Kereta pada sebuah kereta luncur memasuki loopnya pada 90km/h, melambat sambil menanjak, tergantung sesaat di puncaknya, lalu meraung keluar lagi; penumpangnya merasa terhimpit ke kursinya di dasar dan nyaris tanpa berat di puncaknya. Menggambarkan perjalanan itu — di mana keretanya, seberapa cepat ia bergerak, bagaimana kecepatannya berbelok dan berubah — itulah kinematika, dan ia menuntut lebih daripada x, y, z sebuah jalan lurus: koordinat polar untuk apa pun yang berputar, dan kerangka yang ikut berjalan bersama keretanya sendiri. Bab ini menyiapkan perkakas itu, membuktikan rumus kecepatan dan percepatan pada masing-masingnya, lalu menerapkannya pada gerak yang akan dipanggil setiap bab berikutnya: melingkar, heliks, harmonik, dan gerak menyusuri sebarang kurva.
Kerangka acuan adalah benda tegar yang dianggap tetap (laboratorium, Bumi, sebuah kereta), bersama sebuah jam. Partikel titikM — benda yang ukurannya tak berarti bagi gerak yang dipelajari — ditentukan letaknya pada tiap saat oleh vektor posisinya OM(t) dari titik asal O yang melekat pada kerangkanya; kurva yang digambarkan M adalah lintasannya. Gerak selalu berupa gerak relatif terhadap sebuah kerangka: penumpang yang sama diam di dalam keretanya dan bergerak di stasiunnya.
Definisi 11.2(Kecepatan dan percepatan)
Kecepatan dan percepatanM dalam kerangkanya adalah
v=dtdOM,a=dtdv=dt2d2OM,
yaitu turunan fungsi vektor: turunan sebuah vektor diperoleh dengan menurunkan komponennya dalam basis yang tetap di dalam kerangkanya. Kecepatannya menyinggung lintasannya dan menunjuk searah geraknya; normanya v adalah kelajuannya. Satuannya: m/s, m/s2.
Proposisi 11.3(Koordinat Kartesius)
Dengan basis ortonormal tetap (ex,ey,ez) dan OM=xex+yey+zez,
v=x˙ex+y˙ey+z˙ez,a=x¨ex+y¨ey+z¨ez,
dengan titik menyatakan d/dt.
Bukti. Vektor basisnya tetap; hanya komponennya yang berubah. ∎
Contoh 11.4(Proyektil)
Ditembakkan dari O dengan laju v0 dan sudut α di atas mendatar, koordinat sebuah bola (dinamika, bab berikutnya) adalah x=v0cosαt, z=v0sinαt−21gt2. Maka v=v0cosαex+(v0sinα−gt)ez, a=−gez: percepatannya tetap sementara kecepatannya berbelok; di puncaknya (z˙=0, t=v0sinα/g) kecepatannya mendatar dan percepatannya tegak lurus terhadapnya. Dengan menghilangkan t: z=xtanα−gx2/(2v02cos2α), sebuah parabola.
Parabola sebuah proyektil: kecepatannya menyinggung lintasannya dan berbelok, sedangkan percepatang tetap. Di puncaknya kecepatan dan percepatannya tegak lurus: kelajuannya sesaat stasioner sementara arahnya masih berubah.
11.2 Koordinat silinder
Definisi 11.5(Koordinat silinder dan basisnya)
Titik M ditentukan letaknya oleh r≥0 (jaraknya ke sumbu z), sudut θ proyeksinya pada bidang xy terhadap ex, dan z: OM=rer+zez, dengan
er=cosθex+sinθey,eθ=−sinθex+cosθey,
dan ez membentuk basis lokal(er,eθ,ez), yang ortonormal dan langsung, dan yang bergerak bersama M. Pada bidangnya (z tetap) inilah koordinat polar(r,θ).
Lema 11.6(Turunan basis lokalnya)
dtder=θ˙eθ,dtdeθ=−θ˙er,dtdez=0.
Bukti. Turunkan komponennya: der/dt=θ˙(−sinθex+cosθey)=θ˙eθ, dan serupa untuk eθ. Turunan sebuah vektor satuan yang berputar tegak lurus terhadapnya, dengan norma sebesar laju sudutnya. ∎
Teorema 11.7(Kecepatan dan percepatan dalam koordinat silinder)
Bukti. Turunkan OM=rer+zez dengan lemanya: v=r˙er+rθ˙eθ+z˙ez. Turunkan sekali lagi: r¨er+r˙θ˙eθ+r˙θ˙eθ+rθ¨eθ−rθ˙2er+z¨ez; lalu kumpulkan. ∎
Koordinat polar: basis lokalnya(er,eθ) berputar bersama M; kecepatannya mempunyai bagian radial r˙ dan bagian ortoradial rθ˙. Di sini lintasannya (merah) memilin ke luar, sehingga r˙>0 dan v condong ke luar dari garis singgung lingkarannya.
Akibat 11.8(Gerak melingkar)
Pada lingkaran berjari-jari R (r=R, z=0), dengan kecepatan sudutω=θ˙:
v=Rωeθ,a=−Rω2er+Rω˙eθ=−Rv2er+dtdveθ.
Untuk gerak melingkarberaturan (ω tetap), percepatannya murni sentripetal, bernorma v2/R=Rω2, walaupun kelajuannya tetap.
Bukti. Tetapkan r˙=r¨=0 dalam teoremanya; v=Rω. ∎
Contoh 11.9(Dua lingkaran)
Sebuah mobil memutari bundaran berjari-jari 20m pada 36km/h (10m/s): a=v2/R=5.0m/s2, separuh g, terarah ke pusatnya — itulah yang harus dipasok bannya. Bulan (R=3.84×108m, T=27.3d): ω=2π/T=2.66×10−6rad/s, a=Rω2=2.7×10−3m/s2, seper 3600 dari g di permukaan Bumi, pada enam puluh jari-jari Bumi — perbandingan yang dibuat Newton (Bab 16).
11.3 Koordinat bola
Definisi 11.10(Koordinat bola)
Titik M ditentukan letaknya oleh jaraknya r=OM, kolatitudeθ∈[0,π] antara OM dan ez, serta azimutφ proyeksinya pada bidang xy: OM=rer dengan
er=sinθcosφex+sinθsinφey+cosθez;
eθ (menyinggung meridiannya, ke arah θ yang menaik) dan eφ (menyinggung lingkaran lintangnya) melengkapi basis ortonormal lokalnya. Di Bumi, θ adalah 90∘ dikurangi lintangnya dan φ adalah bujurnya.
Proposisi 11.11(Kecepatan dalam koordinat bola)
v=r˙er+rθ˙eθ+rsinθφ˙eφ.
Bukti.der/dt=θ˙eθ+sinθφ˙eφ: suku pertamanya adalah perputaran pada bidang meridiannya (seperti pada kasus polarnya), suku keduanya perputaran terhadap ez dengan laju φ˙ sebuah vektor yang jaraknya ke sumbunya adalah sinθ. Lalu v=d(rer)/dt. Percepatannya tak diperlukan tahun ini. ∎
Koordinat bola(r,θ,φ) dan basis lokalnya: er radial, eθ menyusuri meridiannya (ke arah selatan pada sebuah bola dunia), eφ menyusuri lingkaran lintangnya (ke arah timur).
11.4 Basis Frenet
Definisi 11.12(Absis lengkung; basis Frenet)
Sepanjang sebuah lintasan, absis lengkungs(t) adalah panjang busur dari sebuah titik acuan, yang dihitung secara aljabar; v=s˙. Di M, vektor singgung satuan T=dOM/ds menunjuk ke arah s yang menaik; jari-jari kelengkunganρ>0 dan vektor normal satuan N, yang menunjuk ke sisi cekungnya (pusat kelengkungannya), didefinisikan oleh
dsdT=ρ1N.
(T,N) adalah basis Frenet; ρ=∞ pada garis lurus, dan ρ=R pada lingkaran berjari-jari R.
Teorema 11.13(Percepatan dalam basis Frenet)
v=vT,a=dtdvT+ρv2N.
Komponen tangensialdv/dt mengukur seberapa cepat kelajuannya berubah; komponen normalv2/ρ, yang selalu ke arah pusat kelengkungannya, mengukur seberapa cepat arahnya berbelok. Geraknya beraturan jika dan hanya jika a⊥v; ia lurus jika dan hanya jika a∥v.
Bukti.v=(dOM/ds)(ds/dt)=vT. Lalu a=v˙T+vdT/dt=v˙T+v(dT/ds)s˙=v˙T+(v2/ρ)N. Bahwa dT/ds⊥T menyusul dari T⋅T=1 yang diturunkan. ∎
Basis Frenet pada sebuah titik kurva: T searah geraknya, N ke arah pusat kelengkungannya C. Percepatannya terbelah menjadi bagian tangensial v˙T (mempercepat atau mengerem) dan bagian normal (v2/ρ)N (berbelok).
Contoh 11.14(Mengerem di sebuah tikungan)
Sebuah mobil pada 90km/h (25m/s) di tikungan berjari-jari 100m mengerem pada 2.0m/s2: aT=−2.0m/s2, aN=625/100=6.25m/s2, a=4+39=6.6m/s2. Bagian normalnya mendominasi: tikungan pertama-tama adalah perbelokan, dan cengkeraman bannya (bab berikutnya) membatasi aT2+aN2, yang menjelaskan mengapa orang mengerem sebelum tikungannya.
11.5 Gerak baku
Proposisi 11.15(Gerak lurus berubah beraturan)
Pada sebuah sumbu, x¨=a tetap, dari x0 dan v0: v=v0+at, x=x0+v0t+21at2, dan v2−v02=2a(x−x0).
Bukti. Integralkan dua kali; hilangkan t di antara kedua hubungan pertamanya. ∎
Proposisi 11.16(Gerak heliks)
r=R, θ=ωt, z=vzt (dengan R, ω, vz tetap): kelajuannya v=R2ω2+vz2 tetap, percepatannyaa=−Rω2er sentripetal dan bernorma tetap, dan jari-jari kelengkungannyaρ=v2/a=R(1+vz2/R2ω2)>R.
Bukti.Teorema 11.7 dengan r˙=0, θ¨=0, z¨=0; geraknya beraturan, sehingga a murni normal dan v2/ρ=Rω2. ∎
Proposisi 11.17(Gerak harmonik)
x=Acos(ωt+φ): x˙=−Aωsin(ωt+φ), x¨=−ω2x. Kecepatannya mendahului kedudukannya seperempat periode dan percepatannya berlawanan dengan kedudukannya; vmax=Aω, amax=Aω2. Inilah proyeksi pada sebuah garis tengah dari gerak melingkar beraturan berjari-jari A dan berkecepatan sudut ω.
Bukti. Turunkan; untuk proyeksinya, ambil x=Acosθ dengan θ=ωt+φ. ∎
Metode 11.18(Memilih koordinat)
Gerak lurus atau parabolik, dengan percepatan tetap: Kartesius.
Gerak mengelilingi sebuah sumbu atau sebuah titik (lingkaran, pilinan, orbit, meja putar): silinder/polar; basisnya bergerak, jadi pakailah Teorema 11.7, jangan pernah menurunkan komponennya secara naif.
Sebuah kurva tertentu (lintasan, tikungan, loop) ketika hukum kelajuannya diketahui: Frenet, yang memisahkan “seberapa cepat” dari “ke arah mana”.
Apa pun pilihannya, v dan a adalah vektor yang bergantung pada kerangkanya, dan sebuah hasil baru lengkap bila kerangkanya disebutkan.
11.6 Latihan
Latihan 11.1★
Sebuah mobil berangkat dari keadaan diam dengan x(t)=2.0t2 (satuan SI). Berapa kecepatan dan percepatannya pada t=3.0s; jarak yang ditempuhnya dalam 5s pertama; dan waktu untuk mencapai 100km/h?
Solusi
Solusi Latihan 11.1.
v=4.0t: 12m/s pada 3.0s; a=4.0m/s2; x(5)=50m; 100km/h=27.8m/s pada t=27.8/4.0=6.9s.
Latihan 11.2★
Sebuah titik bergerak pada sebuah bidang dengan r=2.0m dan θ=3.0t (rad, SI). Berikan v dan a dalam basis polarnya, normanya, dan sifat geraknya.
Sebuah titik di khatulistiwa (R=6.37×106m, hari sideris 86164s): berapa kelajuan dan percepatannya dalam kerangka geosentrik? Bandingkan percepatannya dengan g.
Solusi
Solusi Latihan 11.3.
v=2πR/T=2π×6.37×106/86164=465m/s; a=v2/R=0.034m/s2, yaitu g/290.
Latihan 11.4★
Sebuah bola dilemparkan dengan v0=12m/s pada α=40∘; koordinatnya seperti pada Contoh 11.4. Carilah waktu sampai puncaknya, tinggi maksimumnya, jangkauannya, dan kecepatannya saat mendarat.
Solusi
Solusi Latihan 11.4.
v0sinα=7.71m/s, v0cosα=9.19m/s. Puncaknya pada t=7.71/9.81=0.79s, tingginya 7.712/(2×9.81)=3.0m. Jangkauannya 2×9.19×0.786=14.5m. Saat mendarat: (9.19,−7.71), 12m/s pada 40∘ di bawah mendatar.
Latihan 11.5★★
Seorang pesepeda pada 10m/s memasuki tikungan berjari-jari 25m lalu mempercepat pada 1.0m/s2. Berikan a dalam basis Frenet dan normanya; bagaimana setelah 5s dengan percepatan yang sama pada tikungan yang sama?
Solusi
Solusi Latihan 11.5.
aT=1.0m/s2, aN=102/25=4.0m/s2, a=4.1m/s2. Setelah 5s: v=15m/s, aN=225/25=9.0m/s2, a=9.1m/s2.
Latihan 11.6★★
Sebuah titik menyusuri pilinan r=bθ, θ=ωt (dengan b, ω tetap). Hitunglah v, kelajuannya, dan a dalam basis polarnya. Dari mana suku 2r˙θ˙ berasal?
Solusi
Solusi Latihan 11.6.
r=bωt, r˙=bω, r¨=0, θ˙=ω: v=bωer+bω2teθ, v=bω1+ω2t2; a=−bω3ter+2bω2eθ. Suku 2r˙θ˙ mempunyai dua paruh yang sama besar: arah kecepatan radialnya berputar dengan laju θ˙ (memberi r˙θ˙eθ), dan bergerak ke luar memperbesar kelajuan ortoradialnya rθ˙ (satu r˙θ˙ lagi).
e˙r=θ˙(−sinθex+cosθey)=θ˙eθ; e˙θ=θ˙(−cosθex−sinθey)=−θ˙er. Lalu v=r˙er+rθ˙eθ, dan dengan menurunkannya sekali lagi memakai kaidah hasil kali diperoleh percepatanTeorema 11.7.
Latihan 11.10★★★
Untuk proyektil Contoh 11.4, carilah jari-jari kelengkunganlintasannya di puncaknya dan di titik tembaknya (pakailah komponen normal g). Yang mana yang lebih kecil, dan mengapa?
Solusi
Solusi Latihan 11.10.
Puncak: v=v0cosα, aN=g: ρ=v02cos2α/g. Titik tembak: v=v0, aN=gcosα: ρ=v02/(gcosα). Jari-jari di puncaknya lebih kecil dengan faktor cos3α: parabolanya paling membengkok di tempat ia paling lambat dan di tempat seluruh g bersifat normal.
Latihan 11.11★★★
Sebuah roda berjari-jari R menggelinding tanpa tergelincir dengan laju v; sebuah titik pada peleknya berkoordinat x=vt−Rsin(vt/R), y=R−Rcos(vt/R) (sebuah sikloid). Hitunglah kecepatan dan percepatannya; tunjukkan bahwa ketika ia menyentuh tanah kecepatannya lenyap dan percepatannyav2/R ke atas; lalu carilah kelajuannya di puncaknya.
Solusi
Solusi Latihan 11.11.
x˙=v−vcos(vt/R), y˙=vsin(vt/R); x¨=(v2/R)sin(vt/R), y¨=(v2/R)cos(vt/R). Di tanahnya (vt/R=2πn): x˙=y˙=0 dan a=(0,v2/R), ke atas. Di puncaknya (vt/R=π): x˙=2v, y˙=0: kelajuannya 2v.
Latihan 11.12★★★
Seseorang berjalan ke luar menyusuri jari-jari sebuah meja putar yang berputar dengan ω tetap, dengan laju tetap u relatif terhadap meja putarnya: r=ut, θ=ωt. Hitunglah a dalam basis polarnya, kenali kedua sukunya, lalu hitunglah keduanya untuk u=1.0m/s, ω=1.0rad/s pada t=2.0s. Suku mana yang tak berpadanan bagi orang yang berjalan di atas tanah?
Solusi
Solusi Latihan 11.12.
r¨=0, r˙=u, θ˙=ω: a=−utω2er+2uωeθ. Pada t=2.0s: −2.0er+2.0eθ (m/s2). Yang pertama adalah suku sentripetal perputarannya; yang kedua, 2r˙θ˙, ada hanya karena arah radialnya sendiri berputar — di atas tanah, berjalan lurus dengan laju tetap sama sekali tak memberi percepatan.
Sebuah loop tegak (Yomiuriland, Tokyo): berbentuk tetes air mata dan bukan lingkaran, sehingga kelengkungannya terbesar di puncaknya tempat kelajuannya terkecil — geometri soal akhir pekan. Foto: Jeremy Thompson, CC BY 2.0.
11.7 Soal: Loop kereta luncur
Soal 11.1
Soal akhir pekan — sebuah kereta memasuki loop tegak pada sembilan puluh kilometer tiap jam: di mana ia melambat, ke mana percepatannya menunjuk, berapa g yang dirasakan penumpangnya, dan mengapa loop modern bukan lingkaran
Sebuah kereta, yang diperlakukan sebagai titik M, berjalan pada loop melingkar tegak berjari-jari R=10m, berpusat C. Kedudukannya diberikan oleh sudut θ antara CM dan garis tegak ke bawah (θ=0 di dasarnya, π di puncaknya). Gesekan diabaikan, dan hukum kelajuannya (diturunkan dalam Bab 13) adalah
v2=v02−2gR(1−cosθ),
dengan v0=25m/s sebagai kelajuan di dasarnya; g=9.81m/s2.
Bagian I — Kinematika pada lingkarannya.
Dalam koordinat polar yang berpusat di C (dengan er dari C ke M), tuliskan v dan a bagi gerak pada lingkarannya.
Hitunglah kelajuannya di puncaknya, dan di titik sampingnya θ=π/2 dan 3π/2.
Turunkan hukum kelajuannya terhadap waktu untuk menunjukkan bahwa percepatan tangensialnyaaT=−gsinθ. Tafsirkan tandanya pada perjalanan naik dan pada perjalanan turun.
Nyatakan percepatan normalnyaaN(θ) lalu hitunglah di dasarnya, di sampingnya dan di puncaknya.
Berikan norma a pada keempat titik itu dan sudut yang dibentuknya dengan garis tegak di puncaknya.
Pada titik mana a tegak lurus terhadap v? Sejajar?
Bagian II — Laju sudut dan pewaktuannya.
Nyatakan θ˙ sebagai fungsi θ lalu hitunglah di dasarnya dan di puncaknya.
Tunjukkan bahwa θ¨=−(g/R)sinθ (persamaan sebuah bandul) lalu berikan komentar.
Sebagai pembanding, hitunglah periode osilasi kecil sebuah bandul sederhana sepanjang R (Contoh 1.8 telah memberikan bentuknya; k=2π).
Taksirlah waktu untuk mengelilingi loopnya, dengan memakai rata-rata kelajuan pada keempat titik acuannya.
Kelajuan minimum di puncaknya agar keretanya tetap pada lintasannya (bab berikutnya) adalah gR. Apakah syarat itu terpenuhi? Berapa v0 minimum yang diperlukan?
Bagian III — Apa yang dirasakan penumpangnya. Berat semu tiap satuan massa yang dirasakan seorang penumpang adalah a−g (diterima saja di sini, diturunkan dalam Bab 12); normanya dalam satuan g disebut “beban-g”.
Hitunglah beban-g di dasarnya.
Hitunglah di puncaknya, lalu katakan ke arah mana penumpangnya tertekan (ke kursinya atau ke pengamannya).
Hitunglah di titik sampingnya.
Penumpang menoleransi sekitar 4g untuk waktu singkat. Apakah loop ini lolos? Di mana masalahnya?
Tunjukkan bahwa, untuk loop melingkar yang dimasuki tepat cukup cepat untuk melewati puncaknya (berat semunya nol di sana), beban-g di dasarnya niscaya 6g, berapa pun R-nya.
Bagian IV — Loop klotoid. Loop modern berbentuk “tetes air mata”: jari-jari kelengkungannya besar di dasarnya dan kecil di puncaknya.
Dengan memakai bentuk Frenet a, jelaskan mengapa mengubah ρ di sepanjang lintasannya mengubah aN tanpa mengubah hukum kelajuannya (yang hanya bergantung pada ketinggiannya).
Pilihlah ρdasar agar beban-g di dasarnya 3g dengan v0=25m/s.
Di puncaknya, ketinggiannya tetap 2R=20m di atas dasarnya. Pilihlah ρpuncak agar beban-g di sana 1.5g.
Sebuah klotoid berkelengkungan sebanding dengan panjang busurnya, 1/ρ=s/A2. Menyusuri jalan masuk semacam itu, dengan kelajuan yang nyaris tetap, bagaimana aN tumbuh terhadap waktu, dan mengapa hal itu lebih lembut bagi leher daripada lingkaran (yang aN-nya melompat di jalan masuknya)?
Sketsalah bentuk loop yang dihasilkannya secara kualitatif lalu ringkaslah dalam dua kalimat mengapa ia menggantikan lingkarannya.
Bagian V — Dilihat dari tanah. Sebuah kamera setinggi tanah, 50m dari pusat loopnya pada bidangnya, mengikuti keretanya.
Ketika keretanya berada di puncaknya, bergerak mendatar pada 15m/s, dengan laju sudut berapa (rad/s) kameranya harus berputar? (Koordinat polar dari kameranya.)
Mengapa kamera yang berputar dengan laju tetap merupakan pengikut yang buruk bagi gerak melingkar beraturan?
Ringkaslah pelajaran bab ini dari loopnya: sistem koordinat mana yang menjawab pertanyaan yang mana.
Solusi
Solusi Soal 11.1.
1.v=Rθ˙eθ; a=−Rθ˙2er+Rθ¨eθ.
2.T=eθ (gerak dengan θ yang menaik), N=−er (ke arah C), ρ=R.
6. Dasar: 62.5m/s2 (tanpa bagian tangensial); samping: 42.92+9.812=44.0m/s2; puncak: 23.3m/s2, menunjuk lurus ke bawah ke arah C: sudutnya 0 dengan garis tegaknya.
7. Tegak lurus di dasarnya dan di puncaknya (aT=0); tak pernah sejajar (aN>0 di mana-mana).
9.θ¨=v˙/R=−(g/R)sinθ: persamaan bandul sederhana sepanjang R — keretanya di atas lintasannya adalah bandulan yang melewati puncaknya.
10.2πR/g=2π10/9.81=6.3s.
11. Rata-rata 25, 20.7, 15.3, 20.7: sekitar 20m/s; panjangnya 2πR=63m: kira-kira 3s.
12.gR=9.9m/s<15.3: ya. Minimumnya: v02≥gR+4gR=5gR=490, v0≥22.1m/s.
13. Dasar: a=62.5 ke atas, g ke bawah: a−g=62.5+9.8=72.3m/s2=7.4g.
14. Puncak: keduanya ke bawah, 23.3−9.8=13.5m/s2=1.4g, yang menekan penumpangnya ke kursinya (ke arah pusatnya, yaitu ke atas bagi penumpang yang terbalik).
15. Samping: a=42.9 mendatar ke arah C ditambah 9.8 ke bawah (tangensial); a−g adalah 42.9 mendatar: 4.4g ke samping, ke arah pusatnya.
16. Tak lolos: 7.4g di dasarnya (puncak dan sampingnya baik-baik saja).
17. Berat semunya nol di puncaknya: vpuncak2=gR; lalu v02=gR+4gR=5gR, aN=5g di dasarnya dan bebannya 5g+g=6g, bebas dari R.
18.aN=v2/ρ: v ditetapkan oleh ketinggiannya (energi), ρ oleh geometri lintasannya; ρ yang berbeda pada ketinggian yang sama mengubah aN saja.
21.aN=v2/ρ=v2s/A2=v3t/A2: ia tumbuh linear dari nol — laju perubahan percepatan yang tetap — alih-alih melompat dari 0 ke v2/R di jalan masuk sebuah lingkaran, yang dirasakan leher sebagai sebuah pukulan.
22. Sebuah tetes air mata: lebar dan melengkung landai di dasarnya tempat keretanya cepat, sempit di puncaknya tempat ia lambat. Ia menjaga bebannya di dekat 3g di sepanjangnya dan mendatangkannya secara berangsur.
23. Garis pandangnya: jarak mendatar 50m, tinggi 20m: r=53.9m, sudut ketinggiannya β=21.8∘. Komponen melintang kecepatan mendatarnya adalah vsinβ=15×0.371=5.6m/s; θ˙=5.6/53.9=0.10rad/s.
24. Dilihat dari titik yang tak sepusat, laju sudut garis pandangnya tidak tetap (cepat ketika keretanya dekat, lambat ketika jauh): kamera berlaju tetap akan hanyut meninggalkan keretanya.
25.Koordinat polar di C untuk kecepatan dan percepatan pada lingkarannya; pemisahan Frenet untuk “mempercepat” lawan “berbelok” dan untuk klotoidnya; koordinat polar di kameranya untuk laju pengikutannya; energi (bab berikutnya) untuk hukum kelajuannya.