Mathematics · Buku 5 · Bachelor Year 3

Matematika Universitas — Tahun 3

Matematika Universitas — Tahun 3 · Bachelor Year 3

20Submanifold ℝn

Bola, torus, grup rotasi: habitat alami geometri dan mekanika bukanlah ruang vektor melainkan himpunan melengkung yang tampak datar bila didekati. Bab ini memberi kalimat itu makna yang persis — yakni submanifold Rn\R^n — beserta kalkulus untuk bekerja padanya. Landasannya adalah teorema fungsi invers, yang di sini dibuktikan lewat titik tetap Banach; sedangkan selebihnya adalah penggantian koordinat: yakni keempat pemerian submanifold yang setara (pelurusan lokal, himpunan aras, grafik, parametrisasi), ruang singgung, dan pengoptimalan terkendala lewat pengali Lagrange — yang, sebagai peragaan perpisahan, membuktikan kembali teorema spektral bagi matriks setangkup dalam tiga baris geometri. Sedangkan soal akhir pekannya membangun grup rotasi SO(3)SO(3) beserta selimut ganda kuaternioniknya: yakni aljabar (Q8Q_8 Bab 1 yang telah dewasa) yang berjumpa geometri.

20.1 Teorema fungsi invers

Teorema 20.1 (Teorema fungsi invers)

Misalkan URnU \subseteq \R^n terbuka, f ⁣:URnf \colon U \to \R^n berkelas C1\mathcal C^1, dan aUa \in U dengan Df(a)Df(a) yang terbalikkan. Maka ada himpunan terbuka VaV \ni a dan Wf(a)W \ni f(a) sedemikian sehingga f ⁣:VWf \colon V \to W merupakan bijeksi dengan balikan C1\mathcal C^1, dan

D(f1)(y)=(Df(f1(y)))1(yW).D(f^{-1})(y) = \bigl(Df(f^{-1}(y))\bigr)^{-1} \qquad (y \in W).

Dan jika ff bersifat Ck\mathcal C^k, maka demikian pula f1f^{-1}.

Bukti. Normalkanlah: dengan mengganti ff oleh xDf(a)1(f(a+x)f(a))x \mapsto Df(a)^{-1}\bigl(f(a + x) - f(a)\bigr), kita boleh mengandaikan a=0a = 0, f(0)=0f(0) = 0, dan Df(0)=IDf(0) = I (sebab pernyataan umumnya menyusul lewat pengomposisian dengan bijeksi afinnya). Tulislah f(x)=x+g(x)f(x) = x + g(x): maka Dg(0)=0Dg(0) = 0, dan lewat kekontinuan DgDg pilihlah r>0r > 0 dengan Dg(x)12\vertiii{Dg(x)} \leq \frac12 pada Bˉ(0,r)\bar B(0, r); sehingga ketaksamaan nilai rata-ratanya memberikan g(x)g(x)12xx\norm{g(x) - g(x')} \leq \frac12 \norm{x - x'} di sana.

Kebijektifannya ke sebuah persekitaran. Untuk yB(0,r2)y \in B(0, \frac r2), menyelesaikan f(x)=yf(x) = y berarti mencari titik tetap Φy(x)=yg(x)\Phi_y(x) = y - g(x); sedangkan Φy\Phi_y memetakan Bˉ(0,r)\bar B(0, r) ke dirinya (sebab Φy(x)y+12xr\norm{\Phi_y(x)} \leq \norm y + \frac12\norm x \leq r) dan bersifat Lipschitz-12\frac12: sehingga Banach (Teorema 7.4) memberikan satu-satunya solusi x=φ(y)Bˉ(0,r)x = \varphi(y) \in \bar B(0,r). Lebih lanjut ff bersifat injektif pada Bˉ(0,r)\bar B(0,r):

f(x)f(x)xxg(x)g(x)12xx.()\norm{f(x) - f(x')} \geq \norm{x - x'} - \norm{g(x) - g(x')} \geq \tfrac12\norm{x - x'} . \tag{$*$}

Lalu tetapkan W=B(0,r2)W = B(0, \frac r2) dan V=f1(W)B(0,r)V = f^{-1}(W)\cap B(0, r): yang terbuka (lewat kekontinuannya), dengan f ⁣:VWf \colon V \to W yang bijektif.

Kekontinuan dan keterturunan balikannya. Ketaksamaan ()(*) mengatakan bahwa φ=f1\varphi = f^{-1} bersifat Lipschitz-22. Tetapkan y0=f(x0)Wy_0 = f(x_0) \in W; lalu keterbalikan A=Df(x0)A = Df(x_0) (sebab jaraknya ke II adalah 12\leq \frac12: menurut Neumann, Proposisi 8.4) dan keterturunan ff memberikan, untuk y=f(x)y = f(x) di dekat y0y_0:

φ(y)φ(y0)A1(yy0)=A1(f(x)f(x0)A(xx0))=A1o(xx0)=o(yy0),\varphi(y) - \varphi(y_0) - A^{-1}(y - y_0) = -A^{-1}\bigl(f(x) - f(x_0) - A(x - x_0)\bigr) = -A^{-1}\,o(\norm{x - x_0}) = o(\norm{y - y_0}),

dengan memakai ()(*) untuk mengubah xx02yy0\norm{x - x_0} \leq 2\norm{y - y_0}: sehingga φ\varphi dapat diturunkan di y0y_0 dengan diferensial balikannya. Sedangkan kekontinuan yDφ(y)=Df(φ(y))1y \mapsto D\varphi(y) = Df(\varphi(y))^{-1}: lewat komposisi pemetaan kontinu (sebab pembalikannya kontinu, Proposisi 8.4): jadi φC1\varphi \in \mathcal C^1; dan mengangkat rumus yang sama memberikan Ck\mathcal C^k.

Teorema 20.2 (Teorema fungsi implisit)

Misalkan F ⁣:URp×RqRqF \colon U \subseteq \R^p\times\R^q \to \R^q bersifat C1\mathcal C^1 di dekat (a,b)(a, b), F(a,b)=0F(a,b) = 0, dan andaikan diferensial parsial DyF(a,b)L(Rq)D_yF(a,b) \in \mathcal L(\R^q) bersifat terbalikkan. Maka ada persekitaran AaA \ni a dan BbB \ni b beserta sebuah pemetaan C1\mathcal C^1 ψ ⁣:AB\psi \colon A \to B dengan

{(x,y)A×B:F(x,y)=0}={(x,ψ(x)):xA},\bigl\{(x, y)\in A\times B : F(x,y) = 0\bigr\} = \{(x, \psi(x)) : x \in A\},

dan Dψ(x)=DyF(x,ψ(x))1DxF(x,ψ(x))D\psi(x) = -D_yF(x, \psi(x))^{-1}\,D_xF(x, \psi(x)).

Bukti. Terapkan Teorema 20.1 pada Θ(x,y)=(x,F(x,y))\Theta(x, y) = (x, F(x,y)): sebab diferensialnya di (a,b)(a,b), yang segitiga blok dengan blok diagonal II dan DyFD_yF yang terbalikkan, bersifat terbalikkan. Lalu balikan lokalnya berbentuk Θ1(x,z)=(x,h(x,z))\Theta^{-1}(x, z) = (x, h(x, z)); lalu tetapkan ψ(x)=h(x,0)\psi(x) = h(x, 0): maka F(x,y)=0F(x, y) = 0 jika dan hanya jika Θ(x,y)=(x,0)\Theta(x,y) = (x, 0) jika dan hanya jika y=ψ(x)y = \psi(x), secara lokal. Sedangkan rumusnya: turunkanlah F(x,ψ(x))=0F(x, \psi(x)) = 0 lewat aturan rantainya.

20.2 Submanifold: empat definisi

Teorema 20.3 (Pencirian yang setara)

Misalkan MRnM \subseteq \R^n, d{0,,n}d \in \{0, \dots, n\}, dan k1k \geq 1. Pernyataan berikut setara, untuk setiap titik aMa \in M (dan MM disebut submanifold berdimensi dd berkelas Ck\mathcal C^k jika keduanya berlaku di setiap aMa \in M):

  1. (Pelurusan) Ada sebuah difeomorfisma Ck\mathcal C^k Φ\Phi dari sebuah Ωa\Omega \ni a yang terbuka ke sebuah ΩRn\Omega' \subseteq \R^n yang terbuka dengan

    Φ(MΩ)=Ω(Rd×{0}).\Phi(M\cap\Omega) = \Omega' \cap \bigl(\R^d\times\{0\}\bigr).
  2. (Himpunan aras) Ada sebuah submersi Ck\mathcal C^k F ⁣:ΩRndF \colon \Omega \to \R^{n-d} (yakni DF(x)DF(x) yang surjektif) pada sebuah Ωa\Omega \ni a yang terbuka dengan MΩ=F1(0)M\cap\Omega = F^{-1}(0).
  3. (Grafik) Sampai permutasi koordinatnya, MM secara lokal merupakan grafik sebuah pemetaan Ck\mathcal C^k ψ ⁣:ARdRnd\psi \colon A \subseteq \R^d \to \R^{n-d}.
  4. (Parametrisasi) Ada sebuah imersi Ck\mathcal C^k φ ⁣:ARdRn\varphi \colon A \subseteq \R^d \to \R^n (dengan Dφ(u)D\varphi(u) yang injektif) dan AA yang terbuka, sedemikian sehingga φ\varphi merupakan homeomorfisma dari AA ke MΩM \cap \Omega untuk suatu Ωa\Omega \ni a yang terbuka.

Bukti. (1)\Rightarrow(2): ambillah F=(Φd+1,,Φn)F = (\Phi_{d+1}, \dots, \Phi_n) (yakni koordinat terakhir Φ\Phi): sebuah submersi (sebab DΦD\Phi terbalikkan). (2)\Rightarrow(3): karena DF(a)DF(a) surjektif, suatu minor q×qq \times q Jacobinya bersifat terbalikkan (dengan q=ndq = n - d); lalu setelah koordinatnya dipermutasikan, DyF(a)D_yF(a) terbalikkan, dan teorema fungsi implisitnya (Teorema 20.2) menyatakan MM secara lokal sebagai grafik y=ψ(x)y = \psi(x). (3)\Rightarrow(4): ambillah φ(x)=(x,ψ(x))\varphi(x) = (x, \psi(x)): yakni sebuah imersi (sebab diferensialnya (IDψ)\bigl(\begin{smallmatrix}I\\ D\psi\end{smallmatrix}\bigr) injektif), sekaligus homeomorfisma ke grafiknya (dengan balikannya: proyeksinya, yang kontinu). (4)\Rightarrow(1): misalkan φ(u0)=a\varphi(u_0) = a; lalu lengkapkanlah imDφ(u0)\operatorname{im}D\varphi(u_0) oleh sebuah pelengkap EE (dengan dimE=nd\dim E = n - d) lalu definisikan Θ(u,v)=φ(u)+v\Theta(u, v) = \varphi(u) + v pada A×EA\times E: maka DΘ(u0,0)D\Theta(u_0, 0) bersifat bijektif (sebab petanya memuat imDφ(u0)\operatorname{im}D\varphi(u_0) dan EE), sehingga Θ\Theta merupakan difeomorfisma lokal (Teorema 20.1); dan balikannya Φ\Phi meluruskan: sebab di dekat aa, titik MM tepat berupa φ(u)=Θ(u,0)\varphi(u) = \Theta(u, 0) — dan untuk ini, hipotesis homeomorfisma pada (4) menjamin bahwa MΩM\cap\Omega, untuk Ω\Omega yang kecil, tak memuat lembar lain (sebab φ(u)+v=mM\varphi(u') + v = m \in M yang dekat dengan aa dengan v0v \neq 0 yang kecil harus dikecualikan: karena m=φ(u)m = \varphi(u'') untuk suatu uu'' di dekat u0u_0 menurut sifat homeomorfismanya, dan keinjektifan lokal Θ\Theta memaksa v=0v = 0). Lalu Φ(MΩ)=(A×{0})Φ(Ω)\Phi(M\cap\Omega) = (A\times\{0\}) \cap\Phi(\Omega) sampai penyusutannya.

Contoh 20.4

Bola Sn1={x2=1}S^{n-1} = \{\norm x^2 = 1\}: yakni himpunan aras submersi F(x)=x221F(x) = \norm x_2^2 - 1 pada Rn{0}\R^n\setminus\{0\} (sebab DF(x)=2xT0DF(x) = 2x^{\mathsf T} \ne 0): jadi submanifold C\mathcal C^\infty berdimensi n1n - 1. Sedangkan torus di R3\R^3: yakni himpunan aras (x2+y2R)2+z2r2\bigl(\sqrt{x^2 + y^2} - R\bigr)^2 + z^2 - r^2 (dengan 0<r<R0 < r < R). Sementara kerucut {x2+y2=z2}\{x^2 + y^2 = z^2\} bukan submanifold di 00 (Latihan 20.1). Untuk grup matriksnya: SLnSL_n dan OnO_n merupakan submanifold Mn(R)M_n(\R) (Latihan 20.5 dan 20.6) — yakni titik awal teori Lie.

20.3 Ruang singgung

Definisi 20.5

Misalkan MM sebuah submanifold-dd dan aMa \in M. Adapun ruang singgung TaMT_aM adalah himpunan vektor kecepatan γ(0)\gamma'(0) milik kurva C1\mathcal C^1 γ ⁣:(ε,ε)M\gamma \colon \intoo{-\varepsilon}\varepsilon \to M dengan γ(0)=a\gamma(0) = a.

Proposisi 20.6

Ruang TaMT_aM merupakan subruang berdimensi dd dari Rn\R^n, dan:

  1. jika M=F1(0)M = F^{-1}(0) secara lokal dengan FF sebuah submersi: maka TaM=kerDF(a)T_aM = \ker DF(a);
  2. jika MM terparametrikan oleh imersi φ\varphi (dengan φ(u0)=a\varphi(u_0) = a): maka TaM=imDφ(u0)T_aM = \operatorname{im}D\varphi(u_0).

Bukti. Kurva di MM memenuhi F(γ(t))=0F(\gamma(t)) = 0; sehingga aturan rantai di 00 memberikan DF(a)γ(0)=0DF(a)\gamma'(0) = 0: jadi TaMkerDF(a)T_aM \subseteq \ker DF(a). Sebaliknya, pelurusannya (Teorema 20.3(1)) mengangkut garis Rd×{0}\R^d\times\{0\} menjadi kurva MM: sehingga setiap vektor sebuah subruang berdimensi dd terwujud; lalu membandingkan dimensinya (sebab dimkerDF(a)=n(nd)=d\dim\ker DF(a) = n - (n - d) = d) memaksa kesamaannya pada (1), dan argumen pengangkutan yang sama memberikan (2) (yakni Dφ(u0)D\varphi(u_0) yang diterapkan pada garis lurus di AA; lewat dimensinya lagi).

Teorema 20.7 (Pengali Lagrange)

Misalkan M=F1(0)M = F^{-1}(0) dengan F=(F1,,Fq) ⁣:ΩRqF = (F_1, \dots, F_q) \colon \Omega \to \R^q sebuah submersi C1\mathcal C^1, dan misalkan f ⁣:ΩRf \colon \Omega \to \R bersifat C1\mathcal C^1. Jika pembatasan fMf\restriction_M berekstremum lokal di aMa \in M, maka ada real yang tunggal λ1,,λq\lambda_1, \dots, \lambda_q (yakni pengali Lagrange) dengan

f(a)=λ1F1(a)++λqFq(a).\nabla f(a) = \lambda_1\nabla F_1(a) + \dots + \lambda_q\nabla F_q(a) .

Bukti. Untuk setiap kurva γ\gamma di MM yang melalui aa: tf(γ(t))t \mapsto f(\gamma(t)) berekstremum lokal di 00, sehingga 0= ⁣d ⁣dtf(γ(t))0=f(a),γ(0)0 = \frac{\dd}{\dd t}f(\gamma(t))\big|_0 = \langle\nabla f(a), \gamma'(0)\rangle: jadi f(a)TaM=kerDF(a)\nabla f(a) \perp T_aM = \ker DF(a) (Proposisi 20.6). Kini kerDF(a)=imDF(a)T\ker DF(a)^\perp = \operatorname{im}DF(a)^{\mathsf T} (yakni identitas rank dan keortogonalan Tahun ke-2, atau Latihan 13.8 dalam dimensi berhingga: (kerT)=imT(\ker T)^\perp = \operatorname{im}T^*), yang direntang gradiennya Fi(a)\nabla F_i(a) — yang bebas, sebab DF(a)DF(a) surjektif: sehingga pengalinya ada dan tunggal.

Contoh 20.8 (Teorema spektralnya, secara geometri)

Misalkan AA sebuah matriks setangkup real n×nn\times n lalu maksimumkan f(x)=Ax,xf(x) = \langle Ax, x\rangle pada bola Sn1S^{n-1} (yang kompak: sehingga maksimumnya tercapai, di suatu v1v_1). Lalu Lagrange dengan F(x)=x21F(x) = \norm x^2 - 1: f=2Ax\nabla f = 2Ax dan F=2x\nabla F = 2x memberikan Av1=λ1v1Av_1 = \lambda_1v_1 — yakni sebuah vektor eigen, dengan λ1=maxSn1Ax,x\lambda_1 = \max_{S^{n-1}}\langle Ax, x\rangle. Lalu batasilah AA ke v1v_1^\perp (yang invarian: sebab Av,v1=v,Av1=λ1v,v1=0\langle Av, v_1\rangle = \langle v, Av_1\rangle = \lambda_1\langle v, v_1\rangle = 0) lalu iterasikan: diperolehlah basis ortonormal berisi vektor eigen. Jadi teorema spektral Tahun ke-2, yang dibuktikan kembali lewat pengoptimalan murni — dan bayangan berdimensi tak berhingga argumen yang sama membuktikan Lema 15.6.

Metode 20.9

Untuk membuktikan sebuah himpunan merupakan submanifold: tampilkanlah ia secara lokal sebagai F1(0)F^{-1}(0) dengan DFDF yang surjektif pada himpunannya (yakni jalur yang paling lazim), atau sebagai sebuah grafik. Untuk menghitung dimensi dan ruang singgungnya: d=nqd = n - q dan Ta=kerDF(a)T_a = \ker DF(a). Untuk mengoptimalkan padanya: pakailah Lagrange — dan periksalah selalu kekompakannya (atau kekoersifannya) lebih dahulu, agar ada ekstremum yang teoremanya dapat berlaku padanya, lalu ingatlah bahwa persamaan pengalinya hanya perlu: kumpulkanlah semua titik kritisnya, lalu bandingkan nilainya. Sedangkan untuk grup matriksnya, turunkanlah kurvanya di identitasnya untuk mengenali ruang singgungnya.

20.4 Latihan

Latihan 20.1

(a) Periksalah bahwa berikut ini merupakan submanifold C\mathcal C^\infty lalu berikan dimensinya: Sn1S^{n-1}; hiperboloid {x2+y2z2=1}\{x^2 + y^2 - z^2 = 1\}; dan torus pada Contoh 20.4. (b) Tunjukkan bahwa kerucut C={x2+y2=z2}R3C = \{x^2 + y^2 = z^2\} \subseteq \R^3 bukan submanifold-22 di 00: tentukanlah banyaknya komponen terhubung (C{0})B(0,ε)\bigl(C\setminus\{0\}\bigr)\cap B(0,\varepsilon), lalu bandingkan dengan banyaknya yang akan dipaksa sebuah pelurusan (Teorema 20.3(1)) bagi sebuah bidang dikurangi sebuah titik.

Solusi

Solusi Latihan 20.1.

(a) Masing-masing berupa F1(0)F^{-1}(0) bagi sebuah submersi: x21\norm x^2 - 1 pada Rn{0}\R^n\setminus\{0\} (dengan gradien 2x02x \neq 0): jadi berdimensi n1n-1; x2+y2z21x^2 + y^2 - z^2 - 1 (dengan gradien (2x,2y,2z)0(2x, 2y, -2z) \neq 0 pada hiperboloidnya, yang x2+y2=1+z2>0x^2 + y^2 = 1 + z^2 > 0 padanya): jadi berdimensi 22; sedangkan fungsi torusnya G=(ρR)2+z2r2G = (\rho - R)^2 + z^2 - r^2 dengan ρ=x2+y2\rho = \sqrt{x^2+y^2} bersifat C\mathcal C^\infty di dekat torusnya (sebab ρRr>0\rho \geq R - r > 0 di sana) dengan G0\nabla G \neq 0 (sebab komponen-zz-nya adalah 2z2z, dan di tempat z=0z = 0 komponen radialnya adalah 2(ρR)02(\rho - R)\ne0 karena ρR=r\abs{\rho - R} = r): jadi berdimensi 22.

(b) Untuk ε\varepsilon yang kecil, (C{0})B(0,ε)(C\setminus\{0\})\cap B(0,\varepsilon) tepat berkomponen terhubung 22 (yakni tudung tertusuk atas dan bawahnya, yang masing-masingnya terhubung lintasan: hubungkanlah lewat lingkaran dan sinarnya). Seandainya CC merupakan submanifold-22 di 00, maka sebuah pelurusan akan memberikan homeomorfisma dari CΩC\cap\Omega ke sebuah kepingan terbuka sebuah bidang yang mengirim 00 ke sebuah titik pp; padahal persekitaran bidang tertusuk yang kecil di sekitar pp berkomponen satu, dan homeomorfisma mengawetkan banyaknya komponen persekitaran tertusuknya: jadi bertentangan.

Latihan 20.2

Hitunglah ruang singgungnya: (a) TaSn1T_aS^{n-1} untuk sembarang aa (jawabannya: aa^\perp); (b) bidang singgung torus pada Contoh 20.4 di sembarang titik khatulistiwa luarnya {z=0, x2+y2=(R+r)2}\{z = 0,\ x^2 + y^2 = (R + r)^2\}; (c) garis singgung heliks φ(t)=(cost,sint,t)\varphi(t) = (\cos t, \sin t, t) di φ(t0)\varphi(t_0), sambil memeriksa Proposisi 20.6(2).

Solusi

Solusi Latihan 20.2.

(a) TaSn1=ker(2aT)=aT_aS^{n-1} = \ker\bigl(2a^{\mathsf T}\bigr) = a^\perp. (b) Di p=((R+r)cosθ,(R+r)sinθ,0)p = ((R+r)\cos\theta, (R+r)\sin\theta, 0): G=(2rcosθ,2rsinθ,0)\nabla G = (2r\cos\theta, 2r\sin\theta, 0), sehingga bidang singgungnya adalah Vect((sinθ,cosθ,0), (0,0,1))\operatorname{Vect}\bigl((-\sin\theta, \cos\theta, 0),\ (0, 0, 1)\bigr): yakni bidang tegak yang menyinggung khatulistiwa luarnya. (c) Heliksnya merupakan kurva terbenam dengan φ(t0)=(sint0,cost0,1)0\varphi'(t_0) = (-\sin t_0, \cos t_0, 1) \neq 0: sehingga garis singgungnya di φ(t0)\varphi(t_0) adalah φ(t0)+Rφ(t0)\varphi(t_0) + \R\,\varphi'(t_0), seperti yang ditetapkan Proposisi 20.6(2).

Latihan 20.3 ★★

Misalkan f(x,y)=(x2y2, 2xy)f(x, y) = (x^2 - y^2,\ 2xy) (yakni zz2z \mapsto z^2). (a) Di titik mana saja Teorema 20.1 berlaku? (b) Tunjukkan bahwa ff terbalikkan secara lokal tetapi tak secara global pada R2{0}\R^2\setminus\{0\}, lalu tampilkan secara eksplisit kedua balikan lokalnya yang terdefinisi pada sebuah persekitaran (1,0)(1, 0) (yakni kedua cabang akar kuadratnya). (c) Lakukan pembahasan yang sama bagi pemetaan koordinat kutub (r,θ)(rcosθ,rsinθ)(r, \theta) \mapsto (r\cos\theta, r\sin\theta).

Solusi

Solusi Latihan 20.3.

(a) Df(x,y)=(2x2y2y2x)Df(x,y) = \bigl(\begin{smallmatrix}2x & -2y\\ 2y & 2x\end{smallmatrix}\bigr) dengan det=4(x2+y2)\det = 4(x^2 + y^2): sehingga teoremanya berlaku di setiap titik kecuali titik asalnya. (b) Karena f(z)=f(z)f(-z) = f(z): ia tak pernah injektif pada himpunan yang setangkup terhadap 00; sedangkan pada R2{0}\R^2\setminus\{0\} ia difeomorfisma lokal di mana-mana namun 22-ke-11 secara global. Lalu di dekat (1,0)=f(±(1,0))(1, 0) = f(\pm(1, 0)), kedua balikannya adalah kedua cabang akar kuadratnya: yakni dalam notasi kompleksnya w±ww \mapsto \pm\sqrt w (dengan cabang pokoknya), yakni

(u,v)±(u+u2+v22, v2(u+u2+v2)/2).(u, v) \longmapsto \pm\Bigl(\sqrt{\tfrac{u + \sqrt{u^2+v^2}}{2}},\ \frac{v}{2\sqrt{(u + \sqrt{u^2+v^2})/2}}\Bigr).

(c) Jacobinya r>0r > 0: jadi difeomorfisma lokal pada (0,)×R\intoo0\infty\times\R, tetapi θθ+2π\theta \mapsto \theta + 2\pi memberikan titik yang sama: jadi terbalikkan secara lokal (sebab sudutnya tertentukan sampai 2π2\pi pada sebuah setengah bidang), tetapi tak pernah secara global.

Latihan 20.4 ★★

(Folium) Misalkan F(x,y)=x3+y33xyF(x,y) = x^3 + y^3 - 3xy dan C=F1(0)\mathcal C = F^{-1}(0). (a) Tunjukkan bahwa di dekat setiap titik C\mathcal C selain titik asalnya, C\mathcal C merupakan submanifold-11 yang secara lokal berupa grafik terhadap xx atau terhadap yy (yang mana, di mana?). (b) Hitunglah garis singgungnya di (32,32)(\frac32, \frac32). (c) Apa yang terjadi di titik asalnya? (Sebab dua cabangnya bersilangan: tampilkanlah dua kurva C1\mathcal C^1 di C\mathcal C yang melalui 00 dengan kecepatan yang bebas, lalu simpulkan bahwa tak ada pelurusan yang ada.)

Solusi

Solusi Latihan 20.4.

(a) Gradien F=3(x2y, y2x)\nabla F = 3(x^2 - y,\ y^2 - x) lenyap jika dan hanya jika y=x2y = x^2 dan x=y2x = y^2, yakni x4=xx^4 = x: yaitu di (0,0)(0,0) dan (1,1)(1,1); sedangkan hanya (0,0)(0,0) yang terletak pada C\mathcal C (sebab F(1,1)=1F(1,1) = -1). Jadi pada C{0}\mathcal C\setminus\{0\}, FF merupakan submersi: yakni submanifold-11, yang secara lokal berupa grafik y=ψ(x)y = \psi(x) di tempat Fy=3(y2x)0F_y = 3(y^2 - x) \neq 0 dan x=χ(y)x = \chi(y) di tempat Fx=3(x2y)0F_x = 3(x^2 - y) \neq 0 (dan setidaknya satu berlaku di luar titik asalnya).

(b) Di (32,32)(\frac32, \frac32): F=3(9432)(1,1)=94(1,1)\nabla F = 3(\frac94 - \frac32) (1, 1) = \frac94(1,1): sehingga garis singgungnya x+y=3x + y = 3.

(c) Parametrisasi rasionalnya x=3t1+t3x = \frac{3t}{1 + t^3} dan y=3t21+t3y = \frac{3t^2}{1+t^3} melalui 00 di t=0t = 0 dengan kecepatan (3,0)(3, 0); sedangkan menukar xyx \leftrightarrow y (sebab kurvanya setangkup, atau parametrikan ulang lewat 1/t1/t) memberikan kurva C1\mathcal C^1 kedua yang melalui 00 dengan kecepatan (0,3)(0, 3). Padahal dua arah singgung yang bebas mustahil bagi sebuah submanifold-11 (sebab ruang singgungnya sebuah garis, Proposisi 20.6): jadi C\mathcal C bukan submanifold di titik asalnya — yakni persilangan diri yang transversal.

Latihan 20.5 ★★

Misalkan F(M)=MTMF(M) = M^{\mathsf T}M dari Mn(R)M_n(\R) ke ruang SnS_n berisi matriks setangkup. (a) Tunjukkan DF(M)(H)=MTH+HTMDF(M)(H) = M^{\mathsf T}H + H^{\mathsf T}M dan bahwa DF(M)DF(M) bersifat surjektif ke SnS_n di setiap MOnM \in O_n (diberikan SSnS \in S_n, cobalah H=12MSH = \frac12MS). (b) Simpulkan bahwa On=F1(I)O_n = F^{-1}(I) merupakan submanifold C\mathcal C^\infty yang kompak berdimensi n(n1)2\frac{n(n-1)}2, dengan TIOn={H:HT=H}T_IO_n = \{H : H^{\mathsf T} = -H\}, yakni matriks antisetangkupnya. (c) Tunjukkan bahwa etHOn\eu^{tH} \in O_n untuk setiap HH yang antisetangkup: sehingga arah singgungnya terintegralkan menjadi kurva di grupnya.

Solusi

Solusi Latihan 20.5.

(a) F(M+H)=MTM+MTH+HTM+HTHF(M + H) = M^{\mathsf T}M + M^{\mathsf T}H + H^{\mathsf T}M + H^{\mathsf T}H: sehingga DF(M)(H)=MTH+HTMDF(M)(H) = M^{\mathsf T}H + H^{\mathsf T}M. Lalu untuk MOnM \in O_n dan SS yang setangkup, H=12MSH = \frac12MS memberikan DF(M)(H)=12(S+ST)=SDF(M)(H) = \frac12(S + S^{\mathsf T}) = S: jadi surjektif ke SnS_n.

(b) On=F1(I)O_n = F^{-1}(I) dengan FF sebuah submersi (ke SnS_n yang berdimensi n(n+1)2\frac{n(n+1)}2) di setiap titiknya: jadi submanifold berdimensi n2n(n+1)2=n(n1)2n^2 - \frac{n(n+1)}2 = \frac{n(n-1)}2. Dan kompak: sebab tertutup (FF kontinu) dan terbatas (karena kolomnya vektor satuan). Singgungnya di II: kerDF(I)={H:H+HT=0}\ker DF(I) = \{H : H + H^{\mathsf T} = 0\}.

(c) (etH)TetH=etHTetH=etHetH=I\bigl(\eu^{tH}\bigr)^{\mathsf T}\eu^{tH} = \eu^{tH^{\mathsf T}}\eu^{tH} = \eu^{-tH}\eu^{tH} = I (sebab transposnya lewat deretnya; dan eksponensial matriks yang komutatif saling mengalikan, Teorema 19.8).

Latihan 20.6 ★★

(a) Tunjukkan bahwa det ⁣:Mn(R)R\det \colon M_n(\R) \to \R berdiferensial Ddet(M)(H)=tr(com(M)TH)D\det(M)(H) = \operatorname{tr}\bigl(\operatorname{com}(M) ^{\mathsf T}H\bigr), yang tak nol di setiap MSLnM \in SL_n. (b) Simpulkan bahwa SLn(R)SL_n(\R) merupakan submanifold berdimensi n21n^2 - 1 dengan TISLn={H:trH=0}T_ISL_n = \{H : \operatorname{tr}H = 0\}. (c) Apakah GLn(R)GL_n(\R) sebuah submanifold? Berdimensi berapa?

Solusi

Solusi Latihan 20.6.

(a) det(M+H)=detMdet(I+M1H)=detM(1+tr(M1H)+O(H2))\det(M + H) = \det M\,\det(I + M^{-1}H) = \det M\bigl(1 + \operatorname{tr}(M^{-1}H) + O(\norm H^2)\bigr) untuk MM yang terbalikkan (lewat uraian det\det di dekat II: yakni suku linear (1+λi)\prod(1 + \lambda_i)); lalu dengan detMM1=com(M)T\det M\cdot M^{-1} = \operatorname{com}(M)^{\mathsf T}: Ddet(M)(H)=tr(com(M)TH)D\det(M)(H) = \operatorname{tr}\bigl(\operatorname{com} (M)^{\mathsf T}H\bigr), dan rumusnya diperluas ke setiap MM lewat kepadatan dan kekontinuannya. Sedangkan pada SLnSL_n, detM=1\det M = 1: sehingga Ddet(M)0D\det(M) \ne 0 (sebab nilainya pada H=MH = M adalah tr(I)=ndetM=n\operatorname{tr}(I)\cdot\dots = n\det M = n).

(b) SLn=det1(1)SL_n = \det^{-1}(1) dengan det\det sebagai submersi di sana (sebab nilainya di R\R): jadi berdimensi n21n^2 - 1; dan TISLn=kerDdet(I)={H:trH=0}T_ISL_n = \ker D\det(I) = \{H : \operatorname{tr}H = 0\}.

(c) GLnGL_n merupakan himpunan bagian terbuka Mn(R)M_n(\R) (Latihan 6.8): jadi submanifold berdimensi penuh n2n^2 (dengan pelurusannya: yakni peta identitasnya).

Latihan 20.7 ★★

Lewat pengali Lagrange: (a) carilah ekstremum f(x,y)=xyf(x,y) = xy pada lingkaran x2+y2=1x^2 + y^2 = 1; (b) tunjukkan bahwa di antara semua vektor peluang (p1,,pn)(p_1, \dots, p_n) (yang positif dan berjumlah 11), entropi pilnpi-\sum p_i\ln p_i dimaksimumkan tepat pada distribusi seragamnya; (c) carilah titik elips {x2/4+y2=1}\{x^2/4 + y^2 = 1\} yang terdekat ke (1,0)(1, 0), lalu periksalah persamaan pengalinya secara geometri (lewat kesejajaran normalnya).

Solusi

Solusi Latihan 20.7.

(a) (y,x)=λ(2x,2y)(y, x) = \lambda(2x, 2y) dan x2+y2=1x^2 + y^2 = 1: sehingga y=2λxy = 2\lambda x dan x=2λyx = 2\lambda y memberikan x2=y2=12x^2 = y^2 = \frac12. Nilai xyxy-nya: ±12\pm\frac12: jadi maksimumnya 12\frac12 di ±12(1,1)\pm\frac1{\sqrt2}(1,1), dan minimumnya 12-\frac12 di ±12(1,1)\pm\frac1{\sqrt2}(1,-1) (sebab himpunan kendalanya kompak: sehingga ekstremumnya ada).

(b) Pada interior simpleksnya (dengan pi>0p_i > 0), Lagrange bagi H(p)=pilnpiH(p) = -\sum p_i\ln p_i dengan kendala pi=1\sum p_i = 1: lnpi1=λ-\ln p_i - 1 = \lambda untuk setiap ii: sehingga semua pip_i sama, pi=1np_i = \frac1n, dengan H=lnnH = \ln n. Lalu maksimum atas simpleks kompaknya tercapai; dan seandainya ia tercapai pada batasnya (dengan suatu pi=0p_i = 0), maka distribusinya hidup pada n1\leq n - 1 titik sehingga lewat induksi Hln(n1)<lnnH \leq \ln(n-1) < \ln n: jadi titik kritis interiornya adalah maksimum globalnya — yakni ketidaktahuan seragam yang memaksimumkan entropinya.

(c) Minimumkan (x1)2+y2(x-1)^2 + y^2 pada elips kompaknya: (2(x1),2y)=λ(x2,2y)(2(x{-}1), 2y) = \lambda(\frac x2, 2y). Jika y0y \neq 0: maka λ=1\lambda = 1, lalu 2(x1)=x22(x - 1) = \frac x2 memberikan x=43x = \frac43 dan y2=149=59y^2 = 1 - \frac49 = \frac59: sehingga jarak2^2 =19+59=23= \frac19 + \frac59 = \frac23. Sedangkan jika y=0y = 0: x=±2x = \pm2, dengan jarak 11 dan 33. Jadi titik terdekatnya: (43,±53)\bigl(\frac43, \pm\frac{\sqrt5}3\bigr), pada jarak 2/3<1\sqrt{2/3} < 1. Sedangkan persamaan pengalinya mengatakan bahwa ruas dari (1,0)(1,0) ke titik terdekatnya sejajar dengan \nabla(elipsnya): sehingga ia memotong elipsnya secara ortogonal, seperti yang dituntut geometrinya.

Latihan 20.8 ★★★

Tuliskanlah Contoh 20.8 selengkapnya: buktikan lewat induksi bahwa matriks setangkup real memiliki basis ortonormal berisi vektor eigen, dengan λ1λn\lambda_1 \geq \dots \geq \lambda_n sebagai maksimum terkendala berturutan hasil bagi Rayleighnya. Lalu turunkan rumus Courant–Fischer Latihan 15.8 dalam dimensi berhingga langsung dari konstruksi ini.

Solusi

Solusi Latihan 20.8.

Lewat induksi pada nn; dan n=1n = 1 trivial. Fungsi Rayleigh f(x)=Ax,xf(x) = \langle Ax, x\rangle mencapai maksimumnya λ1\lambda_1 pada Sn1S^{n-1} yang kompak di suatu v1v_1; lalu Lagrange (Teorema 20.7, dengan bolanya sebagai himpunan aras) memberikan 2Av1=2λv12Av_1 = 2\lambda v_1, dan λ=Av1,v1=λ1\lambda = \langle Av_1, v_1\rangle = \lambda_1. Sedangkan hiperbidang v1v_1^\perp bersifat invarian-AA (menurut kesetangkupannya: Av,v1=v,Av1=0\langle Av, v_1\rangle = \langle v, Av_1\rangle = 0); pembatasannya setangkup, dan induksinya melahirkan basis eigen ortonormal v2,,vnv_2, \dots, v_n milik v1v_1^\perp bernilai eigen λ2λn\lambda_2 \geq \dots \geq \lambda_n, yang masing-masingnya maksimum ff pada bola komplemen ortogonal sisanya. Lalu Courant–Fischer menyusul persis seperti pada Latihan 15.8: uraikan x=civix = \sum c_iv_i; lalu pada sebuah ruang uji berdimensi kk iriskanlah dengan Vect(vk,,vn)\operatorname{Vect}(v_k, \dots, v_n) (lewat pencacahan dimensi di Rn\R^n) untuk memperoleh minλk\min \leq \lambda_k, sedangkan Vect(v1,,vk)\operatorname{Vect}(v_1, \dots, v_k) mencapai min=λk\min = \lambda_k.

Latihan 20.9 ★★★

(Ketaksamaan Hadamard) Untuk MGLn(R)M \in GL_n(\R) yang berkolom c1,,cnc_1, \dots, c_n:

detM    i=1nci2,\abs{\det M} \;\leq\; \prod_{i=1}^n\norm{c_i}_2 ,

dengan kesamaannya jika dan hanya jika kolomnya ortogonal. (Susutkanlah ke kolom bernorma 11 lewat penskalaan; lalu maksimumkan det\det pada hasil kali bola yang kompak (Sn1)n(S^{n-1})^n; lalu pada sebuah pemberi maksimum, Lagrange pada setiap kolomnya secara terpisah memberikan cidet=λici\nabla_{c_i}\det = \lambda_ic_i, sedangkan cidet\nabla_{c_i}\det adalah kolom ke-ii com(M)\operatorname{com}(M): lalu turunkan bahwa MTMM^{\mathsf T}M diagonal, sehingga =I= I, sehingga det=±1\det = \pm1.) Bacaan geometrinya: bahwa volume sebuah paralelepipedum paling banyak hasil kali panjang rusuknya.

Solusi

Solusi Latihan 20.9.

Menskalakan setiap kolomnya menjadi bernorma satuan membagi det\abs{\det} dengan ci\prod\norm{c_i}: sehingga cukup dibuktikan detM1\abs{\det M} \leq 1 bila semua kolomnya satuan, dengan kesamaannya jika dan hanya jika MOnM \in O_n. Lalu fungsi det\det kontinu pada (Sn1)n(S^{n-1})^n yang kompak: sehingga ia mencapai maksimum mdetI=1>0m \geq \det I = 1 > 0 di suatu MM. Lalu dengan menetapkan semua kolomnya kecuali yang ke-ii, det\det bersifat linear terhadap cic_i dengan gradien berupa kolom ke-ii com(M)\operatorname{com}(M); sehingga Lagrange pada bola ke-ii-nya: com(M)i=λici\operatorname{com}(M)_{\cdot i} = \lambda_i c_i. Sedangkan identitas MTcom(M)=det(M)IM^{\mathsf T}\operatorname{com}(M) = \det(M)\,I berbunyi cj,com(M)i=det(M)δij\langle c_j, \operatorname{com}(M)_{\cdot i}\rangle = \det(M)\,\delta_{ij}, yakni λicj,ci=det(M)δij\lambda_i\langle c_j, c_i\rangle = \det(M)\delta_{ij}; lalu dengan mengambil j=ij = i: λi=detM=m0\lambda_i = \det M = m \neq 0, dan lalu jij \neq i memberikan ci,cj=0\langle c_i, c_j\rangle = 0: sehingga kolomnya ortonormal, MOnM \in O_n, dan m=detM=1m = \abs{\det M} = 1. Karena itu detci\abs{\det} \leq \prod\norm{c_i} selalu, dengan kesamaannya tepat bagi kolom yang ortogonal (skalakan kembali): sehingga volume sebuah paralelepipedum terbesar, bagi panjang rusuk yang diberikan, saat rusuknya saling tegak lurus.

Latihan 20.10 ★★

Di dekat titik yang mana lingkaran S1S^1 berupa grafik y=ψ(x)y = \psi(x)? Dan grafik x=χ(y)x = \chi(y)? Periksalah pencirian grafiknya (Teorema 20.3(3)) secara eksplisit di (1,0)(1, 0), lalu terangkan dalam satu kalimat mengapa suatu permutasi koordinat selalu mencukupi tetapi tak ada satu pun yang selalu berhasil.

Solusi

Solusi Latihan 20.10.

Grafik y=±1x2y = \pm\sqrt{1 - x^2} berhasil di dekat setiap titik yang y0y \neq 0; sedangkan x=±1y2x = \pm\sqrt{1 - y^2} di dekat setiap titik yang x0x \neq 0; dan di (1,0)(1, 0): grafik x=1y2x = \sqrt{1 - y^2} atas y(1,1)y \in \intoo{-1}1, yang merupakan Teorema 20.3(3) dengan koordinatnya ditukar. Sedangkan suatu permutasi selalu berhasil karena garis singgungnya, yang berdimensi satu, tak dapat sekaligus tegak dan mendatar — tetapi ia dapat menjadi salah satunya, sehingga tak ada pilihan koordinat “terikat” yang tetap yang melayani setiap titiknya.

Latihan 20.11 ★★

(Grup ortogonal sebagai submanifold, secara kuantitatif) (a) Tunjukkan bahwa On={M:MTM=I}O_n = \{M : M^{\mathsf T}M = I\} bersifat kompak: yakni terbatas (sebab setiap kolomnya vektor satuan, sehingga Mn\norm M \leq \sqrt n untuk norma matriks Euclidnya) dan tertutup. (b) Tunjukkan bahwa ruang singgungnya di II adalah ruang berisi matriks antisetangkup, yang berdimensi n(n1)2\frac{n(n-1)}2, dan di sebuah AOnA \in O_n yang umum: TAOn={AK:KT=K}T_AO_n = \{AK : K^{\mathsf T} = -K\}. (c) Turunkan bahwa pemetaan tAexp(tK)t \mapsto A\exp(tK) merupakan, untuk setiap KK yang antisetangkup, sebuah kurva di OnO_n yang melalui AA dengan kecepatan AKAK (periksalah exp(tK)On\exp(tK) \in O_n dengan memakai exp(X)T=exp(XT)\exp(X)^{\mathsf T} = \exp(X^{\mathsf T}) dan exp(X)exp(X)=I\exp(-X)\exp(X) = I): sehingga setiap vektor singgungnya terwujud oleh sebuah kurva yang eksplisit, tanpa memerlukan teorema fungsi implisit.

Solusi

Solusi Latihan 20.11.

(a) Pemetaan pendefinisinya F(M)=MTMIF(M) = M^{\mathsf T}M - I bersifat kontinu: sehingga On=F1(0)O_n = F^{-1}(0) tertutup; sedangkan kolom sebuah matriks ortogonal berupa vektor satuan, sehingga norma Euclidnya (yakni Frobenius) tepat n\sqrt n: jadi terbatas. Sehingga kompak menurut Heine–Borel di Mn(R)Rn2M_n(\R) \cong \R^{n^2}.

(b) Himpunan OnO_n adalah himpunan aras F=0F = 0 yang dipelajari pada babnya: DF(A)H=ATH+HTADF(A)H = A^{\mathsf T}H + H^{\mathsf T}A, yang surjektif ke matriks setangkupnya di setiap AOnA \in O_n (sebab diberikan SS yang setangkup, ambillah H=12ASH = \frac12AS), sehingga OnO_n merupakan submanifold berdimensi n2n(n+1)2=n(n1)2n^2 - \frac{n(n+1)}2 = \frac{n(n-1)}2 dengan

TAOn=kerDF(A)={H:ATH antisetangkup}={AK:KT=K};T_AO_n = \ker DF(A) = \{H : A^{\mathsf T}H \text{ antisetangkup}\} = \{AK : K^{\mathsf T} = -K\} ;

dan di A=IA = I semuanya berupa matriks antisetangkup.

(c) exp(tK)Texp(tK)=exp(tKT)exp(tK)=exp(tK)exp(tK)=I\exp(tK)^{\mathsf T}\exp(tK) = \exp(tK^{\mathsf T}) \exp(tK) = \exp(-tK)\exp(tK) = I (sebab kedua matriks ±tK\pm tK komutatif, sehingga hasil kali eksponensialnya adalah eksponensial jumlahnya): jadi exp(tK)On\exp(tK) \in O_n, dan γ(t)=Aexp(tK)\gamma(t) = A\exp(tK) merupakan kurva di OnO_n dengan γ(0)=A\gamma(0) = A dan γ(0)=AK\gamma'(0) = AK. Lalu saat KK menjelajah matriks antisetangkupnya, AKAK menyapu TAOnT_AO_n: sehingga eksponensialnya mewujudkan seluruh ruang singgungnya lewat kurva yang eksplisit — yakni jalan pintas grup Lie yang dimanfaatkan Soal 20.1 bagi SO(3)SO(3).

Latihan 20.12 ★★

(Titik kritis jaraknya) Misalkan MRnM \subseteq \R^n sebuah submanifold dan pMp \notin M. Tunjukkan bahwa jika x0Mx_0 \in M meminimumkan jaraknya ke pp (dan titik semacam itu ada bila MM tertutup dan tak kosong — mengapa?), maka

px0    Tx0Mp - x_0 \;\perp\; T_{x_0}M

(turunkanlah tγ(t)p2t \mapsto \norm{\gamma(t) - p}^2 sepanjang kurva di MM). Lalu turunkan: bahwa titik terdekat pada sebuah bola terletak pada sinar yang melalui pusatnya; lalu pakailah syaratnya untuk menghitung jarak dari p=(2,0)p = (2, 0) ke parabola y=x2y = x^2 (susutkanlah ke sebuah kubik lalu selesaikan secara numerik sampai tiga angka).

Solusi

Solusi Latihan 20.12.

Untuk keberadaannya: iriskan MM dengan sebuah bola tertutup besar di sekitar pp untuk memperoleh sebuah kompak tak kosong; lalu jaraknya yang kontinu mencapai minimumnya di sana, sedangkan titik di luar bolanya lebih jauh. Untuk syarat orde pertamanya: bagi sebuah kurva γ\gamma di MM dengan γ(0)=x0\gamma(0) = x_0, fungsi h(t)=γ(t)p2h(t) = \norm{\gamma(t) - p}^2 dapat diturunkan dengan minimum di 00:

0=h(0)=2γ(0), x0p,0 = h'(0) = 2\,\langle\gamma'(0),\ x_0 - p\rangle,

dan γ(0)\gamma'(0) menyapu Tx0MT_{x_0}M: sehingga px0Tx0Mp - x_0 \perp T_{x_0}M. Untuk bolanya S(c,r)S(c, r): ruang singgungnya di x0x_0 adalah (x0c)(x_0 - c)^\perp, sehingga px0x0cp - x_0 \parallel x_0 - c: jadi x0x_0 terletak pada garis yang melalui cc dan pp, berjarak rr dari cc — yakni titik sinarnya, seperti yang didesak geometrinya. Untuk parabolanya: di x0=(x,x2)x_0 = (x, x^2) singgungnya direntang (1,2x)(1, 2x); sehingga keortogonalannya terhadap px0=(2x,x2)p - x_0 = (2 - x, -x^2) berbunyi

(2x)2x3=0,yakni2x3+x2=0,(2 - x) - 2x^3 = 0, \qquad\text{yakni}\qquad 2x^3 + x - 2 = 0,

dengan akar real tunggalnya (sebab x2x3+xx \mapsto 2x^3 + x naik sejati) x0.835x \approx 0.835; lalu x0(0.835,0.698)x_0 \approx (0.835, 0.698) dan d(p,M)=(20.835)2+0.69821.358d(p, M) = \sqrt{(2 - 0.835)^2 + 0.698^2} \approx 1.358.

20.5 Soal: SO(3)SO(3) dan kuaternion

Soal 20.1

Soal akhir pekan — rotasi, grup S3S^3, dan selimut gandanya

Kuaternion H={t+xi+yj+zk}\mathbb H = \{t + x\mathrm i + y\mathrm j + z\mathrm k\} — yakni aljabar yang grup satuannya memuat Q8Q_8 Soal 1.1 — memparametrikan rotasi tiga dimensi dua kali lipat: sebab pemetaan “konjugatkan dengan sebuah kuaternion satuan” merupakan morfisma surjektif S3SO(3)S^3 \to SO(3) berkernel {±1}\{\pm1\}. Kita membangun segalanya. Ingat kembali atau definisikan: perkaliannya bilinear-R\R dengan i2=j2=k2=ijk=1\mathrm i^2 = \mathrm j^2 = \mathrm k^2 = \mathrm{ijk} = -1; sedangkan konjugat q=t+xi+yj+zkq = t + x\mathrm i + y\mathrm j + z\mathrm k adalah qˉ=txiyjzk\bar q = t - x\mathrm i - y\mathrm j - z\mathrm k; dan N(q)=qqˉ=t2+x2+y2+z2N(q) = q\bar q = t^2 + x^2 + y^2 + z^2.

Bagian I — Aljabar H\mathbb H dan grup S3S^3.

  1. Periksalah bahwa H\mathbb H merupakan aljabar-R\R yang asosiatif berpusat R\R, bahwa pq=qˉpˉ\overline{pq} = \bar q\,\bar p, dan bahwa N(pq)=N(p)N(q)N(pq) = N(p)N(q) (salah satu jalur yang bersih: sajikanlah qq sebagai matriks kompleks 2×22\times2 (αββˉαˉ)\bigl(\begin{smallmatrix}\alpha & \beta\\ -\bar\beta & \bar\alpha\end{smallmatrix}\bigr) dengan q=α+βjq = \alpha + \beta\mathrm j, lalu pakailah det\det).
  2. Turunkan bahwa setiap q0q \neq 0 bersifat terbalikkan (sebab q1=qˉ/N(q)q^{-1} = \bar q/N(q)): sehingga H\mathbb H merupakan lapangan (yang tak komutatif), dan S3={N(q)=1}S^3 = \{N(q) = 1\} merupakan grup — sekaligus submanifold-33 R4\R^4 yang kompak (Contoh 20.4).

Bagian II — Morfisma rotasinya. Kenalilah R3\R^3 dengan kuaternion murni P={xi+yj+zk}P = \{x\mathrm i + y\mathrm j + z\mathrm k\}, lalu untuk qS3q \in S^3 definisikan ρq(v)=qvqˉ\rho_q(v) = q\,v\,\bar q.

  1. Tunjukkan bahwa ρq\rho_q memetakan PP ke PP (sebab kuaternion murni adalah yang vˉ=v\bar v = -v), bersifat linear-R\R, mengawetkan normanya, dan bahwa ρ ⁣:qρq\rho \colon q \mapsto \rho_q merupakan morfisma grup S3O(3)S^3 \to O(3).
  2. Hitunglah kernelnya: ρq=id\rho_q = \mathrm{id} jika dan hanya jika qq komutatif dengan i,j,k\mathrm i, \mathrm j, \mathrm k jika dan hanya jika qRS3={±1}q \in \R\cap S^3 = \{\pm1\}.
  3. Tulislah q=cosθ2+sinθ2uq = \cos\frac\theta2 + \sin\frac\theta2\,u dengan uPu \in P dan N(u)=1N(u) = 1 (mengapa ini selalu mungkin untuk qS3q \in S^3?). Lalu tunjukkan bahwa ρq\rho_q menetapkan uu dan, pada bidang uPu^\perp\cap P, bekerja sebagai rotasi bersudut θ\theta (hitunglah ρq(w)\rho_q(w) untuk wuw \perp u dengan memakai uw=wuuw = -wu bagi satuan murni yang ortogonal — buktikanlah identitas ini dari tabel perkaliannya, atau dari uw+wu=2u,wuw + wu = -2\langle u, w\rangle).
  4. Simpulkan: bahwa imρSO(3)\operatorname{im}\rho \subseteq SO(3) (sebab setiap ρq\rho_q merupakan rotasi bersumbu dan bersudut seperti yang dihitung — dengan determinan +1+1 lewat kekontinuan qdetρqq \mapsto \det\rho_q pada S3S^3 yang terhubung, atau secara langsung), dan bahwa ρ\rho bersifat pada SO(3)SO(3): sebab setiap rotasi R3\R^3 bersumbu (buktikanlah: bahwa matriks ortogonal real 3×33\times3 dengan det=1\det = 1 bernilai eigen 11 — tinjaulah polinomial karakteristiknya) sehingga berupa suatu ρq\rho_q. Ringkasnya:

    SO(3)    S3/{±1}.SO(3) \;\cong\; S^3/\{\pm 1\} .

Bagian III — SO(3)SO(3) sebagai submanifold; Rodrigues.

  1. Tunjukkan bahwa SO(3)SO(3) merupakan submanifold kompak berdimensi 33 di M3(R)M_3(\R) dengan TISO(3)=T_ISO(3) = matriks antisetangkupnya (Latihan 20.5; sebab syarat determinannya memilih sebuah gabungan komponennya).
  2. Untuk matriks antisetangkup AuA_u yang berkaitan dengan uR3u \in \R^3 (yakni Auv=uvA_uv = u\wedge v, hasil kali silangnya), buktikanlah rumus Rodrigues:

    eθAu=I+sinθAu+(1cosθ)Au2(u=1)\eu^{\theta A_u} = I + \sin\theta\,A_u + (1 - \cos\theta)\,A_u^2 \qquad (\norm u = 1)

    (dari Au3=AuA_u^3 = -A_u: pisahkanlah deret eksponensialnya menurut pangkat AuA_u), lalu kenalilah ia sebagai rotasi bersumbu uu dan bersudut θ\theta. Lalu turunkan bahwa exp\exp memetakan matriks antisetangkupnya ke seluruh SO(3)SO(3).

  3. Kaitkanlah kedua parametrisasinya: tunjukkan bahwa tρq(t)t \mapsto \rho_{q(t)} dengan q(t)=cost2+sint2uq(t) = \cos\frac t2 + \sin\frac t2\,u merupakan grup satu parameter berisi rotasi yang turunannya di t=0t = 0 adalah AuA_u — sehingga eksponensial kuaternion dan matriksnya menuturkan cerita yang sama pada laju separuh dan penuh berturut-turut.

Bagian IV — Selimut gandanya, yang terasa.

  1. Tunjukkan bahwa lintasan q(t)=cost2+sint2kq(t) = \cos\frac t2 + \sin\frac t2\,\mathrm k dengan t[0,2π]t \in \intcc0{2\pi} merupakan gelung di SO(3)SO(3) (sebab petanya ρq(t)\rho_{q(t)} kembali ke identitasnya) yang angkatan kuaternioniknya bukan gelung: sebab q(2π)=q(0)q(2\pi) = -q(0). Sedangkan melanjutkannya ke t=4πt = 4\pi menutup angkatannya. Lalu terangkanlah dalam sebuah paragraf pendek apa yang dikatakannya: bahwa rotasi 2π2\pi tak dapat dibatalkan secara kontinu sedangkan rotasi 4π4\pi dapat (yakni kiat sabuknya), sebab gelung SO(3)SO(3) terdeteksi pada selimut gandanya S3S^3.
  2. Turunkan pula buah hasil praktisnya: bahwa komposisi rotasi = perkalian kuaternion (yakni data senilai 44 perkalian alih-alih 99, tanpa hanyutan dari keortogonalannya) — lalu periksalah pada komposisi dua seperempat putaran terhadap i\mathrm i dan j\mathrm j: hitunglah sumbu dan sudut hasil kalinya.

Bagian V — Matriks eksplisitnya: Euler–Rodrigues. Tulislah q=a+bi+cj+dkS3q = a + b\mathrm i + c\mathrm j + d\mathrm k \in S^3, sehingga a2+b2+c2+d2=1a^2 + b^2 + c^2 + d^2 = 1.

  1. Hitunglah ρq(i)\rho_q(\mathrm i) selengkapnya dari tabel perkaliannya; lalu perolehlah ρq(j)\rho_q(\mathrm j) dan ρq(k)\rho_q(\mathrm k) lewat substitusi siklik ijki\mathrm i \to \mathrm j \to \mathrm k \to \mathrm i dan (b,c,d)(c,d,b)(b, c, d) \to (c, d, b) (benarkanlah: sebab menyiklikkan i,j,k\mathrm i, \mathrm j, \mathrm k diperluas menjadi automorfisma H\mathbb H, karena relasi pendefinisinya setangkup secara siklik). Lalu simpulkan bahwa matriks ρq\rho_q pada basis (i,j,k)(\mathrm i, \mathrm j, \mathrm k) adalah matriks Euler–Rodrigues

    Rq=(a2+b2c2d22(bcad)2(bd+ac)2(bc+ad)a2b2+c2d22(cdab)2(bdac)2(cd+ab)a2b2c2+d2).R_q = \begin{pmatrix} a^2 + b^2 - c^2 - d^2 & 2(bc - ad) & 2(bd + ac)\\ 2(bc + ad) & a^2 - b^2 + c^2 - d^2 & 2(cd - ab)\\ 2(bd - ac) & 2(cd + ab) & a^2 - b^2 - c^2 + d^2 \end{pmatrix}.
  2. (Membaca sebuah rotasi secara mundur) Tunjukkan bahwa

    trRq=4a21=1+2cosθ,12(RqRqT)=sinθAu,\operatorname{tr}R_q = 4a^2 - 1 = 1 + 2\cos\theta, \qquad \tfrac12\bigl(R_q - R_q^{\mathsf T}\bigr) = \sin\theta\,A_u,

    dalam notasi pertanyaan 5 dan 8. Lalu turunkan sebuah algoritma yang memulihkan ±q\pm q dari sebuah matriks rotasi RR: yakni sudutnya dari tracenya; sumbunya dari bagian antisetangkupnya bila 0<θ<π0 < \theta < \pi; dan, bila θ=π\theta = \pi, buktikan lalu pakailah identitas R+I=2uuTR + I = 2\,uu^{\mathsf T}.

  3. Nilaikan RqR_q untuk hasil kali pertanyaan 11 q=12(1+i+j+k)q = \frac12(1 + \mathrm i + \mathrm j + \mathrm k): sebuah matriks permutasi muncul. Lalu kenali rotasinya lalu damaikan dengan sumbu dan sudut yang ditemukan pada pertanyaan 11.

Bagian VI — Di dalam S3S^3: SU(2)SU(2), kelas konjugasi, eksponensial.

  1. Tunjukkan bahwa penyajian matriks pertanyaan 1 (sebutlah Φ\Phi) terbatas menjadi isomorfisma grup dari S3S^3 ke grup uniter khusus

    SU(2)={UM2(C):UU=I, detU=1}SU(2) = \bigl\{U \in M_2(\C) : U^*U = I,\ \det U = 1\bigr\}

    (untuk kesurjektifannya, tuliskanlah persamaan U1=UU^{-1} = U^* dan detU=1\det U = 1 bagi sebuah matriks kompleks 2×22\times2 yang umum).

  2. Tunjukkan bahwa bagian realnya merupakan invarian konjugasi pada S3S^3 — yakni Re(pqpˉ)=Req\operatorname{Re}(pq\bar p) = \operatorname{Re}q untuk setiap pS3p \in S^3 — dan, sebaliknya, bahwa dua kuaternion satuan yang berbagian real sama bersifat konjugat di S3S^3 (susutkanlah ke pemindahan satu sumbu murni satuan ke sumbu lainnya, yang disediakan Bagian II). Lalu perikanlah kelas konjugasi S3S^3 secara geometri; terjemahkan ke SU(2)SU(2) (yakni himpunan aras tracenya); lalu proyeksikan lewat ρ\rho: bahwa dua rotasi bersifat konjugat di SO(3)SO(3) jika dan hanya jika keduanya bersudut θ[0,π]\theta \in \intcc0\pi sama.
  3. Definisikan exp\exp pada H\mathbb H lewat deret eksponensialnya; periksalah kekonvergenan mutlaknya dengan memakai pq=pq\abs{pq} = \abs p\,\abs q untuk q=N(q)\abs q = \sqrt{N(q)}. Lalu tunjukkan, untuk uu murni satuan dan θR\theta \in \R,

    exp(θu)=cosθ+sinθu,\exp(\theta u) = \cos\theta + \sin\theta\,u ,

    lalu turunkan bahwa exp\exp memetakan hiperbidang PP ke S3S^3, lalu periksalah bahwa ρexp(su)=e2sAu\rho_{\exp(su)} = \eu^{2sA_u}: yakni gejala setengah sudut pertanyaan 9 lagi.

  4. Untuk kuaternion murni v,wv, w buktikan aturan hasil kalinya vw=v,w+vwvw = -\langle v, w\rangle + v\wedge w, sehingga identitas komutatornya vwwv=2vwvw - wv = 2\,v\wedge w; lalu buktikan pula [Av,Aw]=Avw[A_v, A_w] = A_{v\wedge w} bagi matriks pertanyaan 8. Lalu simpulkan bahwa turunan ρ\rho di 11 sepanjang kurva texp(tv)t \mapsto \exp(tv) adalah isomorfisma linear v2Avv \mapsto 2A_v dari PP ke matriks antisetangkupnya, dan bahwa ia mengangkut komutator kuaternionnya ke komutator matriksnya.

Bagian VII — Struktur globalnya.

  1. (Tak ada seksi kontinu) Andaikan s ⁣:SO(3)S3s \colon SO(3) \to S^3 kontinu dengan ρs=id\rho \circ s = \operatorname{id}. Lalu untuk gelung R(t)=ρq(t)R(t) = \rho_{q(t)} pada pertanyaan 10, tetapkan ε(t)=s(R(t))q(t)1\varepsilon(t) = s(R(t))\,q(t)^{-1} untuk t[0,2π]t \in \intcc0{2\pi}. Tunjukkan bahwa ε\varepsilon kontinu dengan nilai di {±1}\{\pm1\}, lalu turunkan sebuah pertentangan: sehingga tak ada pemilihan global yang kontinu atas kuaternion satuan yang mewakili setiap rotasinya.
  2. (Model bolanya) Misalkan BˉR3\bar B \subseteq \R^3 bola tertutup berjari-jari π\pi dan E(v)=eAvE(v) = \eu^{A_v}, dengan E(0)=IE(0) = I. Tunjukkan bahwa EE memetakan Bˉ\bar B ke SO(3)SO(3), bersifat injektif pada bola terbukanya, dan pada bola batasnya mengenali tepat antipodenya: E(πu)=E(πu)=2uuTIE(\pi u) = E(-\pi u) = 2uu^{\mathsf T} - I, tanpa kebetulan lainnya. Jadi SO(3)SO(3) adalah bolanya dengan titik batas antipodalnya direkatkan — yakni ruang proyektif RP3\mathbb{RP}^3 — dan sebuah diameternya menjadi gelung tak terkontraksikan pertanyaan 10.
  3. Tunjukkan bahwa ρpρqρp1=ρpqpˉ\rho_p\rho_q\rho_p^{-1} = \rho_{pq\bar p}; bahwa involusi SO(3)SO(3) (yakni RIR \neq I dengan R2=IR^2 = I) tepat berupa setengah putaran ρw\rho_w dengan ww sebuah kuaternion murni satuan; dan bahwa pusat SO(3)SO(3) bersifat trivial.
  4. Tunjukkan bahwa setiap rotasi merupakan hasil kali dua setengah putaran: untuk q=cosθ2+sinθ2uq = \cos\frac\theta2 + \sin\frac\theta2\,u, pilihlah sebuah murni satuan wuw \perp u, periksalah bahwa w=qww' = qw kembali merupakan kuaternion murni satuan, lalu periksalah ρq=ρwρw\rho_q = \rho_{w'}\rho_w. Lalu di manakah kedua sumbunya terletak, dan bersudut berapa keduanya?
  5. Simpulkan ringkasan topologinya: bahwa SO(3)SO(3) bersifat kompak dan terhubung lintasan (berikan dua bukti: yakni peta kontinu S3S^3 di bawah ρ\rho; dan peta exp\exp), sedangkan O(3)O(3) tepat berkomponen terhubung dua, yang masing-masingnya homeomorfik dengan SO(3)SO(3).
  6. (Sebuah komposisi, tiga cara) Misalkan R1R_1 rotasi sebesar π2\frac\pi2 terhadap sumbu-zz dan R2R_2 rotasi sebesar π2\frac\pi2 terhadap sumbu-xx. Hitunglah sumbu dan sudut R2R1R_2R_1: (i) dengan mengalikan kedua matriks 3×33\times3-nya lalu memakai trace dan bagian antisetangkupnya (Bagian V); (ii) dengan mengalikan kuaternion satuan yang bersesuaian q2q1q_2q_1. Lalu periksalah bahwa kedua jawabannya bersesuaian: sudutnya 2π3\frac{2\pi}3 dan sumbunya 13(1,1,1)\frac1{\sqrt3}(1, -1, 1).
  7. (Transformasi Cayley) Untuk KK yang antisetangkup, tunjukkan bahwa I+KI + K terbalikkan dan

    C(K)=(IK)(I+K)1SO(n),C(K) = (I - K)(I + K)^{-1} \in SO(n),

    dengan 1-1 yang tak pernah menjadi nilai eigen C(K)C(K); lalu tunjukkan bahwa KC(K)K \mapsto C(K) merupakan bijeksi dari matriks antisetangkup ke {RSO(n):1SpR}\{R \in SO(n) : -1 \notin \operatorname{Sp}R\}, dengan balikan R(IR)(I+R)1R \mapsto (I - R)(I + R)^{-1}. (Yakni sebuah peta rasional SO(n)SO(n), yang mendampingi exp\exp transenden pada Latihan 20.11.)

Solusi

Solusi Soal 20.1.

1. Petakan q=t+xi+yj+zk(αββˉαˉ)q = t + x\mathrm i + y\mathrm j + z\mathrm k \mapsto \bigl(\begin{smallmatrix}\alpha & \beta\\ -\bar\beta & \bar\alpha\end{smallmatrix}\bigr) dengan α=t+ix\alpha = t + \iu x dan β=y+iz\beta = y + \iu z: lalu diperiksa bahwa 1,i,j,k1, \mathrm i, \mathrm j, \mathrm k berpindah ke II, (i00i)\bigl(\begin{smallmatrix} \iu & 0\\ 0 & -\iu\end{smallmatrix}\bigr), (0110)\bigl(\begin{smallmatrix}0 & 1\\ -1 & 0\end{smallmatrix}\bigr), dan (0ii0)\bigl(\begin{smallmatrix}0 & \iu\\ \iu & 0\end{smallmatrix}\bigr), yang hasil kalinya menghasilkan kembali tabel kuaternionnya: sehingga pemetaannya merupakan morfisma aljabar yang injektif, jadi H\mathbb H mewarisi keasosiatifannya; lalu N(q)=α2+β2=detN(q) = \abs\alpha^2 + \abs\beta^2 = \det bersifat multiplikatif, dan pengonjugatannya bersesuaian dengan transpos adjugatnya, yang memberikan pq=qˉpˉ\overline{pq} = \bar q\bar p. Untuk pusatnya: komutatif dengan i\mathrm i memaksa y=z=0y = z = 0, dan dengan j\mathrm j memaksa x=0x = 0: jadi R\R.

2. Karena qqˉ=N(q)q\bar q = N(q): maka untuk q0q \neq 0, q1=qˉ/N(q)q^{-1} = \bar q/N(q): jadi sebuah aljabar pembagian. Sedangkan pada S3S^3: N(pq)=1N(pq) = 1 dan N(q1)=1N(q^{-1}) = 1: jadi sebuah grup; dan S3R4S^3 \subseteq \R^4 adalah bola satuannya: jadi submanifold-33 yang kompak.

3. Sebuah vv bersifat murni jika dan hanya jika vˉ=v\bar v = -v; lalu qvqˉ=qvˉqˉ=qvqˉ\overline{qv\bar q} = q\bar v\bar q = -qv\bar q: sehingga ρq\rho_q mengawetkan PP. Kelinearannya jelas; sedangkan N(qvqˉ)=N(q)N(v)N(q)=N(v)N(qv\bar q) = N(q)N(v)N(q) = N(v): jadi sebuah isometri (P,N)(R3,2)(P, N) \cong (\R^3, \norm\cdot^2): sehingga ρqO(3)\rho_q \in O(3). Dan ρpq(v)=pqvpq=p(qvqˉ)pˉ=ρp(ρq(v))\rho_{pq}(v) = pqv\overline{pq} = p(qv\bar q)\bar p = \rho_p(\rho_q(v)): jadi sebuah morfisma.

4. Berlaku ρq=id\rho_q = \mathrm{id} jika dan hanya jika qv=vqqv = vq untuk setiap vv yang murni, jika dan hanya jika qq komutatif dengan i,j,k\mathrm i, \mathrm j, \mathrm k, jika dan hanya jika qq bersifat pusat (pertanyaan 1): jadi qRS3={±1}q \in \R\cap S^3 = \{\pm1\}.

5. Tulis q=t+pq = t + p (dengan tRt \in \R dan pp murni): maka 1=N(q)=t2+N(p)1 = N(q) = t^2 + N(p), sehingga t=cosθ2t = \cos\frac\theta2 dan p=sinθ2up = \sin\frac\theta2\,u dengan N(u)=1N(u) = 1 untuk suatu θ\theta (dan jika p=0p = 0, maka q=±1q = \pm1 bekerja secara trivial). Lalu karena u2=N(u)=1u^2 = -N(u) = -1, qq dan uu komutatif, sehingga ρq(u)=quqˉ=uqqˉ=u\rho_q(u) = qu\bar q = uq\bar q = u: yakni sumbunya. Sedangkan untuk satuan murni wuw \perp u: aturan hasil kalinya vw=v,w+vwvw = -\langle v, w\rangle + v\wedge w (uraikanlah dalam koordinatnya dari tabelnya) memberikan uw=uw=wuuw = u\wedge w = -wu. Maka

ρq(w)=(cosθ2+sinθ2u)w(cosθ2sinθ2u)=cosθw+sinθ(uw),\rho_q(w) = \bigl(\cos\tfrac\theta2 + \sin\tfrac\theta2u\bigr)\,w\,\bigl(\cos\tfrac\theta2 - \sin\tfrac\theta2u\bigr) = \cos\theta\,w + \sin\theta\,(u\wedge w),

dengan memakai uwu=u2w=wuwu = -u^2w = w dan rumus sudut gandanya: yakni rotasi bersudut θ\theta pada bidang berarah (w,uw)(w, u\wedge w).

6. Setiap ρq\rho_q merupakan rotasi terhadap uu sebesar θ\theta: sebab pada basis ortonormal (u,w,uw)(u, w, u\wedge w) matriksnya berdeterminan +1+1: jadi imρSO(3)\operatorname{im}\rho \subseteq SO(3). Untuk kesurjektifannya: sebuah matriks RSO(3)R \in SO(3) bernilai eigen 11, sebab

det(RI)=detRdet(IRT)=det(IR)=(1)3det(RI),\det(R - I) = \det R\,\det(I - R^{\mathsf T}) = \det(I - R) = (-1)^3\det(R - I),

sehingga det(RI)=0\det(R - I) = 0. Lalu ambillah sebuah vektor eigen satuan uu; maka RR mengawetkan uu^\perp dan terbatas di sana menjadi sebuah rotasi bersudut suatu θ\theta (sebab ortogonal bidang berdeterminan 11): sehingga R=ρqR = \rho_q untuk q=cosθ2+sinθ2uq = \cos\frac\theta2 + \sin\frac\theta2\,u. Lalu dengan pertanyaan 4 dan teorema isomorfisma pertamanya (Teorema 1.3): SO(3)S3/{±1}SO(3) \cong S^3/\{\pm1\}.

7. Himpunan O3O_3 merupakan submanifold kompak berdimensi 33 (Latihan 20.5); sedangkan det\det kontinu padanya dengan nilai di {±1}\{\pm1\}, sehingga SO(3)=O3{det=1}SO(3) = O_3\cap\{\det = 1\} bersifat terbuka sekaligus tertutup di O3O_3: jadi sebuah gabungan komponen terhubungnya, sehingga ia sendiri submanifold-33 yang kompak, dengan ruang singgung yang sama di II: yakni matriks antisetangkupnya.

8. Berlaku Au2v=u(uv)=u,vuvA_u^2v = u\wedge(u\wedge v) = \langle u, v\rangle u - v (untuk uu yang satuan), sehingga Au3v=u(u,vuv)=uvA_u^3v = u\wedge(\langle u,v\rangle u - v) = -u\wedge v: jadi Au3=AuA_u^3 = -A_u. Lalu dengan memisahkan deret eksponensialnya menurut sisa pangkatnya modulo relasi A3=AA^3 = -A:

eθAu=I+(θθ33!+)Au+(θ22!θ44!+)Au2=I+sinθAu+(1cosθ)Au2.\eu^{\theta A_u} = I + \Bigl(\theta - \frac{\theta^3}{3!} + \cdots\Bigr)A_u + \Bigl(\frac{\theta^2}{2!} - \frac{\theta^4}{4!} + \cdots\Bigr)A_u^2 = I + \sin\theta\,A_u + (1 - \cos\theta)\,A_u^2 .

Pada uu: Auu=0A_uu = 0: jadi tetap. Sedangkan pada wuw \perp u: eθAuw=w+sinθuw+(1cosθ)(w)=cosθw+sinθuw\eu^{\theta A_u}w = w + \sin\theta\,u\wedge w + (1 - \cos\theta)(-w) = \cos\theta\,w + \sin\theta\,u\wedge w: yakni rotasi bersumbu uu dan bersudut θ\theta — yaitu Rodrigues. Dan setiap rotasi berbentuk demikian (pertanyaan 6): sehingga exp\exp bersifat pada SO(3)SO(3) dari matriks antisetangkupnya.

9. Dengan q(t)=cost2+sint2uq(t) = \cos\frac t2 + \sin\frac t2\,u: pertanyaan 5 menunjukkan bahwa ρq(t)\rho_{q(t)} adalah rotasi bersumbu uu dan bersudut tt, yakni ρq(t)=etAu\rho_{q(t)} = \eu^{tA_u}, yang turunannya di t=0t = 0 adalah AuA_u. Jadi kuaternionnya berjalan pada separuh sudutnya — yakni jejak analitis selimut gandanya.

10. Pemetaan ρq(t)\rho_{q(t)} adalah rotasi terhadap k\mathrm k sebesar sudut tt: sehingga di t=2πt = 2\pi ia kembali ke identitasnya — yakni sebuah gelung di SO(3)SO(3). Sedangkan angkatannya memenuhi q(2π)=cosπ=1=q(0)q(2\pi) = \cos\pi = -1 = -q(0): jadi lintasan terangkatnya tak tertutup; dan hanya di t=4πt = 4\pi qq kembali ke 11. Tafsirannya: bahwa gelung rotasi penuhnya tak terkontraksikan di SO(3)SO(3) — sebab angkatannya berakhir di lembar lain selimutnya — sedangkan gelung gandanya terkontraksikan; sehingga sebuah benda yang terikat ke sekitarnya oleh tali (yakni kiat sabuknya) kembali ke keadaan tak terpilin setelah 4π4\pi tetapi tidak setelah 2π2\pi. Jadi grup rotasinya mengingat paritas putaran penuhnya; dan S3S^3, yang terhubung sederhana, adalah tempat ingatan itu tinggal.

11. Untuk seperempat putarannya: qi=cosπ4+sinπ4iq_{\mathrm i} = \cos\frac\pi4 + \sin\frac\pi4\,\mathrm i dan qj=cosπ4+sinπ4jq_{\mathrm j} = \cos\frac\pi4 + \sin\frac\pi4\,\mathrm j. Lalu hasil kalinya (dengan putaran-j\mathrm j diterapkan lebih dahulu):

qiqj=12(1+i)(1+j)=12(1+i+j+k),q_{\mathrm i}q_{\mathrm j} = \tfrac12(1 + \mathrm i)(1 + \mathrm j) = \tfrac12\bigl(1 + \mathrm i + \mathrm j + \mathrm k\bigr),

yang bernorma 11, dengan cosθ2=12\cos\frac\theta2 = \frac12: sehingga θ=2π3\theta = \frac{2\pi}3, dan sumbunya u=i+j+k3u = \frac{\mathrm i + \mathrm j + \mathrm k}{\sqrt3} (yakni bagian murninya yang dinormalkan). Jadi dua seperempat putaran berurutan terhadap sumbu yang ortogonal menghasilkan rotasi 120120^\circ terhadap diagonal utama kubusnya — yakni pembukuan senilai empat perkalian real, dengan keortogonalannya terawetkan secara persis: itulah mengapa perangkat lunak penerbangan dan mesin grafis mengomposisikan rotasinya lewat kuaternion.

12. Dari tabelnya, ji=k\mathrm{ji} = -\mathrm k dan ki=j\mathrm{ki} = \mathrm j, sehingga

qi=aib+c(ji)+d(ki)=b+ai+djck.q\,\mathrm i = a\mathrm i - b + c(\mathrm{ji}) + d(\mathrm{ki}) = -b + a\mathrm i + d\mathrm j - c\mathrm k .

Lalu mengalikannya dengan qˉ=abicjdk\bar q = a - b\mathrm i - c\mathrm j - d\mathrm k memakai aturan skalar dan vektornya (t1+p1)(t2+p2)=t1t2p1,p2+t1p2+t2p1+p1p2(t_1 + p_1)(t_2 + p_2) = t_1t_2 - \langle p_1, p_2\rangle + t_1p_2 + t_2p_1 + p_1\wedge p_2, dengan p1=(a,d,c)p_1 = (a, d, -c) dan p2=(b,c,d)p_2 = (-b, -c, -d): bagian skalarnya adalah ab(ab)=0-ab - (-ab) = 0 (jadi murni, seperti yang seharusnya), dan bagian vektornya adalah

b(b,c,d)+a(a,d,c)+(c2d2, bc+ad, bdac)=(a2+b2c2d2, 2(bc+ad), 2(bdac)):b(b, c, d) + a(a, d, -c) + (-c^2 - d^2,\ bc + ad,\ bd - ac) = \bigl(a^2 + b^2 - c^2 - d^2,\ 2(bc + ad),\ 2(bd - ac)\bigr):

yakni kolom pertama RqR_q. Sedangkan pemetaan siklik σ(i)=j\sigma(\mathrm i) = \mathrm j, σ(j)=k\sigma(\mathrm j) = \mathrm k, dan σ(k)=i\sigma(\mathrm k) = \mathrm i mengawetkan relasi i2=j2=k2=ijk=1\mathrm i^2 = \mathrm j^2 = \mathrm k^2 = \mathrm{ijk} = -1 (sebab kata ijk\mathrm{ijk} invarian secara siklik sampai relasi ijk=jki\mathrm{ijk} = \mathrm{jki}, yang berlaku di ring mana pun: dengan mengonjugatkan ijk=1\mathrm{ijk} = -1 oleh i\mathrm i yang terbalikkan), sehingga σ\sigma diperluas menjadi automorfisma aljabar-R\R, dan σ(ρq(v))=ρσ(q)(σ(v))\sigma(\rho_q(v)) = \rho_{\sigma(q)}(\sigma(v)). Lalu dengan menguraikannya, peta j\mathrm j adalah rumus kolom pertamanya setelah substitusi (b,c,d)(c,d,b)(b, c, d) \to (c, d, b) dengan basisnya dilabeli ulang ijki\mathrm i \to \mathrm j \to \mathrm k \to \mathrm i, yang tepat merupakan kolom kedua yang ditampilkan; dan satu putaran lagi memberikan yang ketiga.

13. Dengan menjumlahkan diagonalnya, trRq=3a2(b2+c2+d2)=4a21\operatorname{tr}R_q = 3a^2 - (b^2 + c^2 + d^2) = 4a^2 - 1 (menurut norma satuannya), dan dengan a=cosθ2a = \cos\frac\theta2: 4cos2θ21=1+2cosθ4\cos^2\frac\theta2 - 1 = 1 + 2\cos\theta. Untuk bagian antisetangkupnya: ketiga entri bebas RqRqTR_q - R_q^{\mathsf T} adalah 4ab,4ac,4ad4ab, 4ac, 4ad (pada posisi (3,2),(1,3),(2,1)(3,2), (1,3), (2,1)), sehingga 12(RqRqT)=Am\frac12(R_q - R_q^{\mathsf T}) = A_m dengan m=2a(b,c,d)=2cosθ2sinθ2u=sinθum = 2a\,(b, c, d) = 2\cos\frac\theta2\sin\frac\theta2\,u = \sin\theta\,u. Algoritmanya: θ=arccostrR12[0,π]\theta = \arccos\frac{\operatorname{tr}R - 1}{2} \in \intcc0\pi; lalu jika 0<θ<π0 < \theta < \pi, bacalah uu dari RRT2sinθ\frac{R - R^{\mathsf T}}{2\sin\theta} lalu tetapkan q=±(cosθ2+sinθ2u)q = \pm(\cos\frac\theta2 + \sin\frac\theta2 u); sedangkan jika θ=0\theta = 0, maka q=±1q = \pm1. Untuk θ=π\theta = \pi: a=0a = 0, dan Rodrigues (pertanyaan 8) memberikan R=I+2Au2=I+2(uuTI)=2uuTIR = I + 2A_u^2 = I + 2(uu^{\mathsf T} - I) = 2uu^{\mathsf T} - I, yakni R+I=2uuTR + I = 2uu^{\mathsf T}; sehingga sembarang kolom tak nol R+IR + I, yang dinormalkan, adalah ±u\pm u, dan q=±uq = \pm u.

14. Dengan a=b=c=d=12a = b = c = d = \frac12: semua entri diagonalnya lenyap, 2(bcad)=02(bc - ad) = 0, 2(bd+ac)=12(bd + ac) = 1, 2(bc+ad)=12(bc + ad) = 1, 2(cdab)=02(cd - ab) = 0, 2(bdac)=02(bd - ac) = 0, dan 2(cd+ab)=12(cd + ab) = 1:

Rq=(001100010),R_q = \begin{pmatrix} 0 & 0 & 1\\ 1 & 0 & 0\\ 0 & 1 & 0 \end{pmatrix},

yakni permutasi siklik e1e2e3e1e_1 \to e_2 \to e_3 \to e_1. Sedangkan tracenya 0=1+2cosθ0 = 1 + 2\cos\theta, sehingga θ=2π3\theta = \frac{2\pi}3, dan ia menetapkan (1,1,1)(1,1,1): yakni rotasi sebesar 120120^\circ terhadap diagonal utamanya — tepat jawaban pertanyaan 11, yang kini terlihat sebagai matriks yang menyiklikkan sumbu koordinatnya.

15. Pada basisnya diperiksa bahwa Φ(qˉ)=Φ(q)\Phi(\bar q) = \Phi(q)^* (sebab matriks qˉ\bar q mempunyai α=αˉ\alpha' = \bar\alpha dan β=β\beta' = -\beta, yang merupakan transpos konjugat (αββˉαˉ)\bigl(\begin{smallmatrix}\alpha & \beta\\ -\bar\beta & \bar\alpha\end{smallmatrix}\bigr)). Karena itu Φ(q)Φ(q)=Φ(qˉq)=N(q)I\Phi(q)^*\Phi(q) = \Phi(\bar qq) = N(q)I dan detΦ(q)=α2+β2=N(q)\det\Phi(q) = \abs\alpha^2 + \abs\beta^2 = N(q): sehingga untuk qS3q \in S^3, Φ(q)SU(2)\Phi(q) \in SU(2), dan Φ\Phi merupakan morfisma yang injektif (pertanyaan 1). Untuk kesurjektifannya: misalkan U=(αβγδ)U = \bigl(\begin{smallmatrix}\alpha & \beta\\ \gamma & \delta\end{smallmatrix}\bigr) dengan detU=1\det U = 1; maka U1=(δβγα)U^{-1} = \bigl(\begin{smallmatrix}\delta & -\beta\\ -\gamma & \alpha\end{smallmatrix}\bigr), dan U1=U=(αˉγˉβˉδˉ)U^{-1} = U^* = \bigl(\begin{smallmatrix}\bar\alpha & \bar\gamma\\ \bar\beta & \bar\delta\end{smallmatrix}\bigr) memaksa δ=αˉ\delta = \bar\alpha dan γ=βˉ\gamma = -\bar\beta, lalu 1=detU=α2+β21 = \det U = \abs\alpha^2 + \abs\beta^2: sehingga U=Φ(q)U = \Phi(q) untuk kuaternion satuan qq berkoordinat α=a+ib\alpha = a + \iu b dan β=c+id\beta = c + \iu d. Jadi S3SU(2)S^3 \cong SU(2).

16. Skalar realnya bersifat pusat dan N(p)=1N(p) = 1 memberikan pqpˉ=pqˉpˉ\overline{pq\bar p} = p\bar q\bar p, sehingga pqpˉ+pqpˉ=p(q+qˉ)pˉ=q+qˉpq\bar p + \overline{pq\bar p} = p(q + \bar q)\bar p = q + \bar q: jadi bagian realnya invarian. Sebaliknya misalkan Req=Req=a\operatorname{Re}q = \operatorname{Re}q' = a; maka bagian murninya bernorma sama 1a2=s\sqrt{1 - a^2} = s. Jika s=0s = 0, maka q=q=±1q = q' = \pm1. Sedangkan jika s>0s > 0, tulislah q=a+suq = a + su dan q=a+suq' = a + su' dengan u,uu, u' murni satuan; lalu pertanyaan 6 menyediakan sebuah rotasi yang membawa uu' ke uu, yakni pS3p \in S^3 dengan ρp(u)=u\rho_p(u') = u, sehingga pqpˉ=a+sρp(u)=qpq'\bar p = a + s\rho_p(u') = q. Jadi kelas S3S^3-nya adalah {1}\{1\}, {1}\{-1\}, dan untuk setiap a(1,1)a \in \intoo{-1}1 bola-22 {a+su:u murni satuan}\{a + su : u \text{ murni satuan}\} berjari-jari ss. Lalu di bawah Φ\Phi, trΦ(q)=α+αˉ=2Req\operatorname{tr}\Phi(q) = \alpha + \bar\alpha = 2\operatorname{Re}q: sehingga kelas SU(2)SU(2)-nya adalah himpunan aras tracenya. Lalu dengan memproyeksikannya: jika q=pqpˉq' = pq\bar p maka ρq=ρpρqρp1\rho_{q'} = \rho_p\rho_q\rho_p^{-1}; sebaliknya ρq=ρpρqρp1=ρpqpˉ\rho_{q'} = \rho_p\rho_q\rho_p^{-1} = \rho_{pq\bar p} memaksa q=±pqpˉq' = \pm pq\bar p (lewat kernelnya), sehingga Req=±Req\operatorname{Re}q' = \pm\operatorname{Re}q, yakni cosθ2=Req=Req=cosθ2\cos\frac{\theta'}2 = \abs{\operatorname{Re}q'} = \abs{\operatorname{Re}q} = \cos\frac\theta2 bagi sudutnya di [0,π]\intcc0\pi: jadi rotasi yang konjugat bersudut sama. Sebaliknya, sudut yang sama mengizinkan wakil yang berbagian real tak negatif sama, yang konjugat lewat cara di atas: jadi di SO(3)SO(3), kelas konjugasi sebuah rotasi tepat berupa sudutnya.

17. Karena NN multiplikatif, \abs\cdot merupakan norma multiplikatif pada HR4\mathbb H \cong \R^4 dan qk=qk\abs{q^k} = \abs q^k: sehingga deret qk/k!\sum q^k/k! konvergen mutlak pada ruang berdimensi berhingga (jadi lengkap) itu, yang terdominasi qk/k!=eq\sum\abs q^k/k! = \eu^{\abs q}. Lalu untuk uu yang murni satuan: u2=1u^2 = -1, sehingga (θu)2m=(1)mθ2m(\theta u)^{2m} = (-1)^m\theta^{2m} dan (θu)2m+1=(1)mθ2m+1u(\theta u)^{2m+1} = (-1)^m\theta^{2m+1}u; lalu dengan memisahkan deretnya,

exp(θu)=m(1)mθ2m(2m)!+um(1)mθ2m+1(2m+1)!=cosθ+sinθu.\exp(\theta u) = \sum_m\frac{(-1)^m\theta^{2m}}{(2m)!} + u\sum_m\frac{(-1)^m\theta^{2m+1}}{(2m+1)!} = \cos\theta + \sin\theta\,u .

Sedangkan setiap qS3q \in S^3 berupa cosα+sinαu\cos\alpha + \sin\alpha\,u dengan α[0,π]\alpha \in \intcc0\pi (pertanyaan 5): jadi q=exp(αu)q = \exp(\alpha u), sehingga exp(P)=S3\exp(P) = S^3. Akhirnya exp(su)=coss+sinsu=q(2s)\exp(su) = \cos s + \sin s\,u = q(2s) dalam notasi pertanyaan 9, dan ρq(t)=etAu\rho_{q(t)} = \eu^{tA_u} di sana: sehingga ρexp(su)=e2sAu\rho_{\exp(su)} = \eu^{2sA_u}.

18. Dengan menguraikan vwvw koordinat demi koordinat lewat tabelnya: hasil kali ii=1\mathrm i\cdot\mathrm i = -1, … memberikan skalar (v1w1+v2w2+v3w3)-(v_1w_1 + v_2w_2 + v_3w_3), sedangkan hasil kali campurannya (ij=k\mathrm{ij} = \mathrm k, ji=k\mathrm{ji} = -\mathrm k, …) memberikan vektor (v2w3v3w2, v3w1v1w3, v1w2v2w1)(v_2w_3 - v_3w_2,\ v_3w_1 - v_1w_3,\ v_1w_2 - v_2w_1): jadi vw=v,w+vwvw = -\langle v, w\rangle + v\wedge w. Lalu dengan mengurangkan hasil kali terbaliknya: vwwv=2vwvw - wv = 2\,v\wedge w (sebab bagian skalarnya meniadakan diri, sedangkan hasil kali silangnya menjumlah). Untuk matriksnya, dengan a(bc)=ba,cca,ba\wedge(b\wedge c) = b\langle a, c\rangle - c\langle a, b\rangle:

[Av,Aw]x=v(wx)w(vx)=wv,xvw,x=(vw)x=Avwx.[A_v, A_w]x = v\wedge(w\wedge x) - w\wedge(v\wedge x) = w\langle v, x\rangle - v\langle w, x\rangle = (v\wedge w)\wedge x = A_{v\wedge w}x .

Untuk turunannya: exp(tv)=exp(tv)\overline{\exp(tv)} = \exp(-tv) (sebab pengonjugatannya kontinu dan menegasikan kuaternion murni), sehingga

 ⁣d ⁣dtt=0exp(tv)xexp(tv)=vxxv=2vx=2Avx:\frac{\dd}{\dd t}\Bigr|_{t=0}\exp(tv)\,x\,\exp(-tv) = vx - xv = 2\,v\wedge x = 2A_vx :

sehingga diferensialnya adalah v2Avv \mapsto 2A_v, yakni bijeksi linear dari PP ke matriks antisetangkupnya, dan [2Av,2Aw]=4Avw=2A2vw=2A[v,w][2A_v, 2A_w] = 4A_{v\wedge w} = 2A_{2v\wedge w} = 2A_{[v,w]} menunjukkan bahwa ia membawa komutator kuaternionnya ke komutator matriksnya.

19. Dengan menerapkan ρ\rho: ρ(ε(t))=ρ(s(R(t)))ρ(q(t))1=R(t)R(t)1=id\rho(\varepsilon(t)) = \rho(s(R(t)))\,\rho(q(t))^{-1} = R(t)R(t)^{-1} = \operatorname{id}, sehingga ε(t)kerρ={±1}\varepsilon(t) \in \ker\rho = \{\pm1\} (pertanyaan 4). Lalu sebagai hasil kali pemetaan kontinu ts(R(t))t \mapsto s(R(t)) dan tq(t)1=q(t)ˉt \mapsto q(t)^{-1} = \bar{q(t)}, ε\varepsilon bersifat kontinu pada selang terhubung [0,2π]\intcc0{2\pi} dengan nilai pada pasangan diskret {±1}\{\pm1\}: sehingga ia konstan, katakanlah ε(t)ε\varepsilon(t) \equiv \varepsilon. Padahal R(0)=R(2π)=IR(0) = R(2\pi) = I, sehingga s(R(0))=s(R(2π))s(R(0)) = s(R(2\pi)), sedangkan s(R(0))=εq(0)=εs(R(0)) = \varepsilon\,q(0) = \varepsilon dan s(R(2π))=εq(2π)=εs(R(2\pi)) = \varepsilon\,q(2\pi) = -\varepsilon: jadi bertentangan. Sehingga tak ada seksi kontinu yang ada: jadi ketaktentuan tanda ±q\pm q bersifat global, bukan cacat sebuah rumus tertentu.

20. Untuk kesurjektifannya: setiap RSO(3)R \in SO(3) berupa eθAu\eu^{\theta A_u} untuk suatu uu satuan dan θ[0,2π]\theta \in \intcc0{2\pi} (pertanyaan 6 dan 8); lalu jika θ>π\theta > \pi, Rodrigues memberikan eθAu=e(2πθ)Au\eu^{\theta A_u} = \eu^{(2\pi - \theta)A_{-u}} (sebab keduanya sama dengan I+sinθAu+(1cosθ)Au2I + \sin\theta A_u + (1 - \cos\theta)A_u^2, dan Au=AuA_{-u} = -A_u dengan sin(2πθ)=sinθ\sin(2\pi - \theta) = -\sin\theta serta cos(2πθ)=cosθ\cos(2\pi - \theta) = \cos\theta), sehingga R=E(v)R = E(v) dengan vπ\norm v \leq \pi. Untuk keinjektifannya di dalam: jika E(v)=E(v)IE(v) = E(v') \neq I dengan v,v<π\norm v, \norm{v'} < \pi, maka pertanyaan 13 memulihkan sudut θ=v=v(0,π)\theta = \norm v = \norm{v'} \in \intoo0\pi yang sama dari tracenya dan, karena sinθ0\sin\theta \neq 0, sumbu yang sama dari bagian antisetangkupnya: jadi v=vv = v'; sedangkan E(v)=IE(v) = I memaksa θ{0}\theta \in \{0\} pada bola terbukanya. Untuk batasnya: E(πu)=I+2Au2=2uuTIE(\pi u) = I + 2A_u^2 = 2uu^{\mathsf T} - I bergantung pada uu hanya lewat uuTuu^{\mathsf T}, sehingga E(πu)=E(πu)E(\pi u) = E(-\pi u); dan sebaliknya 2uuTI=2uuTI2uu^{\mathsf T} - I = 2u'u'^{\mathsf T} - I yang diterapkan pada uu memberikan u=u,uuu = \langle u', u\rangle u', sehingga u=±uu' = \pm u. Sedangkan interior dan batasnya tak pernah bertumbukan (sebab tracenya >1> -1 lawan =1= -1). Jadi EE menginduksi bijeksi kontinu dari bola-dengan-perekatan-antipodalnya — yang kompak — ke SO(3)SO(3): yakni sebuah homeomorfisma, sehingga SO(3)RP3SO(3) \cong \mathbb{RP}^3. Dan sebuah diameter dari πu\pi u ke πu-\pi u berujung terekat: jadi ia sebuah gelung di SO(3)SO(3), dan pemerian-EE-nya cocok dengan keluarga rotasi pertanyaan 10 terhadap uu yang menyapu satu putaran penuh.

21. Karena ρ\rho merupakan morfisma dan ρp1=ρp1=ρpˉ\rho_p^{-1} = \rho_{p^{-1}} = \rho_{\bar p}, maka ρpρqρp1=ρpqpˉ\rho_p\rho_q\rho_p^{-1} = \rho_{pq\bar p}; lalu menurut pertanyaan 16, mengonjugatkan sebuah rotasi mengawetkan sudutnya dan memutar sumbunya oleh ρp\rho_p. Untuk involusinya: ρq2=ρq2=id\rho_q^2 = \rho_{q^2} = \operatorname{id} jika dan hanya jika q2=±1q^2 = \pm1. Jika q2=1q^2 = 1 maka (q1)(q+1)=q21=0(q - 1)(q + 1) = q^2 - 1 = 0 (sebab skalar pusatnya, sehingga pemfaktoran ini sahih) dan q=±1q = \pm1 pada ring pembagi H\mathbb H, yang memberikan ρq=I\rho_q = I, jadi terkecualikan; sedangkan q2=1q^2 = -1 dengan q=a+suq = a + su memberikan a2s2+2asu=1a^2 - s^2 + 2as\,u = -1, sehingga a=0a = 0 dan s=1s = 1: jadi qq berupa murni satuan ww, dan ρw\rho_w adalah setengah putaran terhadap ww (bersudut π\pi, pertanyaan 5). Untuk pusatnya: jika ρq\rho_q komutatif dengan setiap ρp\rho_p, maka ρpqpˉ=ρq\rho_{pq\bar p} = \rho_q, sehingga pqpˉ=ε(p)qpq\bar p = \varepsilon(p)\,q dengan ε(p){±1}\varepsilon(p) \in \{\pm1\}; lalu pε(p)=(pqpˉ)q1p \mapsto \varepsilon(p) = (pq\bar p)q^{-1} bersifat kontinu pada S3S^3 yang terhubung dan bernilai 11 di p=1p = 1, sehingga 1\equiv 1: jadi qq komutatif dengan seluruh S3S^3, sehingga dengan seluruh H\mathbb H (lewat penskalaannya), jadi qRS3={±1}q \in \R \cap S^3 = \{\pm1\} (pertanyaan 1) dan ρq=I\rho_q = I: sehingga pusatnya trivial.

22. Karena uwu \perp w berupa murni satuan, uw=uwuw = u\wedge w bersifat murni (pertanyaan 18), sehingga

w=qw=cosθ2w+sinθ2uww' = qw = \cos\tfrac\theta2\,w + \sin\tfrac\theta2\,u\wedge w

bersifat murni, bernorma qw=1\abs q\abs w = 1. Lalu ww=qww=qw2=qw'w = qw\cdot w = qw^2 = -q, dan

ρwρw=ρww=ρq=ρq.\rho_{w'}\rho_w = \rho_{w'w} = \rho_{-q} = \rho_q .

Sedangkan kedua sumbunya ww dan w=cosθ2w+sinθ2(uw)w' = \cos\frac\theta2 w + \sin\frac\theta2(u\wedge w) terletak pada bidang uu^\perp yang ortogonal terhadap sumbu rotasinya, dan w,w=cosθ2\langle w', w\rangle = \cos\frac\theta2: sehingga keduanya bersudut separuh θ2\frac\theta2. Inilah pembangkitan klasiknya: bahwa dua setengah putaran terhadap sumbu yang bersudut θ2\frac\theta2 berkomposisi menjadi rotasi bersudut θ\theta terhadap tegak lurus bersamanya.

23. Kekompakannya adalah pertanyaan 7. Untuk keterhubungan lintasannya: SO(3)=ρ(S3)SO(3) = \rho(S^3) merupakan peta kontinu bola yang terhubung lintasan; sedangkan sebagai alternatif, untuk R=eAR = \eu^{A} dengan AA yang antisetangkup (pertanyaan 8), tetAt \mapsto \eu^{tA} merupakan lintasan di SO(3)SO(3) dari II ke RR (yang ortogonal sebab (etA)T=etA(\eu^{tA})^{\mathsf T} = \eu^{-tA}, dengan determinan 11 lewat kekontinuannya dari t=0t = 0). Untuk O(3)O(3): det\det bersifat kontinu ke {±1}\{\pm1\}, sehingga O(3)O(3) tak terhubung, O(3)=SO(3)DSO(3)O(3) = SO(3) \sqcup D\,SO(3) untuk sembarang DD yang tetap dengan detD=1\det D = -1 (misalnya D=ID = -I), dan perkalian kiri oleh DD merupakan homeomorfisma: jadi tepat dua komponen, yang masing-masingnya salinan SO(3)SO(3). Jadi ρ\rho yang dua-ke-satu, yang bebas seksi menurut pertanyaan 19, merupakan selimut ganda yang jujur atas sebuah grup kompak terhubung oleh S3S^3 yang terhubung sederhana — yakni geometri di balik kiat sabuknya.

24. (i) Untuk matriksnya:

R1=(010100001),R2=(100001010),R2R1=(010001100).R_1 = \begin{pmatrix} 0 & -1 & 0\\ 1 & 0 & 0\\ 0 & 0 & 1 \end{pmatrix}, \quad R_2 = \begin{pmatrix} 1 & 0 & 0\\ 0 & 0 & -1\\ 0 & 1 & 0 \end{pmatrix}, \quad R_2R_1 = \begin{pmatrix} 0 & -1 & 0\\ 0 & 0 & -1\\ 1 & 0 & 0\end{pmatrix}.

Jejaknya 0=1+2cosθ0 = 1 + 2\cos\theta memberikan cosθ=12\cos\theta = -\frac12: sehingga θ=2π3\theta = \frac{2\pi}3. Sedangkan bagian antisetangkupnya RRT2\frac{R - R^{\mathsf T}}2 berentri yang menyandikan sumbunya secara sinθ(v3,v2,v1)\sin\theta\,(v_3, -v_2, v_1): di sini RRT2=12(011101110)\frac{R - R^{\mathsf T}}2 = \frac12\bigl(\begin{smallmatrix}0 & -1 & -1\\ 1 & 0 & -1\\ 1 & 1 & 0\end{smallmatrix}\bigr), yang terbaca (lewat kamus AvA_v Bagian V) sebagai vsinθ=12(1,1,1)v\sin\theta = \frac12(1, -1, 1); lalu dengan sin2π3=32\sin\frac{2\pi}3 = \frac{\sqrt3}2: v=13(1,1,1)v = \frac1{\sqrt3}(1, -1, 1). (ii) Untuk kuaternionnya: q1=cosπ4+sinπ4k=22(1+k)q_1 = \cos\frac\pi4 + \sin\frac\pi4\,k = \frac{\sqrt2}2(1 + k), q2=22(1+i)q_2 = \frac{\sqrt2}2(1 + i), dan

q2q1=12(1+i)(1+k)=12(1+k+i+ik)=12(1+ij+k)q_2q_1 = \tfrac12(1 + i)(1 + k) = \tfrac12(1 + k + i + ik) = \tfrac12\bigl(1 + i - j + k\bigr)

(sebab ik=jik = -j). Jadi cosθ2=12\cos\frac\theta2 = \frac12: sehingga θ=2π3\theta = \frac{2\pi}3, dan bagian vektornya 12(ij+k)\frac12(i - j + k) berarah 13(1,1,1)\frac1{\sqrt3}(1, -1, 1) — yakni jawaban yang sama, dengan jalur kuaternionnya hanya memerlukan satu baris perkalian alih-alih sebuah hasil kali matriks: yakni alasan praktis perangkat lunak penerbangan mengomposisikan sikapnya di S3S^3.

25. Untuk keterbalikan I+KI + K: (I+K)v=0(I + K)v = 0 memberikan 0=v,v+v,Kv=v20 = \langle v, v\rangle + \langle v, Kv\rangle = \norm v^2 (sebab keantisetangkupannya membunuh suku keduanya): jadi v=0v = 0. Untuk keortogonalan C=C(K)C = C(K): dengan memakai (I±K)T=IK(I \pm K)^{\mathsf T} = I \mp K dan fakta bahwa keempat matriks I±KI \pm K dan (I±K)1(I \pm K)^{-1} komutatif (sebab ungkapan polinomial dalam KK, ditambah limitnya):

CTC=(I+K)T(IK)T(IK)(I+K)1=(IK)1(I+K)(IK)(I+K)1=I.C^{\mathsf T}C = (I + K)^{-\mathsf T}(I - K)^{\mathsf T} (I - K)(I + K)^{-1} = (I - K)^{-1}(I + K)(I - K)(I + K)^{-1} = I .

Untuk determinannya: det(IK)=det((IK)T)=det(I+K)\det(I - K) = \det\bigl((I - K)^{\mathsf T}\bigr) = \det(I + K), sehingga detC=1\det C = 1: jadi CSO(n)C \in SO(n). Tak ada nilai eigen 1-1: sebab Cv=vCv = -v berarti (IK)w=(I+K)w(I - K)w = -(I + K)w untuk w=(I+K)1vw = (I + K)^{-1}v, yakni 2w=02w = 0: jadi v=0v = 0. Untuk pembalikannya: dari C(I+K)=IKC(I + K) = I - K, selesaikanlah K(I+C)=ICK(I + C) = I - C; lalu karena 1SpC-1 \notin \operatorname{Sp}C, I+CI + C bersifat terbalikkan dan K=(IC)(I+C)1K = (I - C)(I + C)^{-1}, yang bersifat antisetangkup setiap kali CC ortogonal tanpa nilai eigen 1-1 (transposkanlah ungkapannya lalu pakai CT=C1C^{\mathsf T} = C^{-1}: KT=(IC1)(I+C1)1=(CI)(C+I)1=KK^{\mathsf T} = (I - C^{-1})(I + C^{-1})^{-1} = (C - I)(C + I)^{-1} = -K). Jadi kedua pemetaannya saling berbalikan menurut konstruksinya: yakni sebuah parametrisasi rasional global atas kepingan terbuka padat SO(n)SO(n) yang menghindari nilai eigen 1-1 — tanpa deret, tanpa trigonometri, dan dalam dimensi 33 ia merupakan substitusi setengah sudut K=tanθ2AvK = \tan\frac\theta2\,A_v yang menyamar.

Istilah yang didefinisikan dalam bab ini

Lihat semua 395 istilah di glosarium