Matematika Universitas — Tahun 2 · Bachelor Year 2
2Aljabar Linear
Aljabar linear pada jilid Tahun ke-1 bekerja atas R atau C dalam dimensi hingga, dan menerima determinan umum tanpa bukti. Bab ini menaikkan ketiga pembatasan itu: teorinya dinyatakan atas lapangan K sembarang, jalinan antara sebuah ruang dan dual-nya dikembangkan secara sistematis (basis dual, anihilator, transpos), dan determinan akhirnya dibangun dari bentuk multilinear alternating serta tanda permutasi pada Bab 1 — sehingga melunasi setiap utang Tahun ke-1.
Di sepanjang bab ini, K adalah lapangan (Q, R, C, atau Z/pZ — teorinya tidak peduli) dan, kecuali disebutkan lain, ruangnya berdimensi hingga atas K. Hasil Tahun ke-1 (basis, dimensi, rank–nulitas, matriks) berpindah kata demi kata: buktinya tak pernah memakai apa pun selain aksioma lapangan.
2.1 Ruang dual
Definisi 2.1(Ruang dual, basis dual)
Dual dari E adalah E∗=L(E,K), yaitu ruang semua bentuk linear. Jika B=(e1,…,en) basis E, maka bentuk koordinate1∗,…,en∗ yang ditetapkan oleh ei∗(ej)=δij (Kronecker: 1 bila i=j, selain itu 0) membentuk basis dualB∗ bagi E∗; khususnya dimE∗=dimE, dan
x=i=1∑nei∗(x)ei(x∈E),φ=i=1∑nφ(ei)ei∗(φ∈E∗).
Bukti bahwa B∗ adalah basis. Bebas: menerapkan kombinasi nol ∑λiei∗=0 pada ej memberi λj=0. Membangun: untuk φ∈E∗, bentuk φ−∑iφ(ei)ei∗ menolkan setiap ej, jadi ia nol (pemetaan linear yang nol pada suatu basis adalah pemetaan nol). Kedua rumus di atas adalah perhitungan yang sama, dibaca maju. ∎
Contoh 2.2
Pada Kn[X] dengan basis (1,X,…,Xn): basis dualnya adalah P↦k!P(k)(0) (koefisien Taylor). Basis lain bagi dualnya: evaluasi P↦P(xi) pada n+1 titik yang berbeda — basis “pra-dual”-nya di Kn[X] persis keluarga polinomial Lagrange Li (jilid Tahun ke-1), sebab Li(xj)=δij. Interpolasi adalah dualitas.
Metode 2.3(Basis dual dan antedual dalam praktik)
Untuk menguraikan sebuah bentuk φ pada basis (ei) di E: koordinatnya adalah nilaiφ(ei) — tanpa sistem yang perlu diselesaikan. Untuk mencari basis (uj) di E yang dualnya adalah basis (φ1,…,φn) tertentu di E∗ (yaitu basis antedual): selesaikan n sistem linear
φi(uj)=δij(1≤i≤n),
satu kolom uj setiap kali; dalam bahasa matriks, bila baris M mendaftar koefisien φi pada basis E∗ yang sudah diketahui, maka kolom M−1 adalah uj. Keberadaan dan ketunggalan antedual dibuktikan pada soal akhir pekan bab ini; perhitungannya selalu berupa pembalikan matriks ini.
Contoh 2.4(Sebuah basis dual di R2, dihitung tuntas)
Untuk basis b1=(1,1), b2=(1,−1) di R2: basis dual(b1∗,b2∗) wajib memenuhi bi∗(bj)=δij. Dengan menulis b1∗(x,y)=αx+βy, syarat α+β=1 dan α−β=0 memberi
b1∗(x,y)=2x+y,dan serupa itub2∗(x,y)=2x−y.
Pemeriksaan kewarasan: b1∗bukane1∗+e2∗ yang dinilai begitu saja — basis dual bergantung pada seluruh basis, bukan pada tiap vektor secara terpisah (mengganti b2 dengan (0,1) mengubah b1∗ menjadi x↦x). Dan rumus penguraiannya berjalan: (x,y)=2x+yb1+2x−yb2, yaitu penguraian genap/ganjil sebuah pasangan — basis dual adalah pengekstrak koordinat, dan yang satu ini mengekstrak bagian setangkup dan bagian antisetangkup.
Definisi 2.5(Anihilator)
Untuk subruang F⊆E, anihilator adalah
F∘={φ∈E∗:φ∣F=0},
yaitu subruang E∗.
Teorema 2.6(Dimensi anihilator)
dimF∘=dimE−dimF. Lebih lanjut F↦F∘ membalik pemuatan, dan F dapat dipulihkan dari anihilatornya:
F={x∈E:∀φ∈F∘,φ(x)=0}.
Akibatnya setiap subruang berdimensi p di dalam dimensi n adalah himpunan penyelesaian n−p persamaan linear yang bebas — dan sebaliknya.
Bukti. Pilih basis (e1,…,ep) untuk F, lalu lengkapi menjadi basis E. Sebuah bentuk φ=∑φ(ei)ei∗ menganihilasi F bila dan hanya bila p koefisien pertamanya nol: jadi F∘=Vect(ep+1∗,…,en∗), berdimensi n−p. Pembalikan pemuatan langsung terlihat. Untuk pemulihannya: ruas kanan memuat F; sebaliknya, jika x∈/F, lengkapilah basis F dengan x dan vektor lain; bentuk koordinat x pada basis ini menganihilasi F tetapi tidak menganihilasi x. Pembacaan “persamaan” mengambil basis (φ1,…,φn−p) untuk F∘: maka F=⋂kerφj, yaitu irisan n−p hiperbidang yang bebas. ∎
Contoh 2.7(Sebuah anihilator, dua arah)
Misalkan F=Vect((1,2,1),(1,0,−1))⊆R3. Sebuah bentuk φ=ae1∗+be2∗+ce3∗ menganihilasi F bila dan hanya bila
a+2b+c=0dana−c=0,
yakni c=a dan b=−a, jadi F∘=R(e1∗−e2∗+e3∗), berdimensi 3−2=1 sebagaimana dituntut Teorema 2.6. Dibaca terbalik: F={(x,y,z):x−y+z=0} — bidangnya dipulihkan sebagai kernel satu-satunya bentuk yang merentang F∘. Beranjak dari keluarga perentang ke persamaan adalah menghitung anihilator; beranjak dari persamaan ke parametrisasi adalah menghitung pra-anihilator. (Periksa: kedua vektor perentangnya memenuhi x−y+z=0.)
Definisi 2.8(Pemetaan transpos)
Untuk u∈L(E,F), transposuT∈L(F∗,E∗) adalah
uT(ψ)=ψ∘u.
Transpos memenuhi (v∘u)T=uT∘vT, dan pada basis dual, matriks uT adalah matriks transpos u — yang akhirnya menjelaskan transpos pada Tahun ke-1.
Contoh 2.9(Transpos, unsur demi unsur)
Misalkan u:R2→R3 bermatriks A=(103210) pada basis kanonik. Untuk ψ=b1f1∗+b2f2∗+b3f3∗∈(R3)∗, hitung uT(ψ)=ψ∘u pada basis R2:
Jadi uT(ψ)=(b1+3b3)e1∗+(2b1+b2)e2∗, dan pada basis dual matriks uT adalah
(120130)=AT:
transpos abstrak adalah matriks yang dibalik, tanpa perhitungan yang tersisa untuk dipercaya begitu saja. Perhatikan mekanismenya: kolom ke-j pada A menjadi baris ke-j pada matriks yang baru, sebab ψ∘u membaca keluaran u lewat koefisien ψ.
Proposisi 2.10
keruT=(imu)∘ dan imuT=(keru)∘. Akibatnya rk(uT)=rk(u): rank baris sama dengan rank kolom, dibuktikan secara struktural.
Bukti.ψ∈keruT⟺ψ∘u=0⟺ψ menolkan imu: itulah kesamaan pertama. Untuk yang kedua: uT(ψ)=ψ∘u selalu menolkan keru, jadi imuT⊆(keru)∘; dimensinya berimpit menurut rank–nulitas dan Teorema 2.6:
Rank kolom: baris ketiga adalah jumlah dua baris pertama, jadi rkA≤2; kolom 1 dan 2 bebas, sehingga rkA=2. Kernel transposnya: menyelesaikan ATy=0 memberi y∈R(1,1,−1), jadi kerAT berdimensi 1=3−2: persis (imA)∘ di bawah penyamaan (R3)∗ dengan vektor baris, sebagaimana ditegaskan Proposisi 2.10 — satu-satunya kaitan “baris3 = baris1 + baris2” adalahanihilator ruang kolomnya. Rank baris (2 baris yang bebas) dan rank kolom berimpit bukan karena kebetulan, melainkan karena keduanya sama dengan rkA=rkAT.
Contoh 2.12(Dualitas membaca sebuah aturan kuadratur)
Mengapa aturan seperti aturan Simpson (Latihan 2.4) ada dan mengapa ia tunggal? Dualitas menjawabnya sebelum perhitungan apa pun. Pada E=R2[X], integral P↦∫01P adalah satu vektor tertentu di dalam dual E∗ yang berdimensi tiga; sedangkan evaluasi di 0, 21, 1 membentuk basisE∗; karena itu integralnya terurai secara tunggal atas basis itu — dan penguraian itu adalah aturan Simpson, lengkap dengan koefisiennya. Pencacahan dimensi juga menakar harapan kita: pada R3[X], empat dimensi bentuk pada umumnya tak dapat direntang oleh tiga evaluasi, jadi ketepatan pada polinomial kubik bukanlah hutang dualitas; bahwa aturan Simpson itu toh mengintegralkan kubik secara tepat adalah bonus kesetangkupan (pencoretan derajat ganjil di sekitar 21) yang harus diperiksa dengan tangan. Aturan dengan n+1 simpul adalah penguraian bentuk pengintegralan pada suatu basis evaluasi di Rn[X]∗: keberadaan dan ketunggalannya hanya berharga satu teorema basis dual; hanya derajat bonusnya yang berharga kerja.
2.2 Bentuk multilinear alternating
Definisi 2.13
Pemetaan f:En→K disebut n-linear bila ia linear pada tiap peubahnya, dan disebut alternating bila ia nol setiap kali dua argumennya sama. Sifat alternating mengakibatkan antisetangkup: menukar dua argumen mengubah tandanya (uraikan f(…,x+y,…,x+y,…)=0); lebih umum lagi, untuk σ∈Sn,
Suku dengan indeks berulang bernilai nol (sifat alternating); tupel (i1,…,in) yang bertahan adalah yang injektif, yakni ik=σ(k) untuk suatu permutasi σ, dan sifat antisetangkup menata ulang f(eσ(1),…,eσ(n))=ε(σ)f(e1,…,en). Karenanya
f=f(e1,…,en)⋅detB:
setiap bentuk alternating memang kelipatan itu, asalkan detB sendiri (jumlah yang tertulis di atas) memangn-linear alternating dan bernilai 1 pada B. Kemultilinearannya jelas (tiap sukunya linear pada tiap kolom). Nilai pada B: satu-satunya suku tak nol adalah σ=id. Sifat alternating: andaikan xj=xk (j=k), sehingga kolom koordinatnya memenuhi aij=aik untuk setiap i. Pasangkan tiap σ dengan σ′=σ∘(jk) — sebuah involusi tanpa titik tetap pada Sn. Hasil kali yang berpasangan itu berimpit:
persis aturan “diagonal” Sarrus yang diajarkan di sekolah — kini menjadi teorema, dengan tanda-tandanya yang misterius dikenali sebagai tanda permutasi. Perobohannya: untuk n=4 ada 24 permutasi, dan hanya 8 di antaranya yang terjaring oleh skema penarikan diagonal mana pun; Sarrus tidak punya versi berderajat 4, dan penguraian kofaktor (Teorema 2.17 (4)) mengambil alih. Mencacah sukunya sekaligus menjadi peringatan: rumus permutasi punya n! suku, jadi ia sebuah definisi, bukan algoritme — penyederhanaan baris menghitung det dengan O(n3) operasi saja.
Definisi 2.16(Determinan)
Determinan sebuah keluarga pada suatu basis adalah detB(x1,…,xn); determinan sebuah matriksA adalah determinan kolomnya pada basis kanonik — yakni rumus permutasi di atas; sedangkan determinan sebuah endomorfismau adalah skalar detu sedemikian sehingga
detB(u(x1),…,u(xn))=detu⋅detB(x1,…,xn)untuk setiap xi
(ruas kirinya n-linear alternating, jadi merupakan kelipatan detB menurut Teorema 2.14; faktornya tidak bergantung pada B).
Teorema 2.17(Kalkulus determinan, dibuktikan)
det(uv)=detudetv; det(AB)=detAdetB.
u punya invers ⟺detu=0; sebuah keluarga adalah basis ⟺determinannya pada suatu basis tidak nol.
det(AT)=detA.
Penguraian kofaktor sepanjang baris atau kolom mana pun, seperti dinyatakan pada jilid Tahun ke-1, tetap berlaku; matriks yang serupa punya determinan yang sama.
Bukti. (1) Terapkan relasi pendefinisinya dua kali: detB(uv(xi))=detu⋅detB(v(xi))=detudetv⋅detB(xi).
(2) Jika u punya invers, maka detudetu−1=detid=1=0. Jika tidak, peta u(ei) saling terkait; dengan menyatakan salah satunya lewat yang lain lalu menguraikannya, detB(u(ei))=0 (sifat alternating menolkan arah yang berulang), jadi detu=0. Kriteria basisnya adalah pernyataan yang sama untuk keluarga.
(3) Pada rumus permutasi, indeks ulang tiap hasil kali dengan j=σ(i), yakni i=τ(j) dengan τ=σ−1: faktornya bilangan yang sama dalam urutan berbeda, sehingga
i=1∏naσ(i),i=j=1∏naj,τ(j),
dan ε(τ)=ε(σ)−1=ε(σ) (nilainya ±1, dan ε sebuah morfisma). Menjumlahkan atas σ sama saja dengan menjumlahkan atas τ (pembalikan adalah bijeksi Sn):
detA=τ∑ε(τ)j∏aj,τ(j)=det(AT),
sebab jumlah terakhir itu tak lain rumus permutasi yang diterapkan pada unsur transpos(AT)ij=aji.
(4) Tetapkan kolom j lalu pecah xj=∑iaijei lewat kelinearan: detA=∑iaijdet(…,ei,…), dan memindahkan ei ke kedudukan terakhir (n−itransposisi baris dan n−jtransposisi kolom, lewat (3)) menyamakan det(…,ei,…)=(−1)i+jΔij dengan minornya: persis aturan kofaktor Tahun ke-1. Keserupaan: det(P−1AP)=detP−1detAdetP=detA menurut (1). ∎
Contoh 2.18(Penguraian kofaktor, dikerjakan)
Hitung
det201142310
sepanjang kolom pertama (kemalasan senilai dua nol: satu perhitungan). Tandanya mengikuti pola papan catur (−1)i+j:
2det(4210)−0+1⋅det(1431)=2(0−2)+(1−12)=−15.
Periksa silang lewat Sarrus (Contoh 2.15): 0+1+0−12−0−4=−15. Ini siasat, bukan doktrin: uraikan sepanjang garis dengan nol terbanyak, dan bila tidak ada satu pun yang punya nol, ciptakan dulu beberapa lewat operasi baris — karena satu putaran penyederhanaan lebih murah daripada dua lapis kofaktor.
Contoh 2.19(Sebuah determinan lewat aturannya)
Misalkan J∈Mn(K) matriks yang semua unsurnya satu dan a∈K; kita hitung det(aIn+J) dengan perkakas yang baru saja dibuktikan. Setiap kolom aIn+J berjumlah dengan pola yang sama: tambahkan semua baris ke baris pertama (determinannya tak berubah — menambahkan kelipatan satu baris ke baris lain menambahkan suku berarah berulang, yang ditolkan sifat alternating). Baris pertama menjadi (a+n,a+n,…,a+n); keluarkan faktor a+n lewat kelinearan pada baris itu, lalu kurangkan kolom pertama dari setiap kolom lain: yang tersisa segitiga dengan diagonal (1,a,…,a). Jadi
det(aIn+J)=(a+n)an−1.
Pelajaran penutupnya: akar a=0 (bermultiplisitas n−1) dan a=−n mengatakan bahwa J punya nilai eigen 0 bermultiplisitas n−1 dan nilai eigen n sekali — yakni spektrum matriks J yang berank satu, satu bab lebih awal (Bab 3 akan menjadikannya sistematis).
Contoh 2.20(Sebuah determinan lewat rumus permutasi)
Untuk matriks dengan banyak nol, rumus itu praktis dengan sendirinya: pada
A=000da0000b0000c0,
satu-satunya permutasi yang memungut unsur tak nol adalah siklus berpanjang 4, yaitu σ=(1234), yang memetakan kolom 1→ baris 4, dan seterusnya; ε(σ)=(−1)3=−1, jadi detA=−abcd. (Periksa lewat tiga penukaran kolom sampai tercapai matriks diagonal.)
Contoh 2.21(Vandermonde lewat rumus hasil kali)
Untuk simpul 0,1,2 (yang dipakai aturan kuadratur seperti pada Latihan 2.4), determinan Vandermonde pada Latihan 2.11 terhitung dalam sekali pandang:
det100111124=(1−0)(2−0)(2−1)=2,
dan lewat penguraian langsung sepanjang kolom pertama: 1⋅(4−2)=2, jadi cocok. Ketaknolan untuk simpul yang berbeda adalah seluruh teori interpolasi di dalam satu determinan: bentuk evaluasi P↦P(ai) merupakan basis dualnya persis ketika determinan ini tak nol, yakni selalu untuk ai yang berbeda — Contoh 2.2 yang dikuantifikasi.
2.3 Trace, ditinjau ulang
Proposisi 2.22
Trace tr:Mn(K)→K adalah satu-satunya bentuk linear dengan tr(AB)=tr(BA) dan tr(In)=n (untuk charK=0); trace sebuah endomorfisma terdefinisi dengan baik lewat penyajian matriks mana pun, dan
tr(u)=i∑ei∗(u(ei))
pada basis mana pun — dualitas menuliskan trace tanpa basis.
Bukti.tr(AB)=tr(BA) dan ketakbergantungannya pada basis telah dibuktikan pada Tahun ke-1. Ketunggalan: bentuk linear t dengan t(AB)=t(BA) menolkan setiap komutator AB−BA. Kita klaim komutator merentang hiperbidang bertrace nol, yang berdimensi n2−1. Dua keluarga komutator sudah cukup. Aturan perkalian matriks elementer adalah EabEcd=δbcEad. Untuk i=j aturan itu memberi
EiiEij−EijEii=Eij−0=Eij
(hasil kali kedua adalah EijEii=δjiEii=0 karena j=i): jadi setiap Eij di luar diagonal adalah komutator. Dan
EijEji−EjiEij=Eii−Ejj.
Matriks Eij (i=j, sebanyak n2−n) bersama E11−Ejj (j≥2, sebanyak n−1) berjumlah n2−1 matriks bertrace nol yang bebas linear: keduanya merentang hiperbidang kertr. Jadi t nol di tempat tr nol, sehingga ia terfaktorkan lewatnya: t=ctr; lalu t(I)=n memaksa c=1. Adapun ungkapan di atas: unsur diagonal ke-i pada matriks u tepat sama dengan ei∗(u(ei)). ∎
Catatan 2.23(Jebakan yang sering muncul)
(i) Determinan bersifat n-linear pada kolomnya, bukan linear pada matriksnya: det(A+B)=detA+detB pada umumnya, dan det(λA)=λndetA, bukan λdetA. (ii) Transposisi membalik urutan hasil kali: (vu)T=uTvT; melupakan pembalikan itu merusak setiap perhitungan yang melibatkan invers. (iii) AnihilatorF∘ hidup di E∗, bukan di E: ia menjadi “komplemen ortogonal” yang lazim itu hanya setelah suatu hasil kali dalam menyamakan E dengan E∗ (Bab 12); tidak ada penyamaan semacam itu yang kanonik. (iv) “Rank baris sama dengan rank kolom” tidak berarti ruang baris sama dengan ruang kolom — keduanya hidup di ruang yang berbeda (Kn dan Km) dan berhubungan lewat Proposisi 2.10, bukan sama. (v) Rumus permutasi adalah alat bukti: untuk bilangan, pakailah operasi baris dan kofaktor (Contoh 2.15).
Contoh 2.24(Pasangan trace membelah ruang matriks)
Pada M2(R) dengan pasangan ⟨A,B⟩=tr(AB) dari Latihan 2.9: uraikan M=(1243) menjadi bagian setangkup dan bagian antisetangkup,
M=S+A,S=21(M+MT)=(1333),A=21(M−MT)=(0−110).
Maka tr(SA)=tr(−3−313)=0: kedua bagiannya “ortogonal” terhadap pasangan trace — sebuah perwujudan fakta umum (yang dibuktikan pada soal akhir pekan bab ini) bahwa matriks antisetangkup persis membentuk anihilator matriks setangkup. Dualitas melihat penguraian Mn=Sn⊕An sebelum hasil kali dalam apa pun dipilih.
Catatan 2.25(Pandangan ke depan di dalam jilid ini)
Perhatikan ketiga konstruksi bab ini berganti kostum di halaman-halaman berikutnya. Transpos kembali pada Bab 3: u dan uT berbagi nilai eigen dengan multiplisitas geometrik yang sama (soal akhir pekan bab ini, pertanyaan 15), dan itulah sebabnya telaah baris dan telaah kolom sebuah matriks tak pernah berselisih. Determinan menjadi fungsi sebuah parameter pada Bab 3 (χu(X)=det(Xid−u)) dan menjadi Jacobian pada Bab 20, tempat kemultilinearannya berubah menjadi faktor penggantian peubah. Trace menyemai invarian keserupaan: ia koefisien kedua pada χu, jumlah nilai eigen, dan pada akhirnya integral diagonal pada kesamaan bergaya Bab 14. Satu bab aljabar linear, tiga bayangan panjang.
Catatan 2.26(Di mana bab ini dipakai)
Ruang dual bukan abstraksi demi abstraksi: anihilator dan transpos menjalankan teori keterselesaian sistem linear (soal akhir pekan bab ini membuktikan alternatif Fredholm berdimensi hingga dari keduanya), pasangan tak degenerat muncul kembali sebagai bentuk polar pada Bab 12 dan sebagai adjoin pada Bab 13, dan determinan yang dibangun di sini menggerakkan seluruh Bab 3. Pada jilid Tahun ke-3 dualitas yang sama, setelah diangkut ke dimensi tak hingga, menjadi teorema representasi Riesz dan teori Fredholm pada ruang Hilbert — dengan kekompakan menggantikan pencacahan dimensi yang dipakai di sini.
2.4 Latihan
Latihan 2.1★
Di R3, misalkan φ1(x,y,z)=x+y, φ2=y+z, φ3=x+z. Buktikan bahwa (φ1,φ2,φ3) adalah basis (R3)∗ lalu carilah basis R3 yang dualnya adalah basis itu.
Solusi
Solusi Latihan 2.1.
Tiga bentuk di dalam dual berdimensi 3: cukuplah kebebasannya. Sebuah kaitan αφ1+βφ2+γφ3=0 yang dinilai di (1,0,0),(0,1,0),(0,0,1) memberi α+γ=0, α+β=0, β+γ=0, sehingga α=β=γ=0.
Basis pra-dual (u1,u2,u3): selesaikan φi(uj)=δij. Dengan menulis uj=(x,y,z): untuk u1 syaratnya x+y=1, y+z=0, x+z=0, yang memberi u1=(21,21,−21); setangkup dengan itu u2=(−21,21,21), u3=(21,−21,21).
lalu nyatakan aturan diagonal blok yang disarankan matriks kedua.
Solusi
Solusi Latihan 2.2.
Matriks pertama: satu-satunya permutasi berhasil kali tak nol mengirim 1↦3, 2↦2, 3↦1 — yakni transposisi(13), bertanda −1: jadi determinannya−abc.
Matriks kedua: permutasi berhasil kali tak nol tidak mungkin mencampur kedua bloknya (unsur yang menghubungkan keduanya bernilai 0), jadi ia terpecah menjadi permutasi {1,2} dikali permutasi {3,4}, dan tandanya adalah hasil kali kedua tanda itu: jumlahnya terfaktorkan menjadi
(ad−bc)(eh−fg).
Aturan umum yang disarankan (dan memang benar, dengan bukti serupa): determinan matriks diagonal blok adalah hasil kali determinan blok-bloknya.
Latihan 2.3★
Misalkan F={(x,y,z,t)∈R4:x+y=z+t dan x=2y}. Berilah sebuah basis F∘ lalu periksa Teorema 2.6 pada dimensinya.
Solusi
Solusi Latihan 2.3.
F ditetapkan oleh dua persamaan bebas φ1(x,y,z,t)=x+y−z−t=0 dan φ2=x−2y=0: menurut Teorema 2.6 yang dibaca terbalik, F∘=Vect(φ1,φ2) — keduanya berada di F∘ menurut konstruksinya, keduanya bebas (tidak sebanding), dan dimF∘=4−dimF=4−2=2 sebab dimF=2 (dua persamaan bebas di R4). Basisnya: (φ1,φ2); dimensinya: 2+2=4, sesuai tuntutan teorema itu.
Latihan 2.4★★
Misalkan a0,…,an titik yang berbeda di K dan φi:P↦P(ai) pada Kn[X]. Buktikan bahwa (φ0,…,φn) adalah basis Kn[X]∗, kenali basis pra-dualnya, lalu uraikan bentuk P↦∫01P(t)dt (untuk K=R, n=2, ai=0,21,1) pada basis itu — sehingga aturan Simpson dikenali.
Solusi
Solusi Latihan 2.4.
Bentuk φi berjumlah n+1 pada ruang berdimensi (n+1), jadi cukuplah kebebasannya. Jika ∑iλiφi=0, nilailah pada polinomial Lagrange Lj atas simpulnya: λj=0. Basis pra-dualnya adalah (L0,…,Ln), sebab φi(Lj)=Lj(ai)=δij.
Untuk bentuk integral dengan simpul 0,21,1 pada R2[X]: ∫01P=∑iciP(ai) dengan ci=∫01Li. Hitung: L0=2(X−21)(X−1), ∫01L0=61; L1=−4X(X−1), ∫01L1=64; L2=2X(X−21), ∫01L2=61. Karenanya
∫01P=61(P(0)+4P(21)+P(1))(P∈R2[X]):
yaitu aturan Simpson, yang tepat pada polinomial kuadrat — sebuah pernyataan tentang basis dual.
Latihan 2.5★★
Misalkan u∈L(E) dengan dimE=n dan rku=1. Buktikan bahwa u=φ(⋅)a untuk suatu vektor a dan suatu bentuk φ; bahwa tru=φ(a); dan bahwa u2=(tru)u. Turunkan det(I+u)=1+tru.
Solusi
Solusi Latihan 2.5.
imu=Ka untuk suatu a=0; maka u(x)=φ(x)a dengan φ(x) adalah koordinat u(x) pada a — yang linear pada x. Trace: lengkapi a=e1 menjadi basis; matriks u berkolom φ(ej)e1, jadi satu-satunya unsur diagonalnya adalah φ(e1)=φ(a), sehingga tru=φ(a). Lalu
u2(x)=φ(x)u(a)=φ(x)φ(a)a=(tru)u(x).
Determinannya, dalam dua kasus. Jika φ(a)=0: ambil sembarang basis hiperbidang kerφ lalu tambahkan a. Maka u menolkan kerφ (di sana u(x)=φ(x)a=0) dan u(a)=φ(a)a: matriks I+u menjadi diagonal, (1,…,1,1+φ(a)), sehingga det(I+u)=1+φ(a)=1+tru. Jika φ(a)=0: maka a∈kerφ; ambil basis kerφ yang vektor pertamanya a, lalu tambahkan vektor b dengan φ(b)=1. Maka I+u membiarkan basis kerφ tetap dan mengirim b↦b+a: segitiga dengan diagonal satu, jadi det(I+u)=1=1+tru. Kedua kasus itu cocok dengan rumusnya.
Latihan 2.6★★
Buktikan bahwa setiap hiperbidang Mn(K) (n≥2) memuat sebuah matriks yang punya invers. Petunjuk: sebuah hiperbidang berbentuk {M:tr(AM)=0} untuk suatu A=0 (Latihan 2.9). Jika A skalar, tunjukkan sebuah matriks bertrace nol yang punya invers; jika tidak, carilah M berinvers yang membuat diagonal AM nol — matriks bergaya permutasi sanggup.
Solusi
Solusi Latihan 2.6.
Menurut Latihan 2.9, hiperbidangnya adalah HA={M:tr(AM)=0} dengan A=0.
Jika A=λI: maka HA adalah hiperbidang bertrace nol; matriks permutasi siklus panjang n (bernilai satu pada kedudukan (i,i+1) dan (n,1)) punya invers (determinannya±1 menurut perhitungan Contoh 2.20) dan bertrace nol.
Jika A bukan skalar: mula-mula carilah P berinvers sedemikian sehingga B=P−1AP punya unsur tak nol di luar diagonal, yaitu bji dengan (j=i). Memang, jika A sudah punya unsur semacam itu, ambil P=I; jika A diagonal dengan dua unsur berbeda d1=d2, mengonjugasikannya dengan transveksi P=I+E12 akan memunculkan unsur luar diagonal d1−d2=0 (hitunglah: P−1AP=A+(d1−d2)E12); sedangkan matriks diagonal yang semua unsurnya sama adalah skalar, dan itu sudah disingkirkan. Kini ambil M′=I+tEij dengan t=−tr(B)/bji: maka
tr(BM′)=trB+tbji=0,
dan M′ punya invers (segitiga dengan diagonal satu). Setelah konjugasinya dibatalkan, M=PM′P−1 punya invers dan tr(AM)=tr(BM′)=0: jadi M∈HA.
Latihan 2.7★★
(Turunan determinan) Untuk A∈Mn(R), buktikan dari kemultilinearan bahwa
dtdt=0det(In+tA)=trA,
lalu turunkan det(etA)=ettrA dengan mengandaikan keterdiferensialan t↦det(etA) dan sifat grup e(s+t)A=esAetA (yang ditegakkan pada Bab 16).
Solusi
Solusi Latihan 2.7.
Menurut rumus permutasi, det(I+tA) adalah polinomial dalam t; suku tetapnya 1 (ambil t=0). Koefisien t-nya: uraikan det sebagai bentuk alternating atas kolom ej+tcj(A); menurut kemultilinearan, suku yang linear pada t mengganti tepat satu ej dengan cj(A):
j∑det(e1,…,cj(A),…,en)=j∑ajj=trA,
(determinan dengan semua kolom kanonik kecuali cj(A) pada slot j memungut unsur diagonal ke-j). Jadi turunannya di 0 adalah trA.
Misalkan g(t)=det(etA). Sifat grupnya memberi g(s+t)=g(s)g(t) (kemultiplikatifan det), g dapat diturunkan, dan g′(0)=trA menurut uraian di atas (etA=I+tA+O(t2)). Morfisma (R,+)→(R∗,×) yang dapat diturunkan memenuhi g′=g′(0)g (turunkan g(s+t) terhadap s di 0), jadi g(t)=ettrA berkat ketunggalan penyelesaian y′=cy dengan y(0)=1 (jilid Tahun ke-1).
Latihan 2.8★★
(Sirkulan 3×3) Misalkan j=e2iπ/3 dan
C=acbbaccba∈M3(C).
Periksalah bahwa kolom matriks Vandermonde atas 1,j,j2 adalah vektor eigen C, lalu turunkan
detC=(a+b+c)(a+bj+cj2)(a+bj2+cj).
Solusi
Solusi Latihan 2.8.
Misalkan vk=(1,jk,j2k)T untuk k=0,1,2. Dengan memakai 1+j+j2=0 dan j3=1:
(periksa baris kedua: jk(a+bjk+cj2k)=ajk+bj2k+cj3k=c+ajk+bj2k). Jadi vk vektor eigen dengan nilai eigen λk=a+bjk+cj2k. Vektor vk membentuk basis (Vandermonde atas 1,j,j2 yang berbeda), jadi C dapat didiagonalkan dengan nilai eigen tersebut, dan
detC=λ0λ1λ2=(a+b+c)(a+bj+cj2)(a+bj2+cj).
Latihan 2.9★★★
Buktikan bahwa setiap bentuk linear t pada Mn(K) berbentuk M↦tr(AM) untuk suatu A yang tunggal: pemetaan A↦tr(A⋅) adalah isomorfisma dari Mn(K) pada dualnya. Turunkan lagi pernyataan ketunggalan pada Proposisi 2.22.
Solusi
Solusi Latihan 2.9.
Pemetaan Θ:A↦tr(A⋅) bersifat linear dari Mn(K) ke dualnya, di antara dua ruang berdimensi sama n2: jadi cukuplah keinjektifannya. Jika tr(AM)=0 untuk setiap M, ambil M=Eji: tr(AEji)=aij=0 untuk setiap i,j, jadi A=0. Maka Θ isomorfisma.
Ketunggalan trace (Proposisi 2.22): bentuk t yang menolkan semua komutator berbentuk tr(A⋅) untuk suatu A dengan tr(A(MN−NM))=0 untuk setiap M,N, yakni tr((AM−MA)N)=0 untuk setiap N (sifat siklis), yakni AM=MA untuk setiap M (keinjektifan Θ): jadi A komutatif dengan segalanya, sehingga ia skalar (A yang komutatif dengan semua Eij memaksa unsur luar diagonalnya 0 dan unsur diagonalnya sama), sehingga t=ctr.
Latihan 2.10★★★
Misalkan u,v∈L(E) dengan u∘v−v∘u=u. Buktikan bahwa u nilpoten. Petunjuk: tunjukkan tr(uk)=0 untuk setiap k≥1 (hitung ukv−vuk secara induktif), lalu pakai fakta berikut, yang dibuktikan lewat kesamaan Newton atau lewat induksi pada dimensinya: endomorfisma sebuah ruang vektor atas C yang semua pangkatnya bertrace nol pastilah nilpoten. Bekerjalah atas C.
Solusi
Solusi Latihan 2.10.
Bekerjalah atas C (matriks real nilpoten bila dan hanya bila ia nilpoten sebagai matriks kompleks: kenilpotenan berarti un=0).
Langkah 1: tr(uk)=0 untuk k≥1. Secara induktif, ukv−vuk=kuk: untuk k=1 inilah hipotesisnya; sedangkan untuk langkah induksinya,
uk+1v−vuk+1=uk(uv−vu)+(ukv−vuk)u=uk+1+kuk+1.
Setelah tracenya diambil: 0=tr(ukv)−tr(vuk)=ktr(uk), sehingga tr(uk)=0.
Langkah 2: trace pangkat yang nol mengakibatkan kenilpotenan (atas C). Misalkan λ1,…,λr nilai eigen tak nol u yang berbeda, dengan multiplisitas m1,…,mr (pada polinomial karakteristik, yang terurai lengkap atas C — Bab 3). Trace pangkatnya adalah tr(uk)=∑imiλik (trigonalkan: diagonal pangkat ke-k sebuah matriks segitiga berisi pangkat ke-k diagonalnya). Sistem ∑imiλik=0 untuk k=1,…,r dapat dibalik secara Vandermonde pada peubah miλi (matriks (λik−1) dikali diagonal λi, dengan semua λi=0 berbeda): jadi setiap miλi=0, dan itu mustahil bila mi≥1 kecuali r=0. Jadi u tidak punya nilai eigen tak nol: polinomial karakteristiknya (−X)n, dan Cayley–Hamilton (Bab 3) memberi un=0, yakni nilpoten.
(Pandang determinan itu sebagai polinomial dalam an: kenali derajatnya, akarnya, dan koefisien utamanya; lalu berinduksilah.)
Solusi
Solusi Latihan 2.11.
Tulis V(a0,…,an) untuk determinannya lalu berinduksilah pada n; V(a0)=1 menjadi awalnya. Tetapkan a0,…,an−1 lalu pandang D(T)=V(a0,…,an−1,T), yakni determinan yang kolom terakhirnya (1,T,…,Tn): dengan menguraikannya sepanjang kolom itu, D adalah polinomial berderajat ≤n dalam T yang koefisien Tn-nya adalah minor V(a0,…,an−1). Andaikan dulu a0,…,an−1 berbeda. Untuk tiap T=ai (i<n) ada dua kolom yang berimpit, jadi D(ai)=0: dengan n akar yang berbeda dan derajat ≤n,
D(T)=V(a0,…,an−1)i=0∏n−1(T−ai),
lalu T=an beserta hipotesis induksinya memberi rumus hasil kali itu. Jika dua di antara a0,…,an−1 berimpit, kedua ruasnya bernilai 0 (kolom yang berulang; faktor yang berulang), sehingga rumusnya berlaku secara sepele.
Latihan 2.12★★★
Misalkan A,B,C,D∈Mn(K) dengan K tak hingga, dan andaikan CD=DC. Buktikan bahwa
det(ACBD)=det(AD−BC).
(Tinjau dulu D yang punya invers, dengan mengalikan dari kanan oleh (I−D−1C0I); lalu ganti D dengan D+tI dan bandingkan dua polinomial dalam t.)
Solusi
Solusi Latihan 2.12.
D punya invers. Kalikan dari kanan dengan matriks blok T=(I−D−1C0I), yang segitiga blok dengan diagonal satu, sehingga detT=1 (determinannya, menurut rumus permutasi, hanya memungut blok diagonalnya — inilah aturan blok pada Latihan 2.2):
(ACBD)T=(A−BD−1CC−DD−1CBD)=(A−BD−1C0BD),
yang determinannyadet(A−BD−1C)detD=det((A−BD−1C)D)=det(AD−BD−1CD). Karena CD=DC, berlaku BD−1CD=BC: jadi determinannyadet(AD−BC).
Untuk D sembarang. Misalkan Dt=D+tI; maka tetap berlaku CDt=DtC. Keduanya, yakni
f(t)=det(ACBDt)dang(t)=det(ADt−BC)
merupakan fungsi polinomial dalam t. Polinomial det(D+tI) bersifat monik berderajat n, jadi ia punya paling banyak n akar: untuk semua t kecuali berhingga banyak, Dt punya invers dan f(t)=g(t) menurut kasus pertama. Dua polinomial atas lapangan tak hingga yang berimpit pada tak hingga banyak titik pastilah sama: jadi f=g, dan t=0 merampungkannya.
2.5 Soal: Alternatif Fredholm
Kapan sistem linear u(x)=b punya penyelesaian? Jawaban lengkapnya berupa pernyataan dualitas: tepat ketika b dianihilasi oleh setiap bentuk linear yang menganihilasi peta u — dan bentuk semacam itu terhitungkan, sebab ia kernel transposnya. Soal akhir pekan ini membangun kamus lengkap dualitas berdimensi hingga (pemfaktoran bentuk, bidualitas, kalkulus anihilator, transpos), membuktikan alternatif Fredholm berdimensi hingga, dan ditutup dengan bentuk trace beserta sebuah pencirian: trace adalah satu-satunya invarian linear bagi keserupaan. Di sepanjang soal ini, E dan F adalah ruang vektor atas K yang berdimensi hingga, dan n=dimE.
Soal 2.1
Soal akhir pekan — dualitas dalam dimensi hingga dan alternatif Fredholm
Bagian I — Lema pemfaktoran. Misalkan φ1,…,φp,φ∈E∗.
Misalkan Φ:E→Kp, x↦(φ1(x),…,φp(x)). Kenali kerΦ, tunjukkan ΦT memetakan bentuk koordinat Kp ke φi, lalu turunkan
dim(kerφ1∩⋯∩kerφp)=n−dimVect(φ1,…,φp).
(Lema pemfaktoran) Buktikan kesetaraan berikut:
φ∈Vect(φ1,…,φp)⟺kerφ1∩⋯∩kerφp⊆kerφ.
Turunkan: (φ1,…,φp) bebas bila dan hanya bila ⋂ikerφi berdimensi n−p; dan sebuah subruang berkodimensi p adalah irisan p hiperbidang, tak pernah kurang.
Di R4, misalkan φ1=x+y−z, φ2=y+z−t, ψ=x+2y−t dan ψ′=x+y+t. Putuskan, dengan lema pemfaktoran, apakah ψ dan ψ′ termasuk Vect(φ1,φ2).
Pada E=R2[X], tunjukkan bahwa ψ0:P↦P(0), ψ1:P↦P(1), ψ2:P↦∫01P(t)dt membentuk basis E∗, hitunglah basis (P0,P1,P2) di E yang dualnya adalah basis itu, lalu carilah satu-satunya P∈R2[X] dengan P(0)=1, P(1)=2, ∫01P=23.
Tunjukkan bahwa u↦uT adalah bijeksi linear dari L(E,F) pada L(F∗,E∗), dan bahwa (u−1)T=(uT)−1 bila u punya invers.
(Kealamian) Tunjukkan bahwa uTT∘JE=JF∘u: di bawah isomorfisma evaluasi, transpos ganda adalahu.
Tunjukkan: u surjektif bila dan hanya bila uT injektif; dan u injektif bila dan hanya bila uT surjektif.
Untuk u∈L(E): sebuah subruang F stabil terhadap u bila dan hanya bila F∘ stabil terhadap uT.
Tunjukkan bahwa ker(uT−λidE∗)=(im(u−λidE))∘, lalu turunkan bahwa u dan uT punya nilai eigen yang sama dengan multiplisitas geometrik yang sama.
Bagian IV — Alternatif Fredholm.
Buktikan bahwa imu=(keruT)∘ untuk u∈L(E,F), lalu turunkan alternatif Fredholm dalam dimensi hingga: persamaan u(x)=b punya penyelesaian bila dan hanya bila setiap ψ∈F∗ dengan uTψ=0 memenuhi ψ(b)=0.
Bentuk matriksnya: untuk A∈Mm,n(K) dan b∈Km, tepat satu dari berikut ini berlaku: (i) Ax=b punya penyelesaian; (ii) ada y∈Km dengan ATy=0 dan yTb=1. Buktikan baik “paling banyak satu” maupun “sedikitnya satu”.
Carilah semua b∈R3 yang membuat sistem
x+y=b1,y+z=b2,x+2y+z=b3
punya penyelesaian, dengan menghitung kernel matriks transposnya.
(Sebuah masalah Neumann diskret) Pada E=Rn (n≥3), tetapkan L oleh (Lx)k=xk−21(xk−1+xk+1), dengan indeks modulo n. Tunjukkan LT=L (dengan penyamaan kanonik), tunjukkan kerL adalah garis vektor konstan (perhatikan sebuah koordinat maksimal), lalu simpulkan: Lx=b terselesaikan bila dan hanya bila ∑kbk=0.
Bagian V — Bentuk trace dan teorema keawetan. Ingat kembali dari Latihan 2.9 bahwa A↦tr(A⋅) menyamakan Mn(K) dengan dualnya. Andaikan charK=0 (misalnya K=Q,R,C).
Di bawah penyamaan itu, tunjukkan bahwa anihilator subruang Sn berisi matriks setangkup adalah subruang An berisi matriks antisetangkup, dan sebaliknya.
Tunjukkan bahwa anihilator hiperbidang sln={M:trM=0} adalah garis KIn; setara dengan itu, bentuk linear yang nol pada semua matriks bertrace nol pastilah kelipatan tracenya.
Tunjukkan bahwa setiap matriks Mn(K) adalah jumlah dua matriks yang punya invers.
(Trace satu-satunya invarian linear bagi keserupaan) Misalkan t sebuah bentuk linear pada Mn(K) dengan t(PMP−1)=t(M) untuk setiap M dan setiap P yang punya invers. Tunjukkan lebih dulu t(PX)=t(XP) untuk P berinvers, lalu t(BX)=t(XB) untuk setiapB, dan simpulkan t=ctr untuk suatu c∈K.
Tunjukkan bahwa rku≤r bila dan hanya bila u adalah jumlah r pemetaan berank ≤1, yakni u=∑i=1rψi(⋅)fi dengan ψi∈E∗, fi∈F; lalu turunkan rk(u+v)≤rku+rkv.
(Rangkuman) Susunlah kamus yang dibuktikan pada soal ini: subruang lawan anihilator, jumlah lawan irisan, pemetaan lawan transpos, keterselesaian lawan keortogonalan terhadap kernel transpos, trace lawan keserupaan. Untuk tiap entri, sebutkan pertanyaan yang membuktikannya, dan nyatakan dalam satu kalimat apa yang menggantikan pencacahan dimensi ketika dimensinya menjadi tak hingga (jilid Tahun ke-3 memerincinya pada ruang Hilbert).
Solusi
Solusi Soal 2.1.
1.Φ bersifat linear dengan kerΦ=⋂ikerφi (sebuah tupel-p bernilai nol bila dan hanya bila tiap unsurnya nol). Untuk bentuk koordinat εi pada Kp: ΦT(εi)=εi∘Φ=φi, jadi imΦT⊇Vect(φi); sebaliknya imΦT direntang oleh ΦT(εi) (sebab εi merentang (Kp)∗). Jadi rkΦ=rkΦT=dimVect(φ1,…,φp)=:r (Proposisi 2.10), dan rank–nulitas memberi dim⋂ikerφi=n−r.
2. (⇐) Simpan satu keluarga bagian bebas yang maksimal, katakanlah φ1,…,φr, yang merentang ruang yang sama (jadi hipotesisnya tetap berbunyi ⋂i≤rkerφi⊆kerφ: irisan atas semua i sama dengan irisan atas i≤r, sebab tiap bentuk yang dibuang adalah sebuah kombinasi). Pemetaan Ψ=(φ1,…,φr):E→Kr bersifat surjektif (pertanyaan 1: ranknya r). Jika Ψ(x)=Ψ(y) maka x−y∈kerΨ⊆kerφ, jadi φ(x)=φ(y): karenanya φ terfaktorkan sebagai φ=λ∘Ψ dengan λ:Kr→K yang terdefinisi dengan baik; λ bersifat linear karena Ψ linear dan surjektif (untuk t=Ψ(x), t′=Ψ(x′): λ(t+αt′)=φ(x+αx′)=λ(t)+αλ(t′)). Dengan menulis λ=∑ciεi diperoleh φ=∑i≤rciφi. (⇒) Jika φ=∑ciφi, maka setiap x yang menolkan tiap φi menolkan φ.
3. Menurut pertanyaan 1, dim⋂kerφi=n−r dengan r=dimVect(φi)≤p, dan r=p bila dan hanya bila keluarganya bebas. Untuk subruang F berkodimensi p: anihilatornya berdimensi p (Teorema 2.6); sebuah basis (φ1,…,φp) untuk F∘ memberi F=⋂ikerφi (lewat rumus pemulihannya). Kurang dari itu tidak mungkin: irisan q hiperbidang berdimensi ≥n−q>n−p menurut pertanyaan 1.
4. Hitung kerφ1∩kerφ2: dari x+y−z=0 dan y+z−t=0, parameterkan lewat (y,z): x=z−y, t=y+z, yang memberi bidang berisi vektor (z−y,y,z,y+z). Di bidang itu, ψ=x+2y−t=(z−y)+2y−(y+z)=0: jadi menurut lema pemfaktoran ψ∈Vect(φ1,φ2) — dan memang ψ=φ1+φ2. Namun ψ′=x+y+t=(z−y)+y+(y+z)=y+2z tidak nol secara identik di sana (dengan y=1,z=0 diperoleh 1): jadi ψ′∈/Vect(φ1,φ2).
5. Tiga bentuk pada ruang berdimensi 3: cukuplah kebebasannya. Jika aψ0+bψ1+cψ2=0, ujilah pada 1,X,X2: a+b+c=0, b+2c=0, b+3c=0; mengurangkan dua yang terakhir memberi c=0, lalu b=0, a=0. Basis antedual: dengan menulis P=α+βX+γX2 lalu menyelesaikan ψi(Pj)=δij (P(0)=α, P(1)=α+β+γ, ∫01P=α+2β+3γ), diperoleh
P0=1−4X+3X2,P1=−2X+3X2,P2=6X−6X2.
(Periksa, misalnya: ∫01P2=3−2=1, P2(0)=P2(1)=0.) Masalah interpolasinya terselesaikan lewat koordinat pada basis antedual itu:
P=1⋅P0+2⋅P1+23P2=1+X
(koefisien X: −4−4+9=1; koefisien X2: 3+6−9=0); dan memang P(0)=1, P(1)=2, ∫01P=23.
6. Kelinearan: untuk setiap φ, J(x+αy)(φ)=φ(x+αy)=J(x)(φ)+αJ(y)(φ), yakni J(x+αy)=J(x)+αJ(y). Keinjektifan: jika x=0, lengkapi x=e1 menjadi basis; bentuk koordinat e1∗ memberi J(x)(e1∗)=1=0. Karena dimE∗∗=dimE∗=dimE, keinjektifan mengakibatkan kebijektifan.
7. Pemuatan: untuk x∈F dan φ∈F∘ berlaku J(x)(φ)=φ(x)=0, jadi J(F)⊆F∘∘. Dimensinya (dengan Teorema 2.6 dua kali):
dimF∘∘=dimE∗−dimF∘=n−(n−dimF)=dimF=dimJ(F),
sebab J injektif. Karenanya J(F)=F∘∘.
8. Kesamaan pertama: φ menolkan F+G bila dan hanya bila ia menolkan F maupun G (ia menolkan jumlah bila dan hanya bila ia menolkan potongannya): jadi (F+G)∘=F∘∩G∘. Kesamaan kedua: pemuatan F∘+G∘⊆(F∩G)∘ sudah jelas (tiap sukunya menolkan F∩G). Dimensinya, dengan memakai kesamaan pertama dan Grassmann:
dan menurut Grassmann di E itu sama dengan n−dim(F∩G)=dim(F∩G)∘: jadi keduanya sama.
9. Lewat lemanya: kerψ⊆kerφ dengan p=1 memberi φ∈Vect(ψ), dan φ=0 membuat skalarnya tak nol. Secara langsung: pilih x0 dengan ψ(x0)=0; setiap x dapat ditulis x=(x−ψ(x0)ψ(x)x0)+ψ(x0)ψ(x)x0 dengan suku pertamanya di kerψ=kerφ; setelah φ diterapkan: φ(x)=ψ(x0)φ(x0)ψ(x).
10. Ambil basis dual(φ1∗,…,φn∗) dari (φ1,…,φn) di dalam E∗∗ (Definisi 2.1 yang diterapkan pada E∗) lalu tetapkan uj=J−1(φj∗): diperoleh basis E (sebab J isomorfisma, pertanyaan 6), dengan φi(uj)=J(uj)(φi)=φj∗(φi)=δij. Ketunggalan: syarat φi(uj)=δij menentukan J(uj) pada basis (φi), sehingga menentukan uj.
11. Kelinearan: (u+αv)Tψ=ψ∘(u+αv)=uTψ+αvTψ. Keinjektifan: jika u=0, pilih x dengan u(x)=0 dan ψ dengan ψ(u(x))=0 (siasat bentuk koordinat pada pertanyaan 6): maka uTψ=0. Ruang L(E,F) dan L(F∗,E∗) sama-sama berdimensi dimEdimF, jadi pemetaannya bijektif. Jika u punya invers, aturan pembalikan (vu)T=uTvT memberi uT(u−1)T=(u−1u)T=idE∗ dan (u−1)TuT=(uu−1)T=idF∗, sehingga (uT)−1=(u−1)T.
13. Menurut Proposisi 2.10: keruT=(imu)∘, jadi u surjektif ⟺imu=F⟺(imu)∘={0} (Teorema 2.6) ⟺uT injektif. Dan imuT=(keru)∘, jadi u injektif ⟺keru={0}⟺(keru)∘=E∗⟺uT surjektif.
14. Jika u(F)⊆F dan φ∈F∘, maka (uTφ)(x)=φ(u(x))=0 untuk x∈F, jadi uTφ∈F∘. Sebaliknya, jika u(F)⊆F, pilih x∈F dengan u(x)∈/F; menurut rumus pemulihan pada Teorema 2.6 ada φ∈F∘ dengan φ(u(x))=0: maka (uTφ)(x)=0 walaupun x∈F, sehingga uTφ∈/F∘, yakni F∘ tidak stabil.
15. Kita punya uT−λidE∗=(u−λidE)T (transposisi bersifat linear dan idT=id), jadi kernelnya adalah (im(u−λid))∘ (Proposisi 2.10), yang berdimensi
n−rk(u−λid)=dimker(u−λid)
menurut rank–nulitas. Khususnya kernel yang satu tak nol bila dan hanya bila yang lain tak nol: nilai eigennya sama, multiplisitas geometriknya sama.
16. Pemuatan: jika b=u(x) dan uTψ=0, maka ψ(b)=ψ(u(x))=(uTψ)(x)=0, jadi imu⊆(keruT)∘. Dimensinya: untuk subruang S⊆F∗ berlaku S∘=JF−1(S∘) (uraikan: y∈S∘ bila dan hanya bila setiap ψ∈S menolkan y, bila dan hanya bila JF(y)∈S∘), jadi dimS∘=dimF−dimS. Dengan S=keruT:
dim(keruT)∘=dimF−dimkeruT=rkuT=rku:
dimensinya sama, sehingga imu=(keruT)∘. Dinyatakan ulang: b∈imu bila dan hanya bila ψ(b)=0 untuk setiap ψ dengan uTψ=0 — itulah alternatif Fredholm.
17. Samakan (Km)∗ dengan Km lewat y↦ψy, ψy(v)=yTv; maka (uTψy)(x)=yTAx=(ATy)Tx, jadi uTψy=ψATy: transposnya memang matriks transpos. Paling banyak satu: jika Ax=b dan ATy=0, maka yTb=yTAx=(ATy)Tx=0=1. Sedikitnya satu: jika (i) gagal, pertanyaan 16 menyediakan ψy dengan ATy=0 dan yTb=0; lalu skalakan y agar bernilai 1.
18. Di sini A=(101112011) (baris ketiga = pertama + kedua, jadi A singular). Selesaikan ATy=0: dari y1+y3=0, y1+y2+2y3=0, y2+y3=0 diperoleh y1=y2=−y3, yakni garis yang direntang y=(1,1,−1). Menurut Fredholm: terselesaikan bila dan hanya bila yTb=b1+b2−b3=0, yakni b3=b1+b2 — yang jelas merupakan syarat yang benar, sebab persamaan ketiganya adalah jumlah dua yang pertama.
19. Matriks L bernilai 1 pada diagonalnya dan −21 pada kedudukan (k,k±1) (modulo n): jadi setangkup, sehingga LT=L di bawah penyamaan pertanyaan 17. Kernelnya: jika Lx=0 maka tiap xk=21(xk−1+xk+1). Misalkan k0 memaksimalkan xk; rata-rata kedua tetangganya, yang keduanya ≤xk0, sama dengan xk0 hanya bila keduanya sama dengan xk0; dengan merambatkannya sepanjang siklus, x pastilah konstan. Sebaliknya konstanta memang tertolkan. Jadi kerLT=kerL=R(1,…,1), dan alternatif Fredholm berbunyi: Lx=b terselesaikan bila dan hanya bila (1,…,1)Tb=∑kbk=0 — itulah syarat keselarasan diskretnya: sebuah “sebaran panas” pada sebuah cincin dapat diwujudkan oleh sebuah potensial bila dan hanya bila fluks totalnya nol.
20. Jika A antisetangkup dan S setangkup, maka
tr(AS)=tr((AS)T)=tr(STAT)=−tr(SA)=−tr(AS),
jadi 2tr(AS)=0 dan (karena charK=2) tr(AS)=0: yakni An⊆Sn∘ (dengan menyamakan dualnya dengan matriks). Dimensinya: dimSn∘=n2−2n(n+1)=2n(n−1)=dimAn, jadi keduanya sama. Dengan bertukar peran (perhitungan yang sama), An∘=Sn.
21. Berlaku tr(InM)=trM=0 untuk M∈sln: jadi garis KIn berada di anihilatornya, yang berdimensi n2−(n2−1)=1, sehingga keduanya sama. Diterjemahkan lewat isomorfisma A↦tr(A⋅): bentuk yang nol pada sln adalah tr(λIn⋅)=λtr.
22. Misalkan M∈Mn(K). Polinomial t↦det(M−tI) tak nol dan berderajat n, jadi ia punya paling banyak n akar; K berkarakteristik 0, jadi ia tak hingga: pilihlah λ=0 yang bukan akar. Maka M=(M−λI)+λI menuliskan M sebagai jumlah dua matriks berinvers.
23.Langkah 1: untuk P berinvers dan X sembarang, terapkan keawetannya pada M=XP: t(P(XP)P−1)=t(XP), yakni t(PX)=t(XP). Langkah 2: tetapkan X; kedua ruas t(BX)=t(XB) linear pada B dan berimpit pada B yang berinvers; menurut pertanyaan 22 setiap B adalah jumlah dua matriks berinvers, jadi keduanya berimpit di mana-mana. Langkah 3:t menolkan setiap komutator XB−BX; komutator merentang sln (ditunjukkan pada bukti Proposisi 2.22), jadi t nol pada sln dan pertanyaan 21 memberi t=ctr. (Sebaliknya setiap ctr memang awet terhadap keserupaan: jadi trace adalah satu-satunya invarian linear bagi keserupaan.)
24. Jika rku=r′≤r: ambil basis (f1,…,fr′) untuk imu lalu tulis u(x)=∑i=1r′ψi(x)fi; tiap koordinat ψi(x) pada u(x) linear dalam x (susunan u dengan sebuah bentuk koordinat), jadi u adalah jumlah r′≤r pemetaan berank ≤1 (tambahkan nol bila perlu). Sebaliknya, jika u=∑i=1rψi(⋅)fi, maka imu⊆Vect(f1,…,fr), yakni rku≤r. Sifat subaditifnya: tulis u dengan rku suku dan v dengan rkv suku; jumlahnya punya rku+rkv suku, jadi rk(u+v)≤rku+rkv.
25. Kamusnya: sebuah subruang F berpadanan dengan F∘ yang dimensinya melengkapi (Teorema 2.6), lalu kembali lagi lewat bidualitas (pertanyaan 6–7); jumlah bertukar dengan irisan (pertanyaan 8); sebuah pemetaan u berpadanan dengan uT yang memenuhi keruT=(imu)∘, imuT=(keru)∘, dengan rank yang sama, keinjektifan dan kesurjektifan yang bertukar, serta subruang stabil dan nilai eigen yang berpadanan (pertanyaan 11–15); persamaan u(x)=b terselesaikan bila dan hanya bila b ortogonal terhadap keruT (pertanyaan 16–19); dan pada Mn pasangan trace mewujudkan seluruh kamus itu secara konkret, dengan trace sebagai satu-satunya invarian linear bagi keserupaan (pertanyaan 20–23) dan rank sebagai panjang terkecil sebuah penguraian atas tensor elementer (pertanyaan 24). Dalam dimensi tak hingga pencacahan dimensinya gagal dan digantikan oleh hipotesis ketertutupan pada peta serta oleh kelengkapan — pada ruang Hilbert ini menjadi teorema representasi Riesz dan teori Fredholm atas operator kompak, yang dibuktikan secara jujur pada jilid Tahun ke-3.