Matematika Universitas — Tahun 2 · Bachelor Year 2
9Pengintegralan
Jilid Tahun ke-1 membangun integral pada sebuah ruas. Bab ini memperluasnya ke interval sembarang (yakni integral tak wajar, lengkap dengan kotak perkakas perbandingannya), lalu menelaah integral yang bergantung pada sebuah parameter — kekontinuan dan penurunan di bawah tanda integral — yang digerakkan teorema kekonvergenan terdominasi, satu-satunya hasil bab ini yang diterima tanpa bukti. Fungsi menjadi contoh yang berjalan terus, sekaligus gerbang menuju separuh fungsi khusus dalam matematika.
9.1 Integral pada interval sembarang
Definisi 9.1
Misalkan kontinu sepotong-sepotong pada ( atau ). Integralnya disebut konvergen apabila ada; limitnya lalu ditulis . (Serupa itu pada , dan pada dengan memecahnya di sebuah titik dalam — pilihan titiknya tak berpengaruh, menurut Chasles.) Integralnya disebut konvergen mutlak apabila konvergen; dan kekonvergenan mutlak mengakibatkan kekonvergenan, lewat kriteria Cauchy:
beserta kelengkapan (sebab antiturunannya punya sifat Cauchy). Secara rinci: misalkan dan . Jika konvergen, maka punya limit di , jadi untuk setiap ada dengan setiap kali ; lalu ungkapan di atas memindahkan sifat Cauchy itu ke . Untuk sembarang barisan , nilai lalu membentuk barisan Cauchy berisi bilangan real, yang konvergen berkat kelengkapan, dan menyelang-nyelingkan dua barisan semacam itu menunjukkan limitnya sama untuk semuanya: jadi punya limit di .
Teorema 9.2 (Kotak perkakas perbandingan positif)
Untuk yang kontinu sepotong-sepotong pada :
- konvergen bila dan hanya bila antiturunannya terbatas;
- jika : kekonvergenan memaksa kekonvergenan ; sedangkan kedivergenannya berpindah ke arah sebaliknya;
- jika di : kedua integralnya bersifat sama;
- skala acuannya: di , konvergen bila dan hanya bila , dan bila dan hanya bila ; sedangkan di ujung hingga , integral konvergen bila dan hanya bila .
Bukti. (1) Antiturunan tidak turun (sebab ). Jika ia terbatas, maka hingga dan : sebab diberikan , ada , lalu kemonotonannya menjebak untuk . Jika ia tak terbatas, maka : jadi divergen.
(2) Dari : untuk setiap ; jika konvergen, maka ruas kanannya terbatas, sehingga ruas kirinya pun terbatas, lalu (1) merampungkannya. Kontraposisinya memindahkan kedivergenannya ke arah sebaliknya.
(3) Dari di diperoleh dengan
jadi menurut (2) yang diterapkan dua arah pada , kedua integralnya bersifat sama; sedangkan potongan awalnya merupakan integral wajar dan tidak mengubah apa pun.
(4) Antiturunan gamblangnya: untuk dan ,
dengan logaritma pada kasus yang dikecualikan: dan itu terbatas ketika persis bila , atau . Di ujung yang hingga, penyulihan menyusutkannya ke skala , yang terbatas bila dan hanya bila . Terapkan (1) setiap kali. ∎
Contoh 9.3 (Dua pemanasan, dikerjakan sampai tuntas)
(a) : integrannya meledak di , tetapi di sana (sebab logaritma kalah oleh pangkat), dan konvergen: jadi konvergen mutlak. Nilainya, lewat pengintegralan parsial pada :
(b) : masalahnya ada di kedua ujungnya, jadi pecahlah di . Di dekat : terintegralkan seperti pada (a); di dekat : , jadi konvergen mutlak. Penyulihan memetakan pada dan
jadi kedua paruhnya saling coret, dan integralnya bernilai . Pelajaran penutupnya: kesetangkupan terhadap berharga satu halaman perhitungan — dan siasat yang sama sudah menggerakkan Latihan 9.3.
Contoh 9.4 (Satu nilai, tiga integral)
Telaahlah . Di : , jadi integrannya diperluas secara kontinu oleh nilai — sama sekali tak ada kesingularan. Di : , jadi konvergen mutlak (Teorema 9.2). Nilainya: integralkan secara parsial pada dengan dan :
Kurungnya nol di kedua ujungnya (sebab , dan pembilangnya terbatas di ), sedangkan integralnya menuju nilai Dirichlet (Latihan 9.10): jadi . Pelajaran penutupnya: dengan dan ,
ketiga klasiknya, yakni , (Latihan 9.11) dan , semuanya bernilai , yang diedarkan lewat pengintegralan parsial dan penyulihan — dan hanya yang pertama yang semi-konvergen: sebab pengintegralan parsialnya menukar kekonvergenan mutlaknya dengan integran yang lebih sederhana.
Contoh 9.5 (Sebuah integral semi-konvergen)
konvergen: integralkan secara parsial,
dengan kurungnya berlimit dan integral terakhirnya konvergen mutlak (sebab ). Namun tidak mutlak: sebab dari ,
dengan integral terakhirnya konvergen lewat pengintegralan parsial yang sama seperti di atas (dengan di kurungnya): jadi potongan divergen dikurangi potongan konvergen bersifat divergen. Karenanya konvergen tanpa konvergen mutlak — yakni padanan integral bagi deret berselang-seling, dengan pengintegralan parsial berperan sebagai uji berselang-selingnya.
9.2 Teorema kekonvergenan
Teorema 9.6 (Kekonvergenan terdominasi)
Misalkan kontinu sepotong-sepotong pada sebuah interval , konvergen titik demi titik ke yang kontinu sepotong-sepotong, dan andaikan ada tetap yang terintegralkan () dengan
Maka semua dan konvergen mutlak, dan
Bukti. Diterima tanpa bukti pada tingkat ini. ∎
Catatan 9.7
Bukti jujurnya menjadi milik teori pengintegralan Lebesgue pada Tahun ke-3; namun pernyataannya dipakai terus-menerus mulai sekarang. Hipotesis dominasinya adalah seluruh intinya: sebab kekonvergenan titik demi titik saja tidak cukup (, yakni bonggol yang meluncur: ). Teorema itu juga berlaku untuk parameter yang kontinu (, ), lewat pencirian limit secara barisan.
Contoh 9.8 (Sebuah limit Gauss, lewat dominasi)
Hitunglah dengan . Titik demi titik, (lewat limit bunga majemuk), jadi integrannya menuju . Dominasinya: barisan tidak turun untuk (sebab AM–GM pada faktor memberi ), jadi untuk :
yakni pendominasi yang terintegralkan ( di tak hingga). Kekonvergenan terdominasi memberi
(yakni integral Gauss pada Latihan 9.8). Pemeriksaan penutupnya: penyulihan menghitung secara eksak, , lalu asimtotik Wallis (Lema 6.11) memberi sekali lagi: jadi kedua pilar bab ini dan bab sebelumnya sepakat.
Contoh 9.9 (Kekonvergenan terdominasi, parameter kontinu)
Hitunglah
Untuk tiap berlaku ketika ; sedangkan dominasinya,
berlaku untuk setiap . Menurut bentuk berparameter kontinu pada Teorema 9.6 (lewat pencirian secara barisan: ujilah sepanjang setiap ),
Pelajaran penutupnya: satu titik , tempat limit titik demi titiknya dan bukan , tidak mengubah apa pun — sebab fungsi limitnya hanya masuk lewat integralnya, salah satu belas kasih teorema itu yang sunyi.
9.3 Integral dengan parameter
Teorema 9.10 (Kekontinuan di bawah tanda integral)
Misalkan ( sebuah ruang metrik, sebuah interval) dengan: kontinu sepotong-sepotong untuk tiap ; kontinu untuk tiap ; dan sebuah dominasi (dengan terintegralkan pada dan tak bergantung pada ). Maka
terdefinisi dan kontinu pada .
Bukti. Keterdefinisiannya: dominasinya memberi kekonvergenan mutlak. Kekontinuan di : untuk sembarang barisan , fungsi konvergen titik demi titik ke (berkat kekontinuan pada ) di bawah dominasi tetap : jadi kekonvergenan terdominasi memberi ; lalu rampungkan lewat pencirian kekontinuan secara barisan (Definisi 4.5). ∎
Teorema 9.11 (Penurunan di bawah tanda integral)
Misalkan ( sebuah interval parameter) dengan: terintegralkan pada untuk tiap ; berkelas untuk tiap , dengan turunan parsial yang kontinu sepotong-sepotong pada dan terdominasi: dengan terintegralkan. Maka berkelas pada dan
Bukti. Tetapkan dan . Hasil bagi selisihnya
punya integran yang konvergen titik demi titik ke , dan terdominasi oleh : sebab menurut ketaksamaan nilai rata-rata yang diterapkan pada dengan tetap,
Kekonvergenan terdominasi memberi limit bagi hasil baginya: jadi dapat diturunkan dengan turunan yang diumumkan tadi, yang kontinu menurut Teorema 9.10 yang diterapkan pada . ∎
Contoh 9.12 (Sebuah integral berparameter diperiksa terhadap rumusnya)
Misalkan untuk . Pada tiap , integrannya terdominasi oleh , yang terintegralkan dan tak bergantung pada : jadi kontinu (Teorema 9.10). Di sini teoremanya dapat diperiksa terhadap nilai gamblangnya:
yang jelas kontinu. Kini turunkan di bawah integralnya: turunan terhadap , yakni , terdominasi pada oleh yang terintegralkan, jadi Teorema 9.11 memberi
sehingga kita telah menghitung sebuah integral baru secara cuma-cuma: . Pelajaran penutupnya: menurunkan sebuah integral berparameter yang sudah dikenal adalah pabrik rumus baru — dan mengiterasikannya memberi untuk setiap , tanpa satu pun penyulihan trigonometri.
Metode 9.13 (Menelaah sebuah integral tak wajar)
Diberikan :
- Temukan masalahnya: daftarlah ujung (atau titik dalam) tempat tak terbatas atau tempat intervalnya tak hingga, lalu pecahlah sehingga tiap potongannya punya tepat satu ujung yang bermasalah.
- Jika bertanda tetap di dekat ujung itu, carilah yang setara lalu bandingkan dengan skala acuan pada Teorema 9.2.
- Jika berayun, ujilah lebih dulu (yakni kekonvergenan mutlaknya). Jika divergen, cobalah pengintegralan parsial untuk menukar ayunannya dengan peluruhan, seperti pada Contoh 9.5; sedangkan pembatasan bawah seperti mendeteksi semi-kekonvergenan yang sejati.
- Untuk nilainya, bukan sekadar sifatnya: pakailah pengintegralan parsial, penyulihan, atau sebuah parameter (turunkan integral yang lebih sederhana, seperti pada Contoh 9.12 dan Contoh 9.21).
- Pemeriksaan kewarasan atas nilai yang terhitung: periksa tanda dan ukuran kasarnya terhadap batas yang kasar (, jadi memang masuk akal); serta keselarasan dimensinya di bawah penskalaan (sebab wajib menskalakan kedua ruasnya dengan cara yang sama — yakni pendeteksi tercepat bagi faktor yang hilang).
Catatan 9.14 (Jebakan yang sering muncul)
Ada tiga galat yang berulang. (i) Pendominasi yang bergantung pada parameternya: dominasi wajib seragam pada di himpunan yang ditinjau; lazimnya ia berlaku pada ruas tetapi tidak secara global — sebab bagi tak ada pendominasi terintegralkan yang sahih untuk setiap , namun mendominasinya pada sudah cukup untuk bekerja pada seluruh setengah-garis terbukanya, sebab kekontinuan dan turunan merupakan gagasan yang lokal. (ii) Membandingkan integran bertanda: kotak perkakas perbandingannya untuk fungsi tak negatif; dari dengan yang divergen kita tak dapat menyimpulkan apa pun — konvergen walaupun setiap pembandingan dengan gagal. (iii) Melupakan separuh masalahnya: pada selalulah menelaah kedua ujungnya secara terpisah; sebab divergen di keduanya, dan pemecahan yang tampak konvergen dapat diam-diam mencoret dua ketakhinggaan. Refleks yang aman adalah daftar periksa pada Metode 9.13.
Contoh 9.15 (Sebuah kasus batas Bertrand, sampai ke angkanya)
Skala pada Teorema 9.2 duduk persis di tepi skala pangkatnya; kasus batasnya pantas mendapat satu perhitungan penuh. Untuk :
yakni integral konvergen dengan nilai eksak yang menyenangkan; sedangkan untuk ,
jadi divergen — tetapi begitu lambat sehingga mencapai menuntut . Pelajaran penutupnya: di antara “setiap pangkat konvergen” dan “ divergen” hidup tangga tak hingga berisi skala logaritmik, yang masing-masing memperhalus yang sebelumnya; dan penyulihan meruntuhkan tiap anak tangganya ke anak tangga sebelumnya, sehingga kriteria Bertrand menggemakan kriteria Riemann satu tingkat di atasnya.
Catatan 9.16 (Pandangan ke depan di dalam jilid ini)
Perkakas bab ini sebentar lagi ada di mana-mana. Kekonvergenan terdominasi adalah mesin di balik identitas hampiran pada bab berikutnya (yakni kernel yang meluncur, baik Bernstein maupun Fejér); sedangkan kekontinuan dan penurunan di bawah tanda integral menghasilkan kalkulus koefisien Fourier pada bab Fourier, tempat setiap merupakan integral berparameter yang menyamar. Fungsi kembali dua kali: pada bab integral lipat, tempat sebuah integral ganda akhirnya membuktikan rumus Beta–Gamma milik Euler selengkapnya, dan pada bab peluang, tempat integral bertipe menormalkan kepadatan bakunya lalu menghitung momennya. Adapun yang semi-konvergen muncul kembali sebagai konstanta Gibbs pada bab Fourier — integral yang sama, kini menakar lonjakan jumlah parsialnya di sebuah lompatan.
Definisi 9.17 (Fungsi )
Untuk :
yang konvergen di kedua ujungnya (sebab terintegralkan di untuk ; dan peluruhan eksponensialnya di ).
Teorema 9.18
Fungsi kontinu pada , memenuhi persamaan fungsional
dan berkelas (bahkan ) dengan .
Bukti. Persamaan fungsionalnya: integralkan secara parsial pada lalu lepaskan ujungnya: , dengan suku batasnya lenyap — memang ketika karena , dan ketika karena eksponensial mengalahkan setiap pangkat; sedangkan kedua integral terpotongnya konvergen ke nilai tak wajarnya berkat kekonvergenan yang sudah ditegakkan pada Definisi 9.17. Lalu ; dan induksi memberi faktorialnya.
Kekontinuannya pada : dominasilah oleh , yang terintegralkan dan tak bergantung pada : jadi Teorema 9.10 berlaku pada tiap ruas semacam itu, sehingga pada seluruh setengah-garisnya. Keterdiferensialannya: turunan terhadap , yakni , terdominasi pada oleh , yang tetap terintegralkan: jadi Teorema 9.11; lalu mengiterasikannya memberi semua turunannya (sebab tiap kali bertambah satu pangkat , yang tak berbahaya). ∎
Contoh 9.19 (Faktorial setengah bulat)
Persamaan fungsionalnya beserta (yang berjarak satu penyulihan dari Latihan 9.8: ambil pada integral pendefinisinya) menghasilkan semua nilai setengah bulatnya:
Karena , adil kiranya mengatakan “”: jadi faktorialnya telah diinterpolasi, dan kurva penginterpolasinya menukik di bawah di antara dan (dengan minimumnya di , yang cocok dengan gambaran kecembungan pada Bagian I soal akhir pekan). Pelajaran penutupnya: tak ada yang mengistimewakan bilangan bulat di dalam integral — kediskretan faktorialnya hanyalah kebetulan dari pencacahan, dan itulah yang hidup di antara dan .
Catatan 9.20 (Ke mana melangkah setelah ini)
Soal akhir pekan bab ini membangun seluruh kalkulus Euler di sekitar : yakni fungsi Beta, rekursi pengintegralan parsialnya, integral Wallis sebagai nilai Beta, dan rumus limit Gauss. Bab integral lipat membuktikan rumus Beta–Gamma milik Euler untuk semua argumennya lewat sebuah integral ganda; sedangkan bab peluang menjumpai lagi pada penormalan kepadatan yang paling lazim dan pada momen waktu tunggu. Jilid Tahun ke-3 membangun ulang di atas landasan Lebesgue, membuktikan teorema ketunggalan Bohr–Mollerup, lalu memperluas rumus Stirling dari bilangan bulat ke setengah-garis real lewat kekonvergenan terdominasi.
Contoh 9.21 (Sebuah perhitungan klasik lewat penurunan)
Untuk , misalkan (yang konvergen mutlak, terdominasi oleh ). Menurut Teorema 9.11 (dengan dominasi turunan terhadap oleh yang terintegralkan):
(lewat pengintegralan parsial dengan ). Persamaan diferensial terintegralkan menjadi : jadi integral bertipe Gauss memproduksi dirinya sendiri. Konstantanya dihitung pada Latihan 9.8 — dan sekali lagi, lewat pengintegralan ganda, pada Bab 20.
9.4 Latihan
Latihan 9.1 ★
Sifat dari: ; ; (bandingkan dengan perilaku bertipe harmonik yang divergen di dekat ).
Solusi
Solusi Latihan 9.1.
: di dekat ia (dengan , jadi konvergen); di dekat ia , jadi konvergen. Karenanya konvergen (nilainya , lewat penyulihan ).
: di sini , jadi konvergen (nilainya lewat pengintegralan parsial).
: divergen. Di dekat , tulis : maka , jadi pada berlaku ; karenanya
yakni suku sebuah deret bertipe harmonik yang divergen: jadi setelah dijumlahkan atas , antiturunannya tak terbatas.
Latihan 9.2 ★
Hitunglah () lewat , dan lewat penyulihan .
Solusi
Solusi Latihan 9.2.
Sulihkan :
Dengan (sehingga ):
Latihan 9.3 ★
Buktikan bahwa terdefinisi dengan baik untuk setiap dan tak bergantung pada . (Sulihkan lalu rata-ratakan kedua ungkapannya.) Berapa nilainya?
Latihan 9.4 ★★
(Integral Bertrand di ujung yang hingga) Untuk yang mana konvergen?
Solusi
Solusi Latihan 9.4.
Di dekat , dengan . Jika : konvergen berapa pun (bandingkan dengan untuk : sebab faktor logaritmanya terkalahkan). Jika : divergen berapa pun (bandingkan dengan dengan ). Jika : sulihkan :
yang konvergen bila dan hanya bila . Ringkasnya: konvergen bila dan hanya bila , atau ( dan ) — yakni cerminan deret Bertrand.
Latihan 9.5 ★★
Misalkan untuk . Buktikan bahwa kontinu pada , berkelas pada , memenuhi di sana, dan bahwa ketika .
Solusi
Solusi Latihan 9.5.
Kekontinuannya pada : lewat dominasi , yang terintegralkan dan seragam pada : jadi Teorema 9.10.
Kelas pada : pada , kedua turunan pertamanya terhadap , yakni dan , terdominasi oleh dan : jadi dua kali penerapan Teorema 9.11. Maka
Limitnya: .
Latihan 9.6 ★★
(Frullani) Misalkan kontinu pada dengan limit hingga di . Buktikan bahwa untuk :
(Pada , sulihkan pada tiap potongannya lalu kelompokkan ulang menjadi atas ; lalu apitlah dengan memakai kekontinuannya di dan limitnya di .) Hitunglah .
Solusi
Solusi Latihan 9.6.
Pada , sulihkan dan pada kedua paruhnya:
Potongan pertamanya: di dekat , dan : jadi potongan itu menuju . Potongan keduanya: , dengan perhitungan yang sama, jadi ia menuju . Karenanya integral tak wajarnya konvergen ke .
Dengan (sehingga , ), dan :
Latihan 9.7 ★★
Berilah pembenaran lalu hitunglah untuk (lewat kekonvergenan terdominasi dengan , memakai ; limitnya ).
Solusi
Solusi Latihan 9.7.
Perluaslah integrannya oleh di luar : . Titik demi titik, (yaitu limit bunga majemuk pada jilid Tahun ke-1). Dominasinya: memberi pada , jadi , yang terintegralkan. Kekonvergenan terdominasi memberi
(Menghitung ruas kirinya lewat pengintegralan parsial yang berulang memberi bentuk hasil kali Euler .)
Latihan 9.8 ★★★
(Integral Gauss lewat siasat parameter) Untuk tetapkan
Buktikan bahwa (turunkan di bawah integralnya lalu sulihkan pada integral yang dihasilkannya), lalu turunkan untuk setiap , dan simpulkan
Solusi
Solusi Latihan 9.8.
Fungsi dapat diturunkan terhadap (sebab integrannya pada , dengan turunan , yang kontinu dan terbatas pada himpunan kompak dalam , sedangkan dominasinya atas sepele):
sebab (lewat aturan rantai pada kuadratnya dan teorema dasar kalkulus). Jadi bersifat konstan, sama dengan .
Ketika : , jadi :
(Akibatnya , lewat penyulihan .)
Latihan 9.9 ★★★
Buktikan bahwa bersifat log-cembung: yakni cembung pada . (Cauchy–Schwarz untuk integral yang diterapkan pada memberi ; lalu padukan dengan kekontinuan dan Latihan 8.8.)
Solusi
Solusi Latihan 9.9.
Cauchy–Schwarz (jilid Tahun ke-1, yang sahih pada lalu dilewatkan ke limitnya) yang diterapkan pada pemfaktoran memberi
jadi cembung titik-tengah; dan karena ia kontinu (Teorema 9.18), ia cembung (Latihan 8.8). (Kelog-cembungan mengunci secara tunggal di antara semua interpolasi faktorialnya — itulah teorema Bohr–Mollerup, sebutir mutiara Tahun ke-3.)
Latihan 9.10 ★★★
(Integral Dirichlet) Tetapkan untuk .
- Berilah pembenaran bagi (turunkan di bawah integralnya; lalu hitung lewat dua kali pengintegralan parsial).
- Buktikan ketika lalu turunkan .
Dengan menerima kekontinuan di (yakni sebuah teorema bertipe Abel), simpulkan nilai integral yang semi-konvergen itu:
Solusi
Solusi Latihan 9.10.
Pada : turunan integrannya terhadap adalah , yang terdominasi oleh , jadi Teorema 9.11 memberi . Dua kali pengintegralan parsial (atau lewat eksponensial kompleks) memberi
- Berlaku . Lalu mengintegralkan dari sampai memberi , jadi .
- Dengan melewatkan beserta kekontinuan yang diterima tadi: , sedangkan (yakni integral Dirichlet yang semi-konvergen, Contoh 9.5): jadi nilainya .
Latihan 9.11 ★★
Berilah pembenaran bagi kekonvergenan , lalu hitunglah lewat satu kali pengintegralan parsial dan Latihan 9.10:
(Nilainya sama dengan — tetapi kali ini kekonvergenannya mutlak.)
Solusi
Solusi Latihan 9.11.
Kekonvergenannya: di dekat integrannya diperluas secara kontinu oleh nilai (sebab ); di tak hingga ia , jadi konvergen mutlak. Pada , integralkan secara parsial dengan dan :
(dengan pada integral terakhirnya). Kurungnya menuju di kedua ujungnya (sebab dan ), sedangkan integral terakhirnya menuju (Latihan 9.10). Karenanya
Latihan 9.12 ★★★
(Ekor Gauss) Untuk tetapkan .
Dengan menulis , integralkan secara parsial dua kali untuk memperoleh
Batasilah sisanya: , lalu turunkan pengapitannya
- Mengapa deret berselang-seling penuh yang diperoleh dengan mengiterasikan pengintegralan parsialnya tak pernah dapat konvergen untuk yang tetap? (Bandingkan pertumbuhan koefisien dengan pangkat .)
Solusi
Solusi Latihan 9.12.
Pengintegralan parsial dengan dan (sehingga ) memberi
Alat yang sama pada integral barunya (dengan dan ):
sehingga diperoleh kesamaan yang diumumkan tadi.
Satu kali pengintegralan parsial lagi membatasi sisanya:
jadi . Membuang sisa yang positif pada kesamaan pertanyaan 1 memberi batas bawahnya; sedangkan membuang suku kedua yang negatif pada pengintegralan parsial pertamanya memberi . Setelah pengapitannya dibagi : rasionya terapit di antara dan , jadi .
Mengiterasikan pengintegralan parsialnya menghasilkan deret formal
yang koefisien ke--nya tumbuh lebih cepat daripada barisan geometri mana pun: sebab untuk yang tetap, suku menuju tak hingga (rasionya ), sehingga deretnya divergen untuk setiap . Ia sebuah uraian asimtotik: dipotong pada orde tetap mana pun, galatnya seorde dengan suku pertama yang dibuang ketika — tetapi tak pernah menjadi deret yang konvergen. (Taksiran ekor ini adalah batas ekor Gauss yang baku pada bab peluang.)
9.5 Soal: Integral Euler — Beta, Gamma, dan rumus limit Gauss
Soal 9.1
Fungsi pada Definisi 9.17 adalah satu paruh kalkulus integral milik Euler; paruh satunya adalah fungsi Beta
Soal ini mengembangkan pasangan hanya dengan perkakas bab ini — pengintegralan parsial, penyulihan, dan kekonvergenan terdominasi — lalu memuncak pada rumus Beta–Gamma milik Euler pada bilangan setengah bulat, dan pada rumus limit Gauss bagi . Di sepanjang jalan, integral Wallis pada Lema 6.11 muncul kembali sebagai nilai Beta, dan rumus duplikasi Legendre pun jatuh dengan sendirinya.
Bagian I — Struktur halus .
Ingat kembali mengapa konvergen persis untuk , lalu tunjukkan
(lewat persamaan fungsionalnya ditambah kekontinuan di ).
- Buktikan (sulihkan lalu panggil Latihan 9.8), lalu turunkan .
Tunjukkan secara induktif, untuk :
- Berilah pembenaran bagi , lalu turunkan bahwa cembung tegas, mencapai minimum tunggal di suatu (sebab dan Rolle), turun pada lalu naik pada .
- Tunjukkan bahwa mengalahkan setiap pangkat: untuk tiap berlaku ketika (apitlah di antara bilangan bulat lalu pakai beserta kemonotonan pertanyaan 4).
Bagian II — Fungsi Beta, lewat pengintegralan parsial.
- Tunjukkan bahwa konvergen persis untuk dan , dan bahwa .
Hitunglah , lalu buktikan lewat pengintegralan parsial, untuk :
Dari pemecahan turunkan , lalu padukan dengan pertanyaan 7 menjadi relasi penurunan
Turunkan, untuk bilangan bulat :
Buktikan rumus Euler untuk satu argumen bulat: untuk setiap dan ,
(secara induktif pada : kedua ruasnya sama dengan di dan menuruti relasi penurunan yang sama).
Bagian III — Integral Wallis sebagai nilai Beta.
Sulihkan untuk memperoleh bentuk trigonometrinya
- Turunkan bagi integral Wallis , lalu peroleh kembali rekurensi pada Lema 6.11 hanya dari relasi penurunan pertanyaan 8.
- Hitunglah lalu periksalah terhadap : jadi rumus Euler berlaku di .
Turunkan bentuk tertutup dari rekurensinya, lalu periksalah
Simpulkan, secara induktif dengan relasi penurunannya, bahwa rumus Euler berlaku setiap kali dan merupakan bilangan bulat positif.
Sulihkan untuk memperoleh bentuk klasik ketiganya
lalu periksalah kasus secara langsung (sebab menyusutkannya menjadi ).
Bagian IV — Rumus limit Gauss.
Untuk dan , buktikan lewat kali pengintegralan parsial berturut-turut:
Rampungkan dengan Latihan 9.7 (yakni kekonvergenan terdominasi) sehingga diperoleh rumus limit Gauss:
Dengan mengambil logaritmanya, tunjukkan bahwa untuk :
dengan menyatakan konstanta Euler (Contoh 6.7); lalu berilah pembenaran bagi kekonvergenan deretnya (sebab suku umumnya ).
- Pakailah rumus Gauss di beserta asimtotik koefisien binomial pusat (Contoh 6.14) untuk menghitung ulang : jadi konstanta Stirling dan integral Gauss adalah bilangan yang sama dalam dua samaran.
Periksalah bahwa rumus Gauss membuktikan ulang persamaan fungsionalnya: dari kesamaan eksak
simpulkan sekali lagi. (Rumus Gauss menentukan secara tuntas; sedangkan jilid Tahun ke-3 membuktikan teorema Bohr–Mollerup yang lebih tajam: yakni persamaan fungsionalnya ditambah kelog-cembungannya sudah mengunci .)
Bagian V — Panennya.
- Untuk tunjukkan , lalu hitunglah limitnya ketika lewat kekonvergenan terdominasi (dengan limit titik demi titik ; dan dominasilah oleh pada serta oleh di luarnya, untuk ). Periksalah jawabannya terhadap kekontinuan .
Untuk tunjukkan
lalu peroleh kembali nilai (untuk ) dan (untuk ). (Untuk inilah konstanta lemniskat, yang tak punya bentuk tertutup yang elementer; kisahnya menjadi bagian teori integral eliptik.)
(Momen) Untuk dan , tunjukkan
yakni faktorial naiknya; lalu periksalah bahwa memberi . (Pada bab peluang, inilah momen ke- sebuah kepadatan waktu tunggu yang baku.)
Buktikan kesamaan Beta berikut, yang sahih untuk setiap :
(sulihkan , manfaatkan kesetangkupannya pada , lalu ambil ). Lalu turunkan, untuk , rumus duplikasi Legendre
dan periksalah secara langsung di lewat pertanyaan 3. (Untuk yang umum ia menyusul dari kesamaan yang sama begitu rumus Euler diketahui untuk semua argumennya — lewat bukti integral ganda pada bab integral lipat.)
- Rangkuman. Satu kalimat untuk masing-masing: (i) di mana pengintegralan parsial mengusung seluruh Bagian II; (ii) di mana kekonvergenan terdominasi masuk ke Bagian IV dan V; (iii) masukan asimtotik mana yang diimpor dari bab perbandingan; (iv) apa yang kini terbukti dari rumus Euler , dan apa yang tersisa untuk diselesaikan integral gandanya.
Solusi
Solusi Soal 9.1.
1. Di integrannya : skala ujung hingganya konvergen bila dan hanya bila , yakni (dan untuk , divergen); sedangkan di , konvergen untuk setiap . Lalu dan ketika (lewat kekontinuan, Teorema 9.18): jadi .
2. Dengan dan :
menurut Latihan 9.8. Dengan :
3. Benar untuk (sebab kedua ruasnya ). Jika , maka persamaan fungsionalnya memberi
dengan langkah terakhirnya berlaku karena dan .
4. Teorema 9.18 memberi (lewat dua kali penerapan aturan Leibniz, dengan dominasi seperti pada bukti teoremanya); integrannya dan tidak nol secara identik, jadi : sehingga cembung tegas dan naik tegas. Karena , Rolle menyediakan dengan ; lalu kemonotonan tegas menjadikan satu-satunya nolnya, dengan sebelumnya dan sesudahnya: jadi turun pada , naik pada , dan menjadi minimum tunggalnya.
5. Misalkan dan ; pilihlah bilangan bulat dengan (sehingga ). Menurut kemonotonan pertanyaan 4 (yang sahih mulai ): , sedangkan . Karena (sebab faktorial mengalahkan pangkat, jilid Tahun ke-1), berlaku ketika : jadi .
6. Di dekat integrannya (yang konvergen bila dan hanya bila ), di dekat ia (bila dan hanya bila ); kedua perbandingannya antara fungsi positif, jadi konvergen persis untuk . Penyulihan menukar kedua faktornya: jadi .
7. Di sini . Pengintegralan parsial pada dengan dan memberi
dengan kurungnya nol di kedua ujungnya ketika (sebab di dan di ), sehingga tersisa .
8. Karena :
jadi . Pertanyaan 7 berbunyi ; setelah disulihkan,
yakni ; sedangkan relasi kembarannya menyusul dari kesetangkupan pertanyaan 6.
9. Induksi pada dengan tetap: , dan jika rumusnya berlaku di , maka
Setelah ditulis ulang: .
10. Kedua ruas sama dengan di (sebab dan ). Jika keduanya sepakat di , maka lewat relasi penurunannya dan persamaan fungsionalnya:
kedua barisannya menuruti rekursi yang sama dari benih yang sama, sehingga keduanya sepakat untuk setiap dan setiap .
11. Dengan (, ), berlaku dan , sehingga
12. Ambil (yang mematikan faktor kosinusnya) dan : maka , yakni . Relasi penurunan pada peubah pertamanya memberi
yakni rekurensi Wallis, kali ini tanpa pengintegralan parsial atas sinusnya — sebab Bagian II sudah mengerjakannya sekali untuk selamanya.
13. Di sini , sedangkan : jadi rumus Euler berlaku di .
14. Mengiterasikan dari memberi
sebab dan . Karenanya, dengan memakai pertanyaan 3:
Kini tetapkan . Rumus Euler berlaku di : untuk bulat inilah pertanyaan 10 (dengan kesetangkupannya), sedangkan untuk inilah ungkapan di atas. Kedua ruas rumus Euler menuruti rekursi penurunan (pertanyaan 8 di kiri, persamaan fungsionalnya di kanan, seperti pada pertanyaan 10): jadi induksi merambatkan rumusnya dari dan ke setiap . Karenanya rumus Euler berlaku setiap kali .
15. Dengan , yakni , , dan :
Di , dengan :
16. Satu kali pengintegralan parsial, untuk dan (dengan , ; dan suku batasnya lenyap), memberi
Berawal dari , lalu mengiterasikannya kali:
yakni .
17. Menurut Latihan 9.7, ruas kirinya menuju (lewat kekonvergenan terdominasi dengan pendominasi ); sedangkan ruas kanannya adalah kuosien Gauss:
18. Setelah logaritma kuosien pada pertanyaan 16 diambil lalu dipecah untuk :
Untuk berlaku , jadi suku umumnya berada di : sehingga deretnya konvergen (lewat pembandingan dengan ). Karena (Contoh 6.7) dan (pertanyaan 17 dan kekontinuan ):
19. Di , penyebutnya adalah (kalikan saja setengahnya), sehingga
Dengan (Contoh 6.14):
Jadi milik koefisien binomial pusat (yang berasal dari Wallis, sehingga dari konstanta Stirling) dan milik integral Gauss adalah bilangan yang sama.
20. Kesamaannya murni aljabar: kalikan dengan lalu serap ke dalam hasil kalinya dan ke dalam . Dengan melewatkan : ruas kirinya menuju (yakni Gauss di ), sedangkan ruas kanannya menuju karena : jadi — dipulihkan tanpa satu pun pengintegralan parsial.
21. Dengan , , dan :
Ketika (sepanjang barisan mana pun): untuk , di , dan untuk ; sedangkan untuk dominasilah oleh (sebab untuk ), yang terintegralkan. Kekonvergenan terdominasi: jadi integralnya menuju — sebagaimana mestinya, sebab berkat kekontinuannya.
22. Dengan dan :
Untuk : , yang cocok dengan . Untuk : . Sedangkan untuk , nilai adalah konstanta lemniskat: tanpa bentuk tertutup yang elementer.
23. Dengan mengiterasikan persamaan fungsionalnya:
yakni faktorial naik dengan faktor. Di : , yakni momen pada Latihan 9.2.
24. Sulihkan (sehingga , , dan ):
(sebab integrannya genap). Lalu (sehingga ):
Untuk setiap argumen yang tampak berada di , jadi rumus Euler (pertanyaan 14) berlaku bagi kedua ruasnya:
Pemeriksaan langsung di : ruas kirinya , sedangkan ruas kanannya : jadi sama.
25. (i) Pengintegralan parsial menghasilkan , yakni satu-satunya kesamaan yang darinya mengalir setiap relasi penurunan, nilai bulat dan setengah bulatnya, serta rekurensi Wallis. (ii) Kekonvergenan terdominasi mengubah integral elementer menjadi (yakni rumus Gauss, pertanyaan 17) lalu menghitung limit pada pertanyaan 21. (iii) Dari bab perbandingan kita mengimpor konstanta Euler (yakni , pertanyaan 18) dan asimtotik koefisien binomial pusat (pertanyaan 19) — yaitu rumus Stirling yang menyamar. (iv) Rumus Euler kini terbukti untuk dengan sembarang (pertanyaan 10) dan untuk semua pasangan setengah bulat (pertanyaan 14); sedangkan kasus umum menunggu perhitungan integral ganda pada bab integral lipat, yang memfaktorkan atas seperempat bidang.