat menyimpang). Pemitaan: bila kedua urutannya diketahui nyaris segaris, hitunglah hanya sel di dalam pita selebar ww di sekitar diagonalnya, dengan biaya wnwn alih-alih mnmn; cara itu mengorbankan penjajaran mana pun yang sisipannya lebih besar daripada pitanya.

Latihan 5.12 ★★★

Sebuah HMM pencari gen bagi bakteri memiliki keadaan bagi ketiga kedudukan kodonnya dan bagi DNA tak penyandi. Jelaskanlah bagaimana modelnya dapat membedakan urutan penyandi dari yang tak penyandi tanpa keterangan kodon henti sama sekali (tinjaulah pemakaian kodonnya), dan mengapa pendekatan yang sama jauh lebih sukar pada genom manusia.

Solusi

Solusi Latihan 5.12.

Urutan penyandi berperiode tiga: ketiga kedudukan kodonnya memiliki komposisi basa yang berbeda (kedudukan ketiganya paling bias), dan pemakaian kodonnya tak merata pada tiap spesies. Sebuah model dengan tiga keadaan penyandi yang berurutan, yang masing-masing memancarkan basa dengan komposisi kedudukan kodon itu, memberi DNA penyandi peluang yang lebih tinggi daripada yang diberikan keadaan tak penyandi, sepanjang jendela beberapa lusin kodon, bahkan tanpa kodon henti. Di dalam genom manusia eksonnya pendek (150bp150\,\mathrm{bp}), terpisah oleh intron sepanjang kilobasa, sehingga isyarat penyandinya singkat dan terputus; modelnya harus pula mengenali tapak sambung, yang isyaratnya lemah, dan urutan tak penyandi yang begitu banyak menghasilkan banyak segmen penyandi palsu.

5.7 Soal: Sebuah Urutan dari Laut Dalam

Soal 5.1

Soal akhir pekan — sebuah protein tak dikenal yang dijajarkan dengan tangan, ditelusurkan pada pangkalan data lalu dihitung kebermaknaannya, motif pengaturnya ditimbang dalam bit, dan gennya diperiksa terhadap statistika kerangka baca terbuka acak, berakhir pada nilai-E kecocokan terbaiknya, bit yang dibutuhkan sebuah tapak, dan panjang yang harus dimiliki sebuah kerangka baca agar dipercaya

Data: sebuah protein berisi 300300 residu dari anelida laut dalam. Pangkalan data protein: 1.2×10111.2\times 10^{11} residu. Genom cacingnya: 1.6Gb1.6\,\mathrm{Gb}, 38%38\,\% GC. Pemberian skor bagi penjajaran dengan tangan: kecocokan +1+1, ketakcocokan 1-1, celah 1-1. Skor bit kecocokan BLAST terbaiknya: 9292; kecocokan kesepuluhnya: 3838.

Bagian I — Dengan tangan.

  1. Jajarkanlah peptida KQT dan KAQT dengan rekurensi Needleman–Wunsch: tulislah tabelnya lalu berikan penjajaran dan skor optimumnya.
  2. Ulangilah dengan Smith–Waterman (lokal) bagi GATCAT terhadap ACAT: carilah penjajaran lokal terbaiknya dan skornya.
  3. Berapa pembaruan sel yang dibutuhkan penjajaran global protein berisi 300300 residu itu terhadap protein berisi 450450 residu? Terhadap seluruh pangkalan datanya?
  4. Bila sebuah komputer melakukan 10910^{9} pembaruan tiap detik, berapa lama penjajaran pangkalan data penuh pertanyaan 3 memakan waktu? Mengapa BLAST dipakai sebagai gantinya?
  5. Skor keidentikan BLOSUM62 adalah +4+4 bagi alanina (pA=0.074p_{A} = 0.074) dan +11+11 bagi triptofan (pW=0.013p_{W} = 0.013). Dengan λ=0.347\lambda = 0.347 (satuan setengah bit), hitunglah frekuensi sasaran qAAq_{AA} dan qWWq_{WW}, serta nisbah q/p2q/p^{2} bagi masing-masing. Tafsirkanlah.
  6. Dua protein berbagi 24%24\,\% keidentikan sepanjang 250250 residu. Katakanlah mengapa keidentikan sendirian tak dapat memutuskan homologi di sini dan apa yang dapat memutuskannya.

Bagian II — Penelusurannya.

  1. Hitunglah mnmn bagi kuerinya terhadap pangkalan datanya, dan log2(mn)\log_{2}(mn).
  2. Hitunglah nilai-E kecocokan terbaiknya (S=92S' = 92) dan kecocokan kesepuluhnya (S=38S' = 38).
  3. Skor bit berapa yang bersesuaian dengan E=103E = 10^{-3} bagi penelusuran ini? Dengan E=1E = 1?
  4. Kecocokan terbaik yang sama ditemukan ketika pangkalan datanya telah tumbuh menjadi 1.2×10121.2\times 10^{12} residu. Berapa nilai-E-nya?
  5. Kecocokan kesepuluhnya menjajarkan residu 200–260 kuerinya dengan keidentikan 40%40\,\% sepanjang 6060 residu. Dengan nilai-E-nya, katakanlah apakah hal itu menjadi bukti homologi, dan apa yang dapat ditambahkan penelusuran profil.
  6. Kecocokan terbaiknya adalah sebuah kinase manusia, yang terjajar sepanjang residu 10–290. Kecocokan terbaiknya di dalam proteom cacing itu adalah kuerinya. Apa yang ditegakkan uji timbal balik ini, dan apa yang tidak?

Bagian III — Sebuah motif.

  1. Di hulu gennya terletak sebuah calon tapak faktor transkripsi berkedudukan delapan dengan kandungan informasi 2,2,1.6,2,0.8,1.2,0.4,0.32, 2, 1.6, 2, 0.8, 1.2, 0.4, 0.3 bit. Berapa RR totalnya?
  2. Berapa kecocokan kebetulan yang dimiliki motif itu di dalam genom 1.6Gb1.6\,\mathrm{Gb} (kedua untainya, 3.2×1093.2\times 10^{9} kedudukan)?
  3. Faktornya mengatur sekitar 200200 gen. Berapa bit yang dibutuhkan sebuah motif untuk menentukan 200200 tapak sendirian di dalam genom ini?
  4. Berapa banyak kekurangannya yang dapat dipasok sebuah motif kedua yang bersebelahan dan berisi 88 bit, bila keduanya harus muncul bersama di dalam jarak yang tetap?
  5. Sebuah kedudukan berfrekuensi (0.5,0.5,0,0)(0.5, 0.5, 0, 0) bagi (A, C, G, T): hitunglah entropinya dan kandungan informasinya.
  6. Jelaskanlah, dengan argumen informasi itu, mengapa faktor transkripsi bakteri lazimnya memiliki tapak yang lebih panjang dan lebih lestari daripada faktor eukariot.

Bagian IV — Gennya sendiri.

  1. Di dalam DNA acak yang komposisi basanya seragam, berapa peluang sebuah kodon menjadi kodon henti? Berapa harapan cacah kodon sebelum sebuah kodon henti muncul (sebaran geometrik)?
  2. Genom cacingnya 38%38\,\% GC. Hitunglah ulang peluang bahwa sebuah kodon acak adalah kodon henti (TAA, TAG, TGA) dengan frekuensi basa yang sesungguhnya, dan harapan panjang kerangka bacanya. Ke arah mana kandungan GC yang rendah mendorong pencarian gen?
  3. Berapa peluang bahwa sebuah kerangka baca terbuka acak sedikitnya sepanjang 100100 kodon? Sedikitnya 300300?
  4. Di dalam genom 1.6Gb1.6\,\mathrm{Gb} itu, enam kerangka pada dua untai memberi sekitar 3.2×1093.2\times 10^{9} awalan kodon. Berapa kerangka baca terbuka acak sepanjang sedikitnya 100100 kodon yang diharapkan? Berapa yang sedikitnya 300300?
  5. Jelaskanlah mengapa “kerangka baca terbuka yang lebih panjang daripada 100100 kodon” menjadi pencari gen yang berguna pada sebuah bakteri tetapi tidak pada genom ini, dan apa yang dipakai pencari gen eukariot sebagai gantinya.
  6. Gen cacing itu memiliki enam ekson yang rata-rata 150bp150\,\mathrm{bp}. Jelaskanlah bagaimana bacaan pengurutan RNA menguraikan struktur eksonnya yang ditinggalkan taksa oleh urutan genom saja.
  7. Ringkaskanlah: nilai-E kecocokan terbaiknya (pertanyaan 8), bit yang dibutuhkan untuk menentukan 200200 tapak (pertanyaan 15), dan harapan cacah kerangka baca acak sepanjang 300300 kodon di dalam genomnya (pertanyaan 22).
Solusi

Solusi Soal 5.1.

1. Baris K, Q, T; lajur K, A, Q, T; batasnya 0,1,2,3,40,-1,-2,-3,-4 dan 0,1,2,30,-1,-2,-3. Baris K: 1,0,1,21, 0, -1, -2; baris Q: 0,0,1,00, 0, 1, 0; baris T: 1,1,0,2-1, -1, 0, 2. Optimumnya 22: K-QT di atas KAQT. 2. Skor lokal terbaiknya 33: CAT terhadap CAT (residu 4–6 GATCAT dengan 2–4 ACAT); ATCAT terhadap A-CAT pun berskor 41=34 - 1 = 3. 3. 300×450=1.35×105300\times 450 = 1.35\times 10^{5} pembaruan; terhadap pangkalan datanya 300×1.2×1011=3.6×1013300\times 1.2\times 10^{11} = 3.6\times 10^{13}. 4. 3.6×1043.6\times 10^{4} s, sepuluh jam tiap kueri; benih BLAST melompati hampir seluruh tabelnya dan menjawab dalam hitungan detik. 5. qab=papbeλsq_{ab} = p_{a}p_{b}e^{\lambda s}. Alanina: e1.39=4.0e^{1.39} = 4.0, qAA=0.0742×4.0=0.022q_{AA} = 0.074^{2}\times 4.0 = 0.022, nisbahnya 44. Triptofan: e3.82=45e^{3.82} = 45, qWW=0.0132×45=0.0077q_{WW} = 0.013^{2}\times 45 = 0.0077, nisbahnya 4545. Sepasang triptofan yang terjajar 4545 kali lebih sering pada homolog daripada secara kebetulan, sepasang alanina hanya empat kali; namun pasangan alanina lebih banyak secara mutlak karena alanina memang lazim. 6. 24%24\,\% terletak di zona remang, tempat penjajaran acak mencapai 15 sampai 20%15\text{ sampai }20\,\%; nilai-E penjajarannya, motif lestari pada kedudukan yang tepat, kecocokan HMM profil dengan famili yang dikenal, atau lipatan bersama akan memutuskannya. 7. mn=300×1.2×1011=3.6×1013mn = 300\times 1.2\times 10^{11} = 3.6\times 10^{13}; log2(mn)=45.0\log_{2}(mn) = 45.0. 8. E(92)=24592=2477×1015E(92) = 2^{45 - 92} = 2^{-47} \approx 7\times 10^{-15}; E(38)=27=128E(38) = 2^{7} = 128. 9. E=103E = 10^{-3} pada S=45+10=55S' = 45 + 10 = 55 bit; E=1E = 1 pada 4545 bit. 10. Sepuluh kali mnmn: E7×1014E \approx 7\times 10^{-14}, masih sangat meyakinkan. 11. Dengan E=128E = 128, kecocokan kesepuluhnya adalah apa yang dihasilkan kebetulan; keidentikan 40%40\,\% sepanjang 6060 residu bukan bukti. Penelusuran profil atas residu 200–260 pada pangkalan data domain dapat memperlihatkan apakah segmen itu sebuah domain yang dikenal, dengan statistika yang tak dimiliki perbandingan berpasangan. 12. Kecocokan terbaik timbal balik sepanjang seluruhnya selaras dengan ortologi satu lawan satu; keduanya tidak membuktikannya — sebuah penggandaan pada satu garis keturunan sesudah perpisahannya memberi dua koortolog, dan hilangnya ortolog yang sungguhan dapat meninggalkan sebuah paralog sebagai kecocokan terbaiknya. Sebuah pohon gen dengan beberapa spesies adalah ujinya. 13. R=2+2+1.6+2+0.8+1.2+0.4+0.3=10.3R = 2 + 2 + 1.6 + 2 + 0.8 + 1.2 + 0.4 + 0.3 = 10.3 bit. 14. 3.2×109×210.32.5×1063.2\times 10^{9}\times 2^{-10.3} \approx 2.5\times 10^{6} kecocokan kebetulan. 15. log2(3.2×109/200)=log2(1.6×107)24\log_{2}(3.2\times 10^{9}/200) = \log_{2}(1.6\times 10^{7}) \approx 24 bit. 16. Kemunculan bersama pada jarak tetap menambahkan bitnya: 10.3+8=18.310.3 + 8 = 18.3, yang memasok 88 dari 13.713.7 bit yang hilang; kira-kira 5.75.7 bit (faktor 5050 pada kecocokan kebetulan) harus datang dari tempat lain — keterjangkauan kromatin, mitra yang lain. 17. H=(0.5log20.5+0.5log20.5)=1H = -(0.5\log_{2}0.5 + 0.5\log_{2}0.5) = 1 bit; R=21=1R = 2 - 1 = 1 bit. 18. Sebuah faktor bakteri harus menemukan tapaknya yang sedikit di dalam genom 4.6Mb4.6\,\mathrm{Mb} tanpa bantuan kromatin: ia menuntut sekitar 1919 bit, dan tapaknya panjang serta lestari. Genom eukariot seribu kali lebih besar, sehingga menuntut sepuluh bit lagi, namun faktornya bertapak pendek; kekhasannya dicapai lewat gabungan dan lewat pembatasan pada kromatin yang terjangkau, yang juga membuat pengaturannya lebih mudah berevolusi, karena tapak pendek mudah diperoleh atau hilang. 19. 3/64=0.0473/64 = 0.047; harapan cacah kodon sebelum sebuah kodon henti adalah 64/32164/3 \approx 21. 20. pA=pT=0.31p_{A} = p_{T} = 0.31, pG=pC=0.19p_{G} = p_{C} = 0.19: P(TAA)=0.313=0.030P(\text{TAA}) = 0.31^{3} = 0.030, P(TAG)=P(TGA)=0.312×0.19=0.018P(\text{TAG}) = P(\text{TGA}) = 0.31^{2}\times 0.19 = 0.018; totalnya 0.0660.066, harapan panjang kerangkanya 1515 kodon. DNA yang kaya AT penuh kodon henti, sehingga kerangka terbuka acak lebih pendek dan kerangka yang panjang lebih menonjol. 21. (61/64)100=e4.80=0.008(61/64)^{100} = e^{-4.80} = 0.008; (61/64)300=e14.4=5.6×107(61/64)^{300} = e^{-14.4} = 5.6\times 10^{-7}. 22. Tiap kerangka terbuka maksimal berakhir pada sebuah kodon henti, dan 3.2×1093.2\times 10^{9} awalan kodon memuat 3.2×109×3/64=1.5×1083.2\times 10^{9}\times 3/64 = 1.5\times 10^{8} kodon henti: kira-kira 1.5×108×0.008=1.2×1061.5\times 10^{8}\times 0.008 = 1.2\times 10^{6} kerangka acak sepanjang sedikitnya 100100 kodon, dan 1.5×108×5.6×107801.5\times 10^{8}\times 5.6\times 10^{-7} \approx 80 yang sedikitnya 300300. 23. Sebuah bakteri 4.6Mb4.6\,\mathrm{Mb} memiliki sekitar 4×1054\times 10^{5} kodon henti dan karenanya sekitar 35003500 kerangka kebetulan sepanjang 100100 kodon tetapi nyaris tak satu pun sepanjang 300300; gennya rata-rata 300300 kodon dan 88%88\,\% DNA-nya penyandi, sehingga kerangka terbuka yang panjang hampir selalu sebuah gen. Pada cacing itu, 1.5%1.5\,\% DNA-nya menyandi, eksonnya rata-rata 5050 kodon — lebih pendek daripada ambang kebetulannya — dan sejuta kerangka acak sepanjang 100100 kodon menenggelamkannya. Pencari gen eukariot memakai isyarat tapak sambung, bias kodon di dalam model Markov tersembunyi, homologi dengan protein yang dikenal dan, di atas segalanya, transkrip yang telah diurutkan. 24. Sebuah bacaan dari RNA duta yang tersambung terjajar pada genomnya menjadi dua keping yang dipisahkan sebuah intron: belahannya menandai kedua tapak sambungnya sampai ke basanya; cakupan bacaannya membatasi eksonnya dan bacaan berpasangan menghubungkan ekson berurutan menjadi satu transkrip, sehingga terurai tapak sambung calon mana yang terpakai. 25. E7×1015E \approx 7\times 10^{-15} bagi kecocokan terbaiknya; sekitar 2424 bit untuk menentukan 200200 tapak di dalam genomnya; sekitar 8080 kerangka baca kebetulan sepanjang 300300 kodon di dalam seluruh genomnya.

Istilah yang didefinisikan dalam bab ini

Lihat semua 479 istilah di glosarium