Penciuman bermula di sepetak epitelium di puncak hidung, tempat sekitar sepuluh juta neuron indra penciuman masing-masing mengungkapkan satu gen reseptor penciuman dari sekitar pada manusia ( pada mencit, keluarga gen terbesar pada kedua genom) — yakni reseptor tergandeng-protein G yang mengikat molekul zat bau di dalam sebuah kantung lalu, lewat AMP siklik, membuka sebuah saluran. Tiap reseptor mengikat beberapa zat bau dan tiap zat bau mengikat beberapa reseptor, sehingga sebuah bau adalah sebuah sandi kombinatoris, yakni sebuah pola keaktifan di seluruh jenis reseptornya, dan sebuah perubahan satu karbon pada sebuah molekul mengubah polanya dan baunya. Semua neuron yang mengungkapkan satu reseptor mengirim aksonnya ke satu atau dua glomerulus yang sama di dalam bulbus penciumannya, sehingga bulbusnya memuat sebuah peta yang di dalamnya tiap bau adalah sebuah pola ruang glomerulus yang aktif, yang dibaca korteksnya tanpa melewati talamus. Pengecapan lebih sederhana: lima modalitas, masing-masing sebuah jalur berlabel dari sel reseptornya sendiri — manis, gurih, dan pahit lewat reseptor tergandeng-protein G (satu reseptor manis, satu gurih, sekitar dua puluh lima pahit), asin lewat sebuah saluran natrium, asam lewat sebuah saluran proton — dan sisa dari apa yang kita sebut cita rasa adalah baunya, yang mencapai hidungnya lewat belakang mulutnya.