Matematika Universitas — Tahun 2 · Bachelor Year 2
10Barisan dan Deret Fungsi
Ketika fungsi konvergen ke sebuah fungsi, sifat mana yang selamat dari pelewatan ke limitnya? Kekonvergenan titik demi titik nyaris tidak memelihara apa pun; sedangkan kekonvergenan seragam — yakni kekonvergenan dalam norma supremum — memelihara kekontinuan, integral pada ruas, dan, dengan satu pelintir, turunannya. Bab ini membuktikan ketiga teorema pemindahannya, versi deretnya, lalu memahkotainya dengan teorema hampiran Weierstrass, yang dibuktikan lewat polinomial Bernstein yang indah dan bercorak peluang.
10.1 Kekonvergenan titik demi titik dan seragam
Definisi 10.1
Misalkan (atau , atau sebuah ruang bernorma), dengan himpunan apa pun. Barisan konvergen ke titik demi titik apabila untuk setiap ; dan konvergen seragam apabila
Seragam mengakibatkan titik demi titik; sedangkan pada , kekonvergenan seragam persis sama dengan kekonvergenan di ruang Banach pada Bab 5.
Contoh 10.2
Pada , konvergen titik demi titik ke limit yang tak kontinu ; kekonvergenannya tidak seragam: sebab . Namun pada dengan ia memang seragam (sebab ): jadi keseragaman adalah sifat daerahnya, sama seperti sifat barisannya.
Contoh 10.3 (Dua limit yang menolak bertukar)
Seluruh bab ini tentang menukar limit, jadi inilah kegagalan sekecil mungkin. Misalkan untuk . Maka
kedua limit beriterasinya ada dan keduanya berbeda. Setiap teorema pemindahan pada bab ini adalah izin untuk menukar dua limit — dengan (kekontinuan), dengan (pengintegralan), dengan (penurunan) — dan kekonvergenan seragam persis menjadi bayaran yang membuat penukaran itu sah. Pelajaran penutupnya: setiap kali sebuah “bukti” diam-diam menukar dua operasi limit, maka larik dua baris inilah contoh penyangkal yang perlu diacungkan; sedangkan bonggol meluncur pada Latihan 10.2 adalah gejala yang sama dengan busana tanda integral.
10.2 Ketiga teorema pemindahan
Teorema 10.4 (Kekontinuan)
Jika tiap kontinu di dan secara seragam pada sebuah persekitaran , maka kontinu di . Jadi limit seragam fungsi kontinu bersifat kontinu.
Bukti. Hujah yang sudah dipakai pada Teorema 4.9: pilih dengan , lalu dari kekontinuan di ; maka untuk ,
∎
Contoh 10.5 (Keseragaman gagal persis di tempat limitnya patah)
Pada , misalkan . Limit titik demi titiknya adalah fungsi tiga potong:
yang tak kontinu di , jadi menurut Teorema 10.4 kekonvergenannya tak mungkin seragam pada . Namun pada potongan tertutup yang menghindari ambangnya ia seragam: untuk ,
sedangkan untuk ,
dengan kedua supremumnya terhitung lewat kemonotonan dan . Pelajaran penutupnya: kegagalan keseragamannya terpusat di ketakkontinuan limitnya — yakni geometri yang sama seperti Contoh 10.2, sekaligus alasan mengapa disiplin “seragam pada tiap ruas di dalamnya” berulang sepanjang bab ini.
Teorema 10.6 (Pengintegralan pada sebuah ruas)
Jika secara seragam pada , dengan kontinu sepotong-sepotong (demikian pula ), maka
Bukti. Kelinearan dan ketaksamaan segitiga untuk integral memberi
Faktor panjang itulah tempat kekompakan ruasnya masuk: sebab pada interval yang tidak kompak, taksiran yang sama menghasilkan batas yang tak berguna, dan kesimpulannya sungguh gagal tanpa dominasi — bonggol datar konvergen seragam ke pada namun mempertahankan (lihat catatan jebakan di bawah), dan bonggol meluncur pada catatan Bab 9 berbuat sama dengan kekonvergenan titik demi titik; jadi kekonvergenan seragam mengendalikan tinggi, tak pernah lebar. ∎
Teorema 10.7 (Penurunan)
Misalkan berkelas pada sebuah interval , dengan: konvergen seragam pada (atau pada tiap ruas ) ke suatu , dan konvergen di satu titik . Maka konvergen (seragam pada tiap ruas) ke sebuah fungsi berkelas , sebut , dan : jadi limitnya boleh diturunkan.
Bukti. Tetapkan : ini sah, sebab kontinu — memang adalah limit seragam pada ruas atas yang kontinu, jadi Teorema 10.4 berlaku, dan integral sebuah fungsi kontinu terdefinisi dengan baik dengan, menurut teorema dasar kalkulus,
jadi calon limitnya berkelas dengan turunan yang benar menurut konstruksinya, sebelum kekonvergenan apa pun dibuktikan. Menurut teorema dasar itu lagi, ; setelah dikurangkan,
yang menuju secara seragam pada tiap ruas. Dan berkelas dengan menurut konstruksinya. ∎
Contoh 10.8 (Mengapa hipotesisnya duduk pada turunannya)
Misalkan pada . Tiap berkelas (bahkan ), dan kekonvergenannya ke bersifat seragam pada seluruh :
Namun limitnya tak dapat diturunkan di : jadi kekonvergenan seragam fungsinya, secepat apa pun, tidak memindahkan keterdiferensialan. Kegagalannya kasatmata pada turunannya:
yakni limit titik demi titik yang tak kontinu, sehingga tak mungkin konvergen seragam di dekat (lagi-lagi Teorema 10.4). Pelajaran penutupnya: Teorema 10.7 dengan sengaja mengandaikan kekonvergenan seragam pada , bukan pada — dan contoh inilah alasannya.
10.3 Deret fungsi
Definisi 10.9
Sebuah deret fungsi konvergen titik demi titik atau seragam apabila jumlah parsialnya demikian. Ia konvergen normal (pada ) apabila . Kekonvergenan normal mengakibatkan kekonvergenan seragam (di ruang Banach berisi fungsi terbatas: Teorema 5.21), yang mengakibatkan kekonvergenan titik demi titik; dan kedua implikasinya tegas.
Contoh 10.10 (Satu deret, tiga vonis)
Ambil pada . Titik demi titik: ia konvergen untuk setiap (lewat pembandingan dengan deret geometri). Normal pada dengan : sebab , yang terjumlahkan. Tidak normal pada : sebab , dan divergen. Bahkan tidak seragam pada : sebab sisanya membandel di dekat ,
jadi untuk setiap . Pelajaran penutupnya: keempat vonis itu hidup rukun — sebab jumlahnya kontinu pada karena kekontinuan hanya memerlukan keseragaman di dekat tiap titik, yakni pada ruas ; sedangkan meledak di tepinya adalah hak jumlah itu sendiri.
Teorema 10.11 (Pemindahan untuk deret)
Jika konvergen seragam (misalnya normal) pada himpunan yang bersangkutan: maka kekontinuan semua di berpindah ke jumlahnya; pengintegralan pada sebuah ruas dapat dilakukan suku demi suku; dan jika konvergen sedangkan konvergen seragam pada tiap ruas, maka jumlahnya berkelas dengan turunan .
Bukti. Semuanya tak lain teorema yang bersesuaian yang diterapkan pada jumlah parsial , yang merupakan jumlah hingga atas fungsi dengan keteraturan yang bersangkutan. Kekontinuan: tiap kontinu di dan secara seragam, jadi Teorema 10.4. Pengintegralan: pada ruas itu,
menurut Teorema 10.6 (kesamaan pertamanya) dan kelinearan integralnya (kesamaan keduanya). Penurunan: tiap berkelas , konvergen, dan konvergen seragam pada tiap ruas, jadi Teorema 10.7 memberi bahwa jumlahnya berkelas dengan turunan . ∎
Catatan 10.12 (Jebakan yang sering muncul)
Ada empat jebakan, semuanya terlihat di lembar ujian. (i) Supremum yang diperiksa separuh: menilai sepanjang barisan yang dipilih baik-baik hanya membatasi dari bawah — cukup untuk menyangkal keseragamannya (seperti pada Contoh 10.2), tak pernah untuk membuktikannya; dan untuk membuktikannya, batasilah supremumnya lewat perhitungan yang sahih untuk setiap . (ii) Keseragaman pada himpunan yang salah: kekonvergenan normal atau seragam sering berlaku pada tiap atau tetapi gagal pada gabungan terbukanya; hal itu bukan halangan — sebab kekontinuan dan keterdiferensialan bersifat lokal, jadi disiplin ruas demi ruas pada Contoh 10.13 memberikannya pada seluruh himpunan terbuka itu. (iii) Mengintegralkan pada yang bukan ruas: Teorema 10.6 adalah pernyataan tentang ruas; sedangkan pada , kekonvergenan seragam tidak mencegah massanya lolos ke tak hingga (sebab konvergen seragam ke dengan ) — jadi pakailah kekonvergenan terdominasi di sana. (iv) Menurunkan limitnya: Contoh 10.8; hipotesis turunannya ada pada , dan laju kekonvergenan mana pun tak dapat menggantikannya.
Contoh 10.13 (Fungsi Riemann)
Deret konvergen normal pada tiap setengah-garis dengan (sebab , yang terjumlahkan): jadi kontinu pada ; lalu setelah diturunkan suku demi suku (sebab deret turunannya juga konvergen normal pada ), berkelas — dan, setelah diiterasikan, — dengan . Perhatikan disiplinnya: kekonvergenan normalnya diperiksa pada sub-setengah-garis, tak pernah pada yang terbuka, tempat ia gagal.
Contoh 10.14 (Sebuah deret logaritmik, dikerjakan sampai tuntas)
Misalkan pada . Tiap sukunya terbatas pada oleh , yakni deret geometri yang konvergen: jadi kekonvergenannya normal pada tiap , sehingga kontinu pada . Deret turunannya juga konvergen normal pada (sebab ), jadi berkelas dengan turunan yang geometri:
Setelah diiterasikan, berkelas . Dengan mengintegralkan (sebab baik maupun bernilai nol di dan punya turunan yang sama pada ):
yakni deret logaritmik di . Pelajaran penutupnya: ketika , — jadi deretnya divergen secara logaritmik di perbatasannya, persis seperti deret harmonik yang menjadi wujudnya di ; dan kekonvergenan normal pada tetapi tidak pada adalah gejalanya.
Metode 10.15 (Membuktikan atau menyangkal kekonvergenan seragam)
Untuk titik demi titik pada :
- Hitung atau batasi : telaahlah fungsi (lewat turunan atau kemonotonan) untuk menemukan maksimumnya; sebab batas yang sahih untuk setiap dan menuju membuktikan keseragamannya.
- Untuk menyangkalnya: tunjukkan titik dengan (sering mengikuti bonggol yang bergerak, seperti pada Latihan 10.1); atau panggillah sebuah teorema pemindahan secara kontrapositif — yakni limit tak kontinu dari fungsi kontinu (Contoh 10.5), atau pada sebuah ruas.
- Untuk deret, cobalah kekonvergenan normal lebih dulu (yakni ); jika gagal secara global, ujilah pada subruas yang penting (Contoh 10.10); dan jika gagal di mana-mana, kekonvergenan seragamnya masih mungkin berlaku lewat batas sisa berselang-seling (Latihan 10.4) atau lewat penjumlahan parsial.
10.4 Teorema hampiran Weierstrass
Teorema 10.16 (Weierstrass, lewat Bernstein)
Setiap yang kontinu merupakan limit seragam polinomial — lebih tepatnya, limit polinomial Bernstein miliknya sendiri
Bukti. Tetapkan lalu tetapkan . Ada tiga kesamaan binomial, yang diperoleh dengan menilai beserta dua turunannya terhadap di :
Secara rinci: di adalah yang pertama; lalu menurunkannya terhadap ,
lalu mengalikannya dengan dan mengambil memberi yang kedua; sedangkan menurunkannya dua kali lalu mengalikan dengan memberi yang ketiga. Setelah diuraikan lalu ketiganya dipadukan:
yakni kesamaan ragam.
Kini taksirlah, dengan memakai :
dengan pemecahannya menurut atau tidak. Diberikan , kekontinuan seragam (lewat Heine) menyediakan dengan . Untuk jumlah yang jauh, dengan : menurut kesamaan ragam dan siasat pencacahan Chebyshev,
secara seragam pada . Jadi untuk yang besar. ∎
Catatan 10.17
Lewat penyulihan afin, teoremanya berlaku pada ruas mana pun. Ia gagal pada (sebab limit seragam polinomial pada tetaplah polinomial: Latihan 10.8). Adapun pembacaan bercorak peluangnya — yakni merupakan nilai harapan di sebuah rata-rata binomial, dan batas ragamnya adalah ketaksamaan Chebyshev — dijujurkan pada Bab 23.
Catatan 10.18 (Di mana ini dipakai)
Hampiran Weierstrass adalah teorema kepadatan bagi analisis klasik: ia membuat terpisahkan, membiarkan kita memeriksa kesamaan integral pada polinomial saja (yakni masalah momen), dan melandasi versi trigonometrinya yang dibuktikan pada bab Fourier lewat kernel Fejér. Soal akhir pekan bab ini menyarikan isi kuantitatif bukti Bernstein — yakni laju kekonvergenan yang dikuasai modulus kekontinuannya — lalu memisahkan apa yang sebenarnya membuatnya berhasil, di dalam teorema Korovkin: yakni kepositifan ditambah tiga fungsi uji. Jilid Tahun ke-3 menyeluruhkan pernyataan kepadatannya ke subaljabar sembarang (Stone–Weierstrass) dan ke ruang kompak.
Contoh 10.19 (Hampiran poligonal, beserta lajunya)
Untuk sebagai konstanta Lipschitz bagi pada , misalkan penginterpolasi afin sepotong-sepotong pada simpul . Pada sebuah sel , baik maupun berada di antara nilai ekstrem yang dapat diambil fungsi Lipschitz- dengan kedua nilai simpulnya, jadi untuk di sel itu, dengan menulis :
(sebab penginterpolasinya sendiri Lipschitz- pada sel itu: sebab kemiringannya adalah hasil bagi selisih ). Karenanya : jadi hampiran poligonal bagi fungsi Lipschitz konvergen dengan laju — lebih cepat daripada milik Bernstein untuk kelas yang sama (soal akhir pekan, Bagian II). Pelajaran penutupnya: poligonnya menginterpolasi tetapi tidak mulus, Bernstein mulus tetapi lamban; jadi tak ada makan siang gratis antara keteraturan penghampirnya dan lajunya — yakni pertukaran yang dicermatkan hasil penjenuhan pada soal akhir pekan.
Catatan 10.20 (Pandangan ke depan di dalam jilid ini)
Kekonvergenan seragam menjadi kuda beban buku ini mulai sekarang. Bab deret pangkat seluruhnya berjalan pada kekonvergenan normal pada subcakram kompak — setiap teorema suku demi suku di sana adalah kasus khusus teorema pemindahan bab ini. Bab Fourier hidup satu lantai di atasnya: jumlah parsialnya gagal persis di tempat bab ini memperingatkan (yakni titik demi titik tetapi tidak seragam di lompatannya), dan rata-rata Fejér-nya berhasil lewat mekanika yang sama seperti yang membuktikan Teorema 10.4. Bab persamaan diferensial menetapkan lewat deret yang konvergen normal lalu menurunkannya suku demi suku — yakni harfiah Teorema 10.11 yang diterapkan pada unsur matriksnya. Bila kelak muncul keraguan di dalam buku ini tentang “mengapa kita boleh melakukan ini”, jawabannya biasanya sebuah teorema bab ini.
10.5 Latihan
Latihan 10.1 ★
Telaahlah kekonvergenan titik demi titik dan kekonvergenan seragamnya pada , lalu pada () atau sesuai keperluan, bagi:
Solusi
Solusi Latihan 10.1.
: limit titik demi titiknya pada . Keseragamannya: naik pada (sebab turunannya ), jadi : jadi seragam pada .
: limit titik demi titiknya (sebab eksponensialnya menang). Supremumnya: nol di , tempat : jadi tidak seragam pada — tetapi seragam pada , sebab di sana .
: limit titik demi titiknya pada (dari kedua faktornya; dan di , ). Supremumnya: dengan , berlaku yang tercapai di , yakni : jadi , sehingga tidak seragam pada ; tetapi seragam pada (sebab ).
Latihan 10.2 ★
Buktikan bahwa bagi pada Latihan 10.1, lalu damaikan dengan Teorema 10.6.
Solusi
Solusi Latihan 10.2.
Berlaku , padahal . Tak ada kontradiksi: Teorema 10.6 menuntut kekonvergenan seragam pada ruas itu, dan di sini hal itu gagal (sebab bonggol setinggi meluncur ke ).
Latihan 10.3 ★
Buktikan bahwa kontinu pada , dan bahwa berkelas pada dengan untuk .
Solusi
Solusi Latihan 10.3.
Kekonvergenan normal pada : , yang terjumlahkan: jadi kontinu di sana (Teorema 10.11).
Turunannya: deret turunannya konvergen normal pada tiap dengan (sebab ): jadi berkelas pada dengan
dengan kesamaan terakhirnya adalah deret logaritmik Tahun ke-1 (yang diturunkan secara jujur pada Bab 11).
Latihan 10.4 ★★
Misalkan pada . Buktikan kekonvergenan seragamnya (tetapi tidak normal) pada lewat batas sisa deret berselang-seling, lalu kekontinuannya, dan persamaan fungsionalnya .
Solusi
Solusi Latihan 10.4.
Untuk yang tetap, deretnya berselang-seling dengan : jadi konvergen titik demi titik, dan batas sisanya bersifat seragam pada (bahkan pada ): jadi kekonvergenannya seragam. (Tidak normal: sebab , yang divergen.) Kekontinuannya menyusul dari Teorema 10.11.
Persamaan fungsionalnya: indeks ulang dengan :
jadi, dengan memisahkan suku pada ,
Latihan 10.5 ★★
(Dini) Misalkan kontinu pada ruang metrik yang kompak, dengan titik demi titik, kontinu, dan turun terhadap untuk tiap . Buktikan bahwa kekonvergenannya seragam. (Diberikan , himpunan terbuka naik dan menyelimuti ; lalu sarikan subselimut hingganya — Teorema 4.20.)
Solusi
Solusi Latihan 10.5.
Tetapkan (yang turun terhadap menurut hipotesisnya; dan limitnya titik demi titik); tiap kontinu. Tetapkan lalu misalkan : ia terbuka (sebab prapeta himpunan terbuka), naik (sebab ), dan menyelimuti (berkat kekonvergenan titik demi titik). Menurut Borel–Lebesgue (Teorema 4.20), berhingga banyak menyelimuti : jadi , yakni , dan berkat kemonotonannya untuk setiap : jadi kekonvergenannya seragam. (Kemonotonannya penting: sebab bonggol meluncur pada Latihan 10.2 konvergen titik demi titik pada himpunan kompak tanpa keseragaman.)
Latihan 10.6 ★★
Buktikan bahwa untuk setiap yang kontinu pada . (Sulihkan ; pisahkan ; lalu dominasilah.)
Solusi
Solusi Latihan 10.6.
Sulihkan :
Integran konvergen titik demi titik ke (berkat kekontinuan di ) dan terdominasi oleh , yang terintegralkan pada : jadi kekonvergenan terdominasi (Teorema 9.6) memberi limitnya
(Kernelnya memusat di : yakni sebuah identitas hampiran.)
Latihan 10.7 ★★
Hitunglah polinomial Bernstein bagi secara gamblang lalu periksalah galat seragamnya yang diramalkan bukti Teorema 10.16 — yang di sini tepat di tiap titiknya.
Solusi
Solusi Latihan 10.7.
Untuk , pakailah keluarga kesamaan binomial kedua dari buktinya: . Karenanya
jadi , yang bernorma supremum , sesuai ramalannya.
Latihan 10.8 ★★
Buktikan bahwa jika polinomial konvergen seragam pada seluruh ke , maka sebuah polinomial. (Untuk yang besar, merupakan polinomial terbatas pada , jadi konstan; sehingga barisannya mapan kecuali konstanta.)
Solusi
Solusi Latihan 10.8.
Untuk ada dengan bagi . Polinomial yang terbatas pada pastilah konstan (sebab yang tak konstan menuju ): jadi , yakni konstanta. Karenanya untuk : dengan yang konvergen (berkat kekonvergenan titik demi titik di ). Karenanya : sebuah polinomial.
Latihan 10.9 ★★★
(Sebuah fungsi kontinu yang tak dapat diturunkan di mana pun — berpandu) Misalkan jarak ke bilangan bulat terdekat (yang berperiode , dengan , dan Lipschitz-) dan
Buktikan: (a) kontinu pada (lewat kekonvergenan normal); (b) untuk setiap dan setiap , dengan memilih bertanda yang membuat afin pada ruas dari sampai , hasil bagi selisihnya memenuhi
(sebab suku lenyap berkat keperiodikannya; suku menyumbang tepat ; dan suku terbatas berkat sifat Lipschitznya). Simpulkan bahwa tak dapat diturunkan di mana pun.
Solusi
Solusi Latihan 10.9.
(a) Di sini : jadi kekonvergenannya normal, sehingga kontinu (Teorema 10.11).
(b) Tetapkan dan ; pilihlah tanda sehingga ruas (yang berpanjang ) tak memuat satu pun bilangan setengah bulat, sehingga menjadi afin berkemiringan di sana (hal ini mungkin: sebab interval berpanjang bertemu paling banyak satu titik setengah bulat; pilihlah sisi yang menghindarinya).
Untuk : merupakan bilangan bulat, dan berperiode : jadi suku ke- pada selisihnya lenyap.
Untuk : (sebab afin berkemiringan pada ruas itu), jadi sukunya menyumbang tepat pada hasil baginya.
Untuk : sifat Lipschitz- pada memberi : jadi masing-masing menyumbang paling banyak pada hasil baginya.
Karenanya
Seandainya dapat diturunkan di , maka setiap hasil bagi selisih sepanjang akan konvergen ke : kontradiksi. Jadi kontinu di mana-mana dan tak dapat diturunkan di mana pun.
Latihan 10.10 ★
Misalkan pada . Tunjukkan bahwa konvergen titik demi titik pada lalu hitung jumlahnya; tunjukkan bahwa kekonvergenannya seragam pada (batasi sisanya , yakni ekor geometri, oleh suku pertamanya lalu maksimumkan ) tetapi tidak normal (hitung ): jadi kekonvergenan seragam tegas lebih lemah daripada kekonvergenan normal. Bandingkan dengan , yang jumlahnya tak kontinu di : di sana keseragamannya pun gagal.
Solusi
Solusi Latihan 10.10.
Titik demi titik: untuk deretnya geometri dengan rasio ,
sedangkan di tiap sukunya nol, jadi jumlahnya , yang selaras — sehingga jumlahnya kontinu pada . Keseragamannya: sisanya berupa ekor geometri,
secara seragam pada . Tidak normal: sebab , dan divergen. Bandingkan: punya jumlah parsial , yang konvergen titik demi titik ke yang tak kontinu: jadi menurut Teorema 10.4, kekonvergenan itu tak mungkin seragam pada .
Latihan 10.11 ★★
Misalkan secara seragam pada sebuah ruang metrik , dengan tiap kontinu, dan misalkan di . Buktikan . Tunjukkan lewat sebuah contoh pada bahwa kekonvergenan titik demi titik tidak cukup, bahkan dengan yang kontinu (pakailah bonggol pada Latihan 10.1 dan ).
Solusi
Solusi Latihan 10.11.
Limitnya bersifat kontinu (Teorema 10.4). Maka
dan kedua sukunya menuju (berkat kekonvergenan seragam dan kekontinuan di ). Contoh penyangkal di bawah kekonvergenan titik demi titik semata: titik demi titik pada dengan dan limitnya kontinu, namun di :
Latihan 10.12 ★★★
(Sebuah persamaan integral Volterra lewat deret) Untuk tetapkan .
Tunjukkan secara induktif bahwa untuk :
- Turunkan bahwa konvergen normal pada dan menyelesaikan persamaan integral .
- Periksalah bahwa menyelesaikan persamaan yang sama, lalu buktikan ketunggalan penyelesaian yang kontinu (sebab jika maka ): lalu simpulkan bentuk tertutup jumlahnya.
Solusi
Solusi Latihan 10.12.
Induksi. Kasus adalah definisinya. Andaikan rumusnya berlaku untuk lalu tetapkan . Untuk integran yang kontinu pada dan berkelas pada , integral berparameter dengan batas peubah itu terturunkan sebagai
(pecahlah menjadi jalur , yang bernilai dengan integrannya nol di seperti , dan integral tetap atas pertambahan -nya, yang ditangani lewat ketaksamaan nilai rata-rata dan kekontinuan). Selain itu (lewat teorema dasar kalkulus) dan : jadi dua antiturunan yang nol di berimpit, sehingga . Adapun batasnya:
- Berlaku : jadi kekonvergenannya normal, sehingga seragam; dan kontinu. Jumlah parsialnya memenuhi , sedangkan bersifat Lipschitz- terhadap (sebab ): jadi melewatkan pada kedua ruasnya memberi .
Tetapkan . Maka berkelas dengan , sedangkan dengan : jadi , yakni menyelesaikan persamaannya. Ketunggalannya: jika dua penyelesaian yang kontinu, maka memenuhi , sehingga untuk setiap dan : jadi . Karenanya
(Deret adalah deret geometri atas operator: yakni cicipan pertama resolven , yang dikembangkan pada jilid Tahun ke-3.)
10.6 Soal: Laju hampiran dan teorema Korovkin
Soal 10.1
Bukti Bernstein bagi Teorema 10.16 menyembunyikan dua harta. Pertama, ia bersifat kuantitatif: seberapa cepat dikuasai modulus kekontinuan , dengan laju tajamnya tercapai oleh . Kedua, ia bersifat struktural: yang penting hanyalah bahwa merupakan operator linear positif yang berkelakuan baik pada , , — dan pengamatan itu, setelah dipisahkan, adalah teorema Korovkin. Soal ini membuktikan keduanya, lalu ditutup dengan asimtotik eksak Voronovskaya. Di sepanjang soal ini, , , , dan menyatakan .
Bagian I — Operator Bernstein.
- Tunjukkan bahwa bersifat linear, positif (yakni ), jadi monoton (), dengan , dan bahwa menginterpolasi di kedua ujungnya.
- Turunkan kembali kesamaan , dan (turunkan dua kali lalu ambil ).
Turunkan kesamaan ragamnya lalu, lewat Cauchy–Schwarz, batas momen pertamanya
- Tunjukkan bahwa jika cembung maka pada (lewat ketaksamaan Jensen hingga untuk bobot ).
(Batas pencacahan Chebyshev, dinyatakan ulang) Untuk tunjukkan
lalu berikan pembacaan bercorak peluangnya: merata-ratakan atas rata-rata sampel binomial yang memusat di .
Bagian II — Laju: modulus kekontinuan. Untuk tetapkan .
- Tunjukkan: hingga, tidak turun, ketika (lewat Heine), subaditif (), dan untuk setiap .
Buktikan taksiran induknya, untuk setiap :
Ambil lalu simpulkan teorema Weierstrass yang kuantitatif:
- Turunkan lajunya: bila konstanta Lipschitz bagi , dan bila eksponen Hölder bagi (yakni ).
(Contoh yang tajam — sebuah kesamaan binomial) Untuk buktikan
(pakailah dan kesetangkupan baris binomialnya, yang memberi ).
Untuk turunkan nilai eksaknya beserta asimtotiknya (lewat binomial pusat, Contoh 6.14):
jadi laju pada pertanyaan 8 tercapai (kecuali sebuah konstanta) — untuk yang sekadar kontinu, milik Bernstein memang jujur.
Bagian III — Teorema Korovkin. Misalkan sebuah barisan operator linear positif dari ke dirinya sendiri sehingga secara seragam untuk .
- Tunjukkan bahwa yang linear positif bersifat monoton dan memenuhi titik demi titik.
Tunjukkan: untuk setiap ada sehingga untuk setiap :
(tangani lewat Heine dan lewat batas kasar ).
Tetapkan , terapkan pada ketaksamaan pertanyaan 13 dalam peubah , lalu turunkan
- Tunjukkan bahwa , lalu rakitlah teorema Korovkin: yakni secara seragam untuk setiap .
- Periksalah bahwa memenuhi hipotesis Korovkin: jadi Weierstrass untuk ketiga kalinya, dari tiga monomial.
- Misalkan operator interpolasi afin sepotong-sepotong pada simpul . Tunjukkan bahwa bersifat linear positif, , , dan (sebab pada tiap sel, galat interpolasi afin bagi adalah ). Lalu simpulkan lewat Korovkin: penginterpolasi poligonal konvergen seragam untuk setiap yang kontinu.
Bagian IV — Panennya: kepadatan, momen, dan turunan.
- Tunjukkan bahwa polinomial berkoefisien rasional bersifat padat di : jadi ruang Banach ini terpisahkan.
- (Momen menentukan fungsinya) Misalkan dengan untuk setiap . Tunjukkan untuk setiap polinomial, lalu , lalu .
Buktikan kesamaan turunannya
(turunkan lalu indeks ulang — yakni sebuah penjumlahan Abel).
- Andaikan berkelas . Dengan memakai teorema nilai rata-rata pada tiap pertambahannya lalu membandingkannya dengan , tunjukkan bahwa secara seragam pada . Turunkan: untuk ada polinomial yang konvergen ke beserta turunannya.
Andaikan berkelas . Lewat Taylor–Lagrange di tunjukkan
jadi kemulusannya meningkatkan lajunya dari menjadi .
Bagian V — Penjenuhan: teorema Voronovskaya.
Buktikan kesamaan momen keempatnya
(uraikan atas faktorial turun lalu pakai siasat penurunan pertanyaan 2 dua kali lagi).
(Voronovskaya) Misalkan berkelas dan . Dengan menulis dengan terbatas dan ketika , buktikan
(pecahlah jumlah -nya di ; lalu kendalikan bagian jauhnya dengan pertanyaan 23). Jadi galat pertanyaan 22 eksak baik ordenya maupun konstantanya: menjenuh pada , semulus apa pun — bandingkan dengan Latihan 10.7.
- Rangkuman. Satu kalimat untuk masing-masing: (i) apa yang dibeli kepositifan semata (Bagian I dan III); (ii) di mana kekompakan masuk pada tiap bagiannya; (iii) mengapa tiga fungsi uji sudah cukup pada teorema Korovkin; (iv) pertukaran yang dilakukan Bernstein (yakni yang tangguh untuk yang kasar, tetapi langit-langit untuk yang mulus), dan bab mana pada buku ini yang akan memainkan permainan sama dengan polinomial trigonometri.
Solusi
Solusi Soal 10.1.
1. Kelinearannya jelas dari rumusnya. Kepositifannya: bobot , jadi memaksa ; dan kemonotonannya menyusul setelah diterapkan pada . Batasnya: dari diperoleh . Di ujungnya: dan , jadi dan .
2. Turunkan terhadap , kalikan dengan , lalu ambil :
dua kali, lalu dikalikan : . Karenanya (lewat teorema binomial), , dan
3. Uraikan:
Lalu Cauchy–Schwarz dengan pemecahan memberi
dengan memakai .
4. Bobot bersifat tak negatif dengan jumlah dan barisenter (pertanyaan 2). Lalu ketaksamaan Jensen yang hingga bagi yang cembung (lewat induksi dari definisi dua titiknya, jilid Tahun ke-1) memberi
5. Pada berlaku , jadi
Pembacaannya: adalah distribusi frekuensi sampel atas lemparan koin berbias ; nilai harapannya , ragamnya , dan ungkapan di atas tak lain ketaksamaan Chebyshev: jadi massanya memusat di , sehingga merata-ratakan terhadapnya memproduksi kembali pada limitnya (Bab 23 meresmikan kosakatanya).
6. Berlaku ; kemonotonannya jelas (sebab supremum atas himpunan yang lebih besar). Heine: yang kontinu pada himpunan kompak bersifat kontinu seragam, dan itu persis berbunyi ketika . Subaditifnya: jika , maka titik pada ruas yang berjarak dari memenuhi dan , sedangkan . Setelah diiterasikan, untuk ; lalu untuk , dengan : .
7. Karena :
Untuk tiap , pertanyaan 6 dengan memberi ; lalu menjumlahkannya terhadap menghasilkan taksiran induknya.
8. Masukkan batas pertanyaan 3:
secara seragam pada ; lalu dengan kurungnya menjadi : jadi menurut pertanyaan 6 (Heine). Ini membuktikan ulang Teorema 10.16 beserta lajunya.
9. Lipschitz- berarti : jadi lajunya . Sedangkan Hölder- berarti : jadi lajunya .
10. Dengan memakai :
sebab membijeksikan pada , sehingga jumlahnya separuh dari . Selain itu (lewat kesetangkupan yang sama). Karenanya
Penyulihan memetakan suku dengan pada suku dengan (dengan binomial yang sama dan yang sama): jadi jumlah mutlaknya dua kali jumlah sepihaknya, yakni .
11. Di berlaku dan , jadi
menurut Contoh 6.14. Karena di sini (sebab fungsinya Lipschitz- dan batasnya tercapai), pertanyaan 8 meramalkan paling banyak : sedangkan galat sejatinya tepat berorde — jadi lajunya tajam kecuali konstantanya.
12. Dari diperoleh , jadi , yakni . Dari : , yakni .
13. Lewat Heine pilihlah dengan setiap kali . Jika , maka dan . Jadi pada kedua kasusnya batas yang diklaim itu berlaku.
14. Tetapkan ; pertanyaan 13 berbunyi, sebagai fungsi :
Lalu terapkan yang linear monoton (pertanyaan 12) lalu nilailah di :
15. Tulis , sehingga . Karena :
yang bernorma supremum paling banyak . Selain itu secara seragam, jadi untuk yang besar, dan . Setelah dirakit dengan pertanyaan 14: untuk yang besar, seragam pada ,
jadi secara seragam — itulah teorema Korovkin.
16. Berlaku dan secara eksak, dan (pertanyaan 2): jadi Korovkin berlaku, dan Weierstrass menyusul untuk ketiga kalinya.
17. Pemetaan linear pada (sebab nilai simpulnya demikian), dan pada tiap sel penginterpolasi afin atas nilai simpul yang tak negatif bersifat tak negatif: jadi positif. Lalu dan sebab fungsi afin sama dengan penginterpolasinya sendiri. Pada sebuah sel (dengan ), penginterpolasi afin bagi adalah , dan
dengan maksimumnya di titik tengahnya: jadi . Menurut Korovkin: secara seragam untuk setiap yang kontinu — yakni hampiran poligonal, tanpa perlu taksiran lebih lanjut.
18. Diberikan dan : Weierstrass menyediakan polinomial dengan ; lalu mengganti tiap dengan bilangan rasional yang menggeser norma supremumnya pada paling banyak . Adapun himpunan polinomial berkoefisien rasional adalah gabungan terbilang (atas ) atas himpunan terbilang, jadi terbilang, dan sekaligus padat: sehingga terpisahkan.
19. Berkat kelinearan, untuk setiap polinomial . Pilihlah polinomial yang konvergen seragam (lewat Weierstrass):
jadi . Seandainya , kekontinuan memberi pada sebuah subinterval, yang bertentangan dengan penolkan integralnya: jadi . Akibatnya dua fungsi kontinu dengan momen yang sama pastilah berimpit.
20. Dengan dan kesepakatan , aturan hasil kali beserta dan memberi
Lalu menjumlahkannya terhadap dan menggeser indeks pada jumlah pertamanya (yakni penjumlahan Abel) memberi
21. Menurut teorema nilai rata-rata, dengan , jadi . Simpul juga terletak di (sebab kedua ketaksamaannya menyusut menjadi ), sehingga dan
secara seragam. Karena secara seragam (Teorema 10.16 yang diterapkan pada yang kontinu), ketaksamaan segitiga memberi secara seragam. Karenanya polinomial konvergen ke dalam arti .
22. Taylor–Lagrange di : . Setelah dijumlahkan terhadap , suku linearnya mati (pertanyaan 2):
23. Dua kali penurunan lagi atas memberi momen faktorialnya, dengan :
sedangkan dan mengubahnya menjadi momen pangkat:
Setelah diuraikan lalu dikumpulkan (yakni perhitungan yang sabar tetapi murni mekanis dengan keempat momen pangkat tadi):
Dengan : ruas kanannya paling banyak untuk .
24. Bentuk Peano pada Taylor di menetapkan untuk , dan : sebab menurut Taylor–Lagrange untuk suatu di antara dan , jadi dan ketika (berkat kekontinuan ). Setelah uraiannya dijumlahkan terhadap dan pertanyaan 2–3 dipakai:
Diberikan , pilihlah dengan pada . Bagian dekatnya: paling banyak . Bagian jauhnya: dengan dan pertanyaan 23,
Karenanya — itulah teorema Voronovskaya. Untuk hal ini eksak di setiap (Latihan 10.7): jadi langit-langit itu nyata.
25. (i) Kepositifan mengubah ketaksamaan titik demi titik menjadi ketaksamaan operator: ia memberi batas normanya, Jensen, Chebyshev, dan seluruh Korovkin — sedangkan kelinearan semata tak membuktikan apa pun di sini. (ii) Kekompakan masuk lewat Heine (pertanyaan 6 dan 13), lewat keterbatasan , dan lewat kenyataan bahwa norma itu sendiri hingga. (iii) Tiga fungsi uji sudah cukup karena kepositifan menyusutkan segalanya menjadi pengendalian pada satu keluarga , yang rentangnya sama dengan rentang . (iv) Bernstein konvergen dengan laju jujur untuk setiap yang kontinu (dan tajam, pertanyaan 11) tetapi menjenuh pada untuk yang mulus (pertanyaan 24); sedangkan bab Fourier menjalankan program yang sama untuk fungsi periodik lewat kernel Fejér — yakni operator positif lain dengan keutamaan dan kerendahan hati yang sama.